Loading...
INSPIRASI
Penulis: Julianus Mojau 16:21 WIB | Minggu, 03 November 2019

Mengalami Kedahsyatan Kasih Allah

Allah Semesta (foto: istimewa)

SATUHARAPAN.COM – Dalam Mazmur 66 ayat 1-2 kita membaca pemazmur mendaraskan mazmur pastoralnya dalam hubungan dengan kemuliaan nama Allah. Kata dia: ”Bersorak-soraklah bagi Allah, hai seluruh bumi, mazmurkanlah kemuliaan nama-Nya,  muliakanlah Dia dengan puji-pujian.”

Sejatinya, kemuliaan nama Allah itu sangatlah terkait dengan kedahsyaratan karya-Nya. Selanjutnya, pemazmur mendaraskan mazmurnya sebagai berikut:  ”Katakanlah kepada Allah: ’Betapa dahsyatnya segala pekerjaan-Mu; oleh sebab kekuatan-Mu yang besar musuh-Mu tunduk menjilat kepada-Mu. Seluruh bumi sujud menyembah kepada-Mu dan bermazmur bagi-Mu, memazmurkan nama-Mu.’”

Kedahsyataan karya-Nya dalam pengertian apa? Kedahsyataan karya-Nya yang menciptakan dan memulihkan kehidupan manusia dan alam semesta. Karya tentang kehidupan! (ayat 5-9). 

Kiranya jelas, kedahsyataan kuasa Allah itu sangatlah terkait dengan kuasa karya untuk kehidupan. Bagi pemazmur  kedahsyataan kuasa Allah tidak dapat dilepaskan dari kasih-Nya. Di sini kita diajak menerungkan perbedaan kuasa Allah dari kuasa manusia. Apalagi di tengah-tengah tak jarang kekuasaan disalahgunakan.

Kedahsyatan kasih-Nya itulah yang membedakan kuasa Allah dari kuasa-kuasa lain. Dalam kasih-Nya kita menemukan nama Allah, yaitu: Allah kehidupan! Kita memuliakan nama-Nya karena di dalam kedahsyataan kasih-Nya itu nyata kehidupan dan martabat manusia dimuliakan. Kemuliaan nama-Nya terletak pada kedahsyatan kasih-Nya memuliakan martabat manusia (ayat 9-12).

Apakah kita sekarang ini pun masih merasakan kedahsyataan kuasa Allah? Apalagi di tengah-tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sekarang ini yang telah menciptakan berbagai bentuk efisiensi  kehidupan? Misalnya: pesan makan hanya dengan online?

Dalam konteks seperti ini apakah kita masih membutuhkan kuasa kasih Allah yang menyelamatkan itu? Itulah tantangan yang sedang kita hadapi dewasa ini!  Dihadapkan pada tantangan seperti penyalahgunaan kekuasaan dan melebih-lebihkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kita patut belajar dari mazmur 66, kedahsyatan kasih Allah adalah kasih yang mengorientasikan kehidupan manusia agar hidup secara bermartabat. Kasih yang teralami sebagai kasih yang mengemansipasi manusia—kasih yang membesarkan hati manusia—kasih yang mencerahkan manusia, sehingga dapat membedakan perbedaan kuasa dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam terang itulah segala bentuk kuasa diuji: apakah kuasa-kuasa itu lahir dari kedahsyatan kasih untuk memuliakan martabat manusa? Ataukah kuasa itu—yang juga maujud dalam berbagai bentuk pelayanan-kasih filantropi—hanya untuk memanipulasi kesadaran kritis sesama manusia agar tetap menguasai mereka?

Inilah tantangan umat beriman di Indonesia sekarang ini—apa pun agamanya. Apalagi kemiskinan dan kekerasaan masih sering menjadi kisah kehidupan sosial keindonesiaan kita!

Editor : Yoel M Indrasmoro


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home