Google+
Loading...
OPINI
Penulis: Neles Tebay 14:24 WIB | Kamis, 16 November 2017

Mengatasi Penembakan di Tembagapura

ABEPURA, SATUHARAPAN.COM - Penembakan di Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua, yang dimulai sejak 21/10 masih berlangsung hingga kini dan korban pun terus berjatuhan. Tercatat 12 korban luka dan dua tewas akibat penembakan. Menurut keterangan Kapolda Papua, Irjen Pol Boy Rafli Amar, aksi-aksi penembakan tersebut dilakukan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang dipimpin Sabinus Waker. Tampaknya aksi penembakan di Tembagapura akan terus berlangsung. Pertanyaannya adalah: Bagaimana KKB dan aksi penembakannya di Tembagapura dapat diatasi?

Menghadapi penembakan dari KKB, Polda Papua  mendatangkan Satu Satuan Setingkat Kompi (SSK) Brimob dari Palangkaraya, Kalimantan Tengah, untuk membantu pengamanan areal PT Freeport . Selain itu, satu SSK Brimob berjumlah  100 personel  dari Kelapa Dua, Jakarta, juga diterbangkan ke Timika. Polisi meminta bantuan juga dari TNI, sehingga 3 SSK anggota TNI sekitar 300 personel sudah disiapkan. Menurut keterangan Kapolda Papua, 4 SSK yang terdiri dari 1 SSK Brimob dan 3 SSK personel TNI sudah dikerahkan ke Tembagapura untuk mengejar  KKB yang melakukan penembakan akhir-akhir ini (Antara, 6/11, 2017). Kapolda mengumumkan bahwa  21 anggota KKB sudah masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO). Kapolda Papua juga menerbitkan maklumat (12/11) yang meminta KKB untuk meletakkan senjatanya dan menyerahkan diri. Sekalipun polisi telah mengambil langkah-langkah seperti di atas, KKB terus melanjutkan aksi penembakannya.
 
Bukan Kelompok Kriminal

Sebelum mengambil langkah untuk mengatasi KKB dan menghentikan aksi penembakannya, diperlukan suatu pemahaman yang benar tentang keberadaan KKB tersebut. Pemahaman yang benar akan membantu mengerti kedudukan dari KKB, mengapa Brimob menjadi sasaran penembakan KKB, dan motif yang mendasari penembakannya. Pemahaman yang benar dapat melahirkan solusi yang tepat. Sedangkan pemahaman yang keliru akan menghasilkan solusi yang tidak tepat sehingga penembakan akan terus terjadi, bukan hanya di Tembagapura tetapi juga di daerah-daerah lain di tanah Papua. 

Istilah KKB diperkenalkan pihak kepolisian Papua setelah Undang-Undang nomor 21 tahun 2001 tentang Otonomi khusus untuk Provinsi Papua diberlakukan. Sebelumnya, kelompok yang sama pernah disebut Gerakan Pengacau Keamanan (GPK), Gerakan Pengacau Liar (GPL), dan  Kelompok Separatis Bersenjata (KSB) oleh TNI.

Mereka sendiri menyebut kelompoknya sebagai Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPN PB). Mereka bergerilya di hutan belantara Papua. Mereka memperjuangkan kemerdekaan Papua Barat dengan cara melakukan perlawanan secara militer terhadap Negara Indonesia . TPN merupakan sayap militer dari Organisasi Papua Merdeka (OPM). Maka mereka bukan geng kriminal. Mereka mempunyai simbol yakni Bendera Bintang  Kejora, berideologi  Papua Merdeka, dan memperjuangkan pembentukan negara Papua Barat.

OPM mempunyai sayap politik yang kini digerakkan oleh United Liberation Movement for West Papua (ULMWP). Sebagai representasi kelompok resistensi Papua, ULMWP mengkampanyekan masalah Papua diberbagai forum regional dan internasional sehingga semakin banyak orang, lembaga, dan pemerintah di luar negeri  yang membahas tentang masalah Papua.

Dengan demikian, kelompok  Sabinus Waker yang melakukan penembakan di Tembagapura tidak bergerak sendiri dan tidak dapat dipisahkan dari ULMWP. TPN dan ULMWP mempunyai relasi dan tujuan yang satu dan sama. Tujuan melakukan penembakan oleh TPN dan melancarkan diplomasi politik oleh ULMWP adalah untuk membebaskan tanah dan orang Papua  dari penjajahan Indonesia. Keduanya melihat Indonesia sebagai penjajah dan memandang orang Papua sebagai orang yang sedang dijajah.

Maka, menjadi jelas bahwa aksi penembakan  di Tembagapura yang dilakukan oleh TPN tidak terkait dengan pilkada tahun 2018 dan 2019. Penembakan dilakukan bukan untuk mengganggu proses pelaksanaan Pilkada. Juga bukan untuk mendukung calon bupati atau gubernur tertentu. Penembakan di Tembagaura tidak bermotifkan ekonomi karena tuntuan mereka bercorak politis. TPN melancarkan penembakan untuk dekolonisasi.  Maka, adalah suatu kekeliruan apabila TPN yang melakukan penembakan di  Tembagapura disamakan dan diperlakukan seperti kelompok begal, atau kelompok perampok yang adalah kelompok kriminal. Pendekatan seperti ini tidak mampu menghentikan penembakan di Tembagapura.  

Penembakan di Tembagapura memperlihatkan bahwa Brimob, sedang menjadi sasaran penembakan  yang dilakukan TPN.  Sebab,  Brimob dipandang sebagai representasi Negara Indonesia yang, bagi TPN, merupakan penjajah. Dengan menembak anggota  Brimob, TPN memperlihatkan adanya perlawanan terhadap penjajah. Itulah sebabnya, Brimob biasa menjadi korban penembakan  TPN selama ini di tanah Papua. Sebelumnya, dua anggota Brimob tewas ditembak TPN di Ilaga, Kabupaten Puncak (3/12-2014).

TNI dan Polisi dapat saja melakukan Operasi militer gabungan untuk mengejar dan melumpuhkan TPN di Tembagapura. Tetapi suatu operasi militer belum tentu mampu melumpuhkan TPN dan aktivitasnya. Operasi-operasi militer yang dilaksanakan TNI selama ini belum berhasil memberantas separatis Papua.  Buktinya, TPN masih eksis dan melakukan perlawanan hingga kini.  Apabila kelompok Sabinus Waker berhasil dilumpuhkan melalui operasi militer, maka akan muncul kelompok baru yang melakukan perlawanan terhadap penjajahan.
 
Komunikasi Politik

Kalau begitu, untuk mengatasi TPN di Tembagapura dan menghentikan aksi penembakannya, Pemerintah pusat perlu membangun komunikas politik dengan Pimpinan TPN di Papua dan ULMWP yang merupakan representasi  kelompok perlawanan Papua di luar Negeri. Komunikasi politik perlu dimulai untuk mencari solusi bersama tentang bagaimana menghentikan penembakan di Tembagapura dan bagaimana mencegahnya agar penembakan seperti ini tidak terjadi di masa mendatang di tanah Papua. Tanpa adanya solusi bersama, kontak senjata antara TPN Vs Brimob sebagai manifestasi dari konflik vertikal antara Pemerintah Indonesia Vs Gerakan Perlawanan Papua, akan terus berlanjut. Akibatnya, bukan hanya korban yang terus berjatuhan, tetapi juga masalah Papua dapat berkembang menjadi  isu internasional.

Neles Tebay adalah dosen STFT Fajar Timur di Abepura

Editor : Eben E. Siadari

Back to Home