Loading...
MEDIA
Penulis: Francisca Christy Rosana 15:28 WIB | Sabtu, 18 Oktober 2014

Meneropong Keberagaman Agama Lewat Media

(Dari kiri) Lusiana Indriasari (moderator), Yosep Adi P, Masruchah, Endy Bayuni saat mengisi acara Freedom Week: Photo Exhibition & Book Launch yang diselenggarakan oleh Friedrich Naumann Stiftung fur die Freiheit (FNF) bekerja sama dengan Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (Sejuk) di FX Sudirman, Jakarta pada Jumat (17/10). (Foto: Francisca Christy Rosana)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Meneropong keberagaman agama melalui jurnalisme agama adalah praktik-praktik terbaik jurnalistik dalam meliput kehidupan beragama. Melihat peluang itu, Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (Sejuk) menerbitkan buku Mewartakan Agama: Panduan Peliputan Terbaik di FX Sudirman, Jakarta pada Jumat (17/10) bersamaan dengan acara Freedom Week: Photo Exhibition & Book Launch yang diselenggarakan bekerja sama dengan Friedrich Naumann Stiftung fur die Freiheit (FNF).

Founder Sejuk Ahmad Junaedi mengatakan keprihatinanannya saat melihat tayangan-tayangan yang menyudutkan kelompok-kelompok tertentu. Untuk itu, Sejuk berinisiatif untuk menghasilkan suatu karya agar media tidak lagi mendiskreditkan kelompok tertentu. Pada dasarnya, Sejuk selalu mengusung masalah-masalah yang selalu luput dari perspektif jurnalis, seperti toleransi beragama; lesbian, gay, biseksual, dan transeksual (LGBT); dan etnisitas yang dibingkai dalam kerangka hak asasi manusia (HAM).

Sementara itu, peluncuran buku yang dikreatori oleh Sejuk kali ini menurut Endy Bayuni, senior editor The Jakarta Post sekaligus anggota Asosiasi Wartawan Agama Internasional adalah langkah awal agar jurnalis dapat meliput keberagaman agama dengan baik.

“Buku tersebut diharapkan tidak hanya digunakan oleh wartawan yang meliput keberagaman, tapi juga digunakan untuk pemimpin redaksi agar media dapat menulis dengan lebih baik. Ini adalah pedoman yang sangat baik, menulis dengan baik, tanpa menimbulkan konflik setelahnya,” ujar Endy.

Melihat konflik-konflik agama yang menyeruak saat ini, sangat disayangkan media-media .mainstream di Indonesia justru cenderung mensekulerisasikan berita-berita mengenai agama karena dianggap terlalu sulit, ruwet, dan kompleks, padahal masyarakat Indonesia bukan masyarakat yang sekuler. Budaya yang diciptakan media .mainstream .saat ini, persoalan agama justru sering dihindari..

“Negara boleh sekuler, tapi masyarakat tidak sekuler,” kata Endy.

.Hal yang dikhawatirkan dengan situasi ini, justru media-media propaganda yang terkadang memprovokasi masyarakat bermunculan ke permukaan. Untuk itu, Endy berharap agar masyarakat tidak terjebak dengan laman-laman yang menyebarkan kebencian..

.Menanggapi hal tersebut, Masruchah, Komisioner Komnas Perempuan menyampaikan jika ada liputan tentang isu-isu agama, ia mengimbau agar jurnalis tidak hanya mengambil satu pandangan..

“Jadi ada pembanding, agar masyarakat bisa menyimpulkan sendiri,” ujarnya.

Masruchah juga menyatakan idealnya seluruh wartawan paham visi-misi dari berbagai agama.

.Terkait pemberitaan yang tidak berimbang di media, Yosep Adi Prasetyo anggota Dewan Pers mengatakan pada 2013 Dewan Pers telah menerima 780 pengaduan dari masyarakat perihal pelanggaran kode etik dan ketidakjelasan narasumber yang mengarah pada pemberitaan yang tidak berimbang..

.Pemberitaan yang dinilai cukup menimbulkan kontroversi ini memang sering diangkat untuk kepentingan-kepentingan yang komersial. Untuk itu, pers harus mendidik pembacanya. “Jangan malah terlarut dengan keinginan pembacanya,” ujarnya. .

Editor : Sotyati


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home