Google+
Loading...
ANALISIS
Penulis: Sabar Subekti 19:55 WIB | Kamis, 09 Januari 2020

Mengapa Irak Jadi Medan Pertempuran AS dan Iran?

Milisi Syiah di Irak berdemo mengepung kedubes AS di Baghdad, Selasa (31/12). (foto: dok. dari Reuters)

SATUHARAPAN.COM-Konflik antara Amerika Serikat dan Iran, apakah akan berkembang menjadi perang dengan mengerahkan kekuatan militer atau perang dengan menggunakan senjata “sanksi ekonomi dan keuangan,” tampaknya Irak akan menjadi “medan pertempuran” dari “perang” itu yang tingkat kemungkinannya untuk meletus makin besar.

Banyak analisis yang telah memprediksi “perang” antara AS dan Iran akan terjadi, terutama sejak runtuhnya perjanjian nuklir Iran, dengan AS menarik diri dari kesepakatan itu tahun lalu kemudian menjatuhkan sejumlah sanksi ekonomi dan keuangan. Kapan itu terjadi, jalan ke sana tampaknya makin terbuka dengan ketegangan yang berkembang dalam dua pekan ini.

Terbunuhnya Mayjend Qassem Soleimani, dan wakil komandan Milisi Syiah di Irak, Abu Mahdi Al-Muhandis, oleh serangan AS di Baghdad, Jumat (3/1) lalu menjadi pemicunya. Peristiwa yang mendahuluinya adalah serangan kelompok milisi Syiah Khataib Hizbullah, pimpinan Muhandis terhadap pangkalan militer Irak di mana pasukan

AS berada dan korbannya adalah kontraktor AS.

Pasukan AS segera membalas dengan menyerang markas Khataib Hizbullah dan 24 milisi terbunuh. Serangan ini memicu protes yang meluas ke kedutaan besar AS di Baghdad, yang berada di zona hijau yang selama ini terlindungi dari protes massa sejak 1 Oktober. Di antara pimpinan massa yang membakar bagian kedutaan AS adalah Muhandis.

Kedatangan Qassem Soleimani yang disambut Muhandis di Baghdad menjadi momen serangan dengan dua sasaran besar sekaligus bagi AS. Soleimani disebut orang kuat kedua setelah Ayatollah Ali Khamenei, dan dia adalah otak gerakan milisi bersenjata Syiah di Irak, Yaman, Suriah dan Lebanon. Bahkan jaringannya diduga sampai ke Amerika Selatan.    

Sejarah Konflik Sektarian

Kembali ke Irak yang diperkirakan akan menjadi medan pertempuran dari “perang” AS-Iran; pertanyaannya adalah mengapa Irak bisa begitu lemah hanya menjadi ajang perang proksi. Irak semakin menderita setalah serangan AS menggulingkan Sadam Hussein tahun 2003, negara kaya minyak itu makin terpuruk, dan tampaknya kesulitan untuk bangkit.

Irak memang menghadapi beban sejarah dengan konflik sektarian; bukan hanya tentang kelompok Syiah di selatan dan Sunni di tengah dan utara, tetapi juga masalah etnis terkait dengan bangsa Kurdi, dan kelompok minoritas lain. Kejatuhan Sadam Hussein memberi peluang bagi Kurdi Irak untuk membangun pemerintahan otonom, dan menjauh dari masalah-masalah internal Irak. Namun kelompok minoritas lain makin menderita.

Masalah Irak bukan hanya mengenai kelompok ISSI yang pernah menguasai hampir sepertiga wilayah Irak, tetapi ini masalahnya lebih dalam. Hal ini terkait dengan ISSI yang dibangun oleh orang-orang Sunni yang tersingkir seiring tersingkirnya Sadam Hussein, dan pemerintahan Irak yang didominasi Syiah, bahkan militer Irak makin didominasi Syiah dengan milisi bersenjata Syiah diintegrasikan ke dalam militer Irak.

Situasi ini menandai bahwa Irak pasca Sadam Hussein masih terjebak pada politik sektarian, bahkan makin dalam. Demokratisasi yang ditawarkan AS tidak serta merta menghilangkan masalah itu. Sebaliknya, situasinya justru makin berat, dan belakangan ini pemerintahan Irak lumpuh dan kehilangan kepercayaan rakyat. Pemerintah baru tidak bisa segera dibentuk, karena politisi Irak terjebak dalam mind set sektarian, bahkan di antara mereka hanya menjadi alat kepentingan asing di Irak. Yang paling menonjol adalah kepentingan Iran, melalui milisi dan politisi Syiah.

Protes rakyat Irak dalam tiga bulan terakhir juga menyuarakan kemarahan mereka pada intervensi Iran dalam pemerintahan dan politik Irak, bahkan ada konsulat jenderal Iran yang dibakar massa yang marah.

Kepentingan AS di Irak juga sudah begitu jelas sejak Sadam Hussein digulingkan, dan sampai sekarang pasukan AS masih berada di Irak. Belum lagi kepentingan Arab Saudi melalui kelompok Sunni dalam persaingan supremasi negara Islam dengan Iran, meskipun hal ini tidak sekentara perang proksi Arab Saudi dan Iran di Yaman.

Intervensi Kepentingan Asing

Politik dan konflik sektarian yang menyejarah di dalam negara Irak membuat negara ini jatuh sebagai medan pertempuran perang proksi negara lain. Irak nasibnya seperti pelanduk yang mati terjepit di tengah perkelahian dua gajah. Bahkan setelah kejatuhan Sadam, dan kemudian ISIS mulai dieliminasi, ada dugaan Irak akan berakhir. Masa depannya Irak yang adalah menjadi tiga negara: wilayah utara untuk Kurdi, wilayah tengah untuk warga Sunni, dan selatan untuk Syiah.

Di utara, Kurdi semakin kuat dengan pemerintahan yang otonom, tetapi di tengah dan selatan situasi terus bergolak, karena pemerintah yang tidak efektif. Jangankan mengatasi konflik sektarian di dalam negeri, pemerintah Irak makin tenggelam dalam pengaruh dan alat kepentingan Iran. Pemerintah tidak bisa menghentikan pengaruh itu, bahkan suara rakyat dalam protes sudah tidak memberi kekuatan untuk melepaskan diri dari Iran.

Situasi ini bisa disandingkan dengan Lebanon, negara lain yang sama-sama menghadapi protes rakyat akibat pemerintah yang tidak efektif di akhir tahun 2019 lalu, dan keduanya menjalankan sistem politik sektarian. Bahkan di kedua negara ini terlihat dengan mencolok adanya kekuatan milisi Syiah bersenjata, yang kehadirannya seperti negara dalam negara.

Milisi Syiah di Lebanon, demikian juga yang di Irak, mereka lebih sebagai kaki tangan kepentingan Iran daripada kepentingan negara dan rakyat mereka sendiri.

Ini terlihat dengan nyata ketika parlemen Irak dengan cepat memutuskan mengusir pasukan asing dari Irak. Suara parlemen tentu didominasi kelompok Syiah, dan penolakan oleh kelompok Sunni dan minoritas lain tidak bisa mencegahnya. Maka muncul pertanyaan bahwa ketegangan ini didesain untuk menjadikan Irak boneka Iran.

Apa kepentingan Iran dengan jaringan milisi Syiah di luar negeri? Banyak pihak menyebut gerakan mereka memudahkan mengidentifikasinya, sebagaimana didesain oleh Soleimani adalah untuk makin dekat ke musuh utama negara itu, Israel, dan menggempurnya.

Iran akan mati-matian mempertahankan kehadirannya di Irak, keberuntungan yang muncul dari jatuhnya Sadam Hussein. Pengusiran pasukan asing adalah “jalan bebas hambatan” bagi Iran mendekati Israel. Iran juga membela Bashar Al-Assad di Suriah dari sekte Syiah, Alawit, yang negaranya strategis berbatasan dengan Israel. Pasukan Iran telah hadir di Suriah dan terus mengancam Israel. Hanya saja, kehadiran militer AS dan kemudian Turki di Suriah utara tidak menyenangkan bagi Iran.

Demikian juga dengan Hizbullah di Lebanon, khususnya di selatan yang berbatasan dengan Israel. Yang menjadi masalah adalah Iran belum bisa leluasa menjangkau Gaza Palestina untuk menggunakan kelompok Hamas untuk kepentingannya dalam menyerang Israel.

Ke Mana Masa Depan Irak?

Irak tampaknya tertindih berat, sehingga tidak mudah untuk bangun dan menolak menjadi ajang pertempuran dalam perang proksi negara lain. Irak membutuhkan terutama kekuatan dari dalam diri bangsa itu sendiri, bukan bantuan negara lain bisa membuatnya makin tergantung dan tertindih.

Kekuatan itu adalah kesatuan sebagai bangsa untuk membangun visi masa depan mereka. Dan kekuatan itu, terutama untuk menyingkirkan konflik dan persaingan sektarian yang menindih mereka. Konflik ini hanya mengaduk-aduk emosional bangsa, tetapi melemahkan rasionalitas.

Irak yang terpecah-pecah, makin lemah dan makin mudah dipakai oleh kepentingan luar, dan hanya menjadi boneka. Tapi, mungkinkan orang Irak, mereka dari kelompok Sunni, Syiah, Kurdi, Kristen, Yazidi, dan kelompok lain bersatu untuk Irak?

Irak adalah salah satu kisah tragedi di abad ke-20 dan awal abad ke-21. Irak adalah negara kaya minyak yang dirundung penderitaan, dan rakyatnya lari ke negara lain mencari penghidupan baru, karena di negerinya kehidupan terancam. Irak bahkan gagal mengelola kekayaan alam untuk membangun kesejahteraan, karena konflik sektarian. Pada masa lalu, Irak adalah wilayah yang memiliki peradaban manusia yang maju dibanding wilayah lain di dunia, tetapi sekarang Irak banyak memberikan kisah tragedi bagi dunia.

Editor : Sabar Subekti

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home