Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Reporter Satuharapan 00:31 WIB | Selasa, 06 November 2018

Mengenal Still Photography bersama Sofyan Syamsul

Sofyan Syamsul (kanan) memberi penjelasan tentang Still Photography di Bentara Budaya Bali, Minggu (4/11). (Foto: Bentara Budaya Bali)

GIANYAR, SATUHARAPAN.COM - Sedari tanggal 26 Oktober hingga 5 November 2018, di Bentara Budaya Bali (BBB) Gianyar, Bali dipamerkan foto-foto terpilih dari behind the scene produksi film Sekala Niskala (Seen and Unseen), karya sutradara Kamila Andini. Dihadirkan dalam visual hitam putih, foto-foto karya fotografer Sofyan Syamsul ini bukan saja merekam proses di balik layar, namun juga menghadirkan catatan lain di sebalik adegan yang ditampilkan dalam film. 

Sejalan pameran tersebut, pada seri Kelas Kreatif Bentara yang berlangsung Minggu (4/11), Sofyan Syamsul berbagi pemahaman dan pengetahuannya tentang still photography dalam film, juga proses kreatifnya sebagai seorang still photographer. Sebagai fotografer profesional, Sofyan Syamsul telah terlibat sebagai still photographer dalam berbagai film, di antaranya "Memburu Harimau", "Sepatu Baru", "Ada Apa Dengan Cinta? 2", "Athirah", "Kulari ke Pantai" dan "The Seen and Unseen".

Seorang Still photographer film bertugas mengabadikan momen dan adegan dalam proses produksi film atau mereplika gambar yang bergerak kemudian dihadikan dalam bentuk still photo. Selain peristiwa di depan layar, tidak jarang still photographer juga merekam peristiwa dari balik layar produksi, semisal kru, sutradara, hingga persiapan menjelang pengambilan gambar. 

Sofyan mengungkapkan bahwa Still Photography umumnya diperuntukkan guna pembuatan materi promosi dan komersil sebuah film. Namun, menurutnya terdapat perbedaan mendasar sewaktu ia menjadi still photographer untuk film komersil dengan film-film jenis arthouse, contohnya Sekala Niskala. 

“Kalau dalam film komersil, biasanya sebagai still photographer kita lebih banyak diarahkan sewaktu pengambilan gambar, sebab menyangkut kesan dan pesan apa yang ingin ditampilkan lewat still photo film itu nantinya. Tapi, kalau untuk film-film arthouse, seperti Sekala Niskala misalnya, sebagai fotografer kita justru diberikan kebebasan seluasnya untuk menginterpretasi naskah film dalam bahasa visual kita sendiri,” terangnya. 

Ia juga menegaskan bahwa kini seorang fotografer, apalagi yang pemula, harus belajar dan menguasai berbagai teknik fotografi. “Jangan hanya terjebak atau terbatas pada satu jenis fotografi saja”. 

Dijelaskannya, di tengah berbagai kemudahan dan persaingan industri seperti saat ini, justru seorang kreator, khususnya fotografer, harus menguasai berbagai bidang dan tidak lagi terkotak-kotak dalam genre tertentu saja. Seluruh ilmu atau pengetahuan teknis tentang fotografi nantinya akan dapat diaplikasikan dalam bentuk pekerjaan apapun serta menunjang proses kreatif berkarya. Misalnya, dalam still photography tidak hanya terdapat satu teknik fotografi, tapi bisa jadi gabungan dari berbagai teknik, seperti documentary, fashion, potrait, dan lain-lain. 

“Dalam memotret kita pasti akan menggunakan berbagai teknik yang kita ketahui, tidak hanya satu. Semua bertujuan untuk menyampaikan pesan kepada publik melalui gambar yang kita hasilkan. Kemudian, apakah sebuah foto bisa dikatakan baik atau tidak, tergantung apakah foto tersebut ‘berhasil’ menyampaikan ‘pesan’ yang kita maksudkan atau tidak. Contohnya foto-foto dari film Sekala Niskala yang dipamerkan saat ini. Ketika karya itu hadir ke publik, saya sebagai fotografer sudah mati. Selanjutnya adalah tugas publik untuk menilai foto-foto tersebut,” kata Sofyan. 

Tidak saja berbagi teori dan pengalaman, Sofyan juga mengajak peserta mengobservasi langsung karya-karya fotonya yang dipamerkan di BBB. Selain menjelaskan proses dan cerita dari masing-masing foto, Sofyan pun membuka ruang diskusi perihal karya bersama hadirin yang terlibat.

Sofyan menambahkan pula bahwa selain teknik, penting untuk seorang fotografer mempelajari komposisi agar dapat menghasilkan karya yang baik. Komposisi dipelajari tidak saja secara teori atau sebatas melihat karya fotografi, namun juga melalui menyaksikan lukisan yang bagus, menonton film, juga membaca buku-buku sastra. Sehingga selera artistik sebagai kreator akan terbentuk. 

Upaya menumbuhkan kreativitas yang lintas bidang dan lintas batas tersebut selaras visi Kelas Kreatif Bentara yang telah diselenggarakan sedari tahun 2012. Program yang diniatkan untuk memberikan transfer of knowledge bagi publik luas ini dirancang berkala dan berkelanjutan. Berbagai bidang workshop yang pernah dihadirkan antara lain: jurnalistik, fotografi, film, teater, dan lain-lain. (PR

 

Back to Home