Google+
Loading...
FOTO
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 07:00 WIB | Selasa, 08 Agustus 2017

Mengenal Teknik Cetak Grafis: Cetak Datar

Mengenal Teknik Cetak Grafis: Cetak Datar
Karya berjudul "Kota yang Menjerit" dengan teknik photolithografi karya Aliem Bakhtiar dalam workshop seni grafis pada Pekan Seni Grafis Jogja 2017 di Jogja National Museum, 19-23 Juli 2017. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
Mengenal Teknik Cetak Grafis: Cetak Datar
Workshop seni grafis dengan teknik allugrafi diawali dengan menghalus-ratakan plat alluminium hingga berwarna abu-abu rata.
Mengenal Teknik Cetak Grafis: Cetak Datar
Penggambaran dengan pensil di atas plat alluminium.
Mengenal Teknik Cetak Grafis: Cetak Datar
Rully Putra Adi dari Studio Grafis Minggiran menyemprotkan cairan GOM untuk melapisi alluminium yang sudah bergambar desain.
Mengenal Teknik Cetak Grafis: Cetak Datar
Pembersihan dengan air pada plat alluminium yang sudah dilapisi GOM, setelah dikeringkan plat alluminum dengan gambar siap dicetak.
Mengenal Teknik Cetak Grafis: Cetak Datar
Hasil pencetakan dengan teknik allugrafi menggunakan alat cetak-press.
Mengenal Teknik Cetak Grafis: Cetak Datar
Teknik photolithografi diawali dengan pembuatan desain pada selembar plastik transparan, dilanjutkan dengan penyinaran dengan menggunakan alat berkuatan lampu 1.000 watt.
Mengenal Teknik Cetak Grafis: Cetak Datar
Penyinaran lempengan film alluminium dengan desain gambar di atasnya.
Mengenal Teknik Cetak Grafis: Cetak Datar
Plat klise yang sudah disinari dilarutkan dalam pengembang agar desainnya muncul.
Mengenal Teknik Cetak Grafis: Cetak Datar
Plat klise yang sudah dicelup dalam larutan pengembang selanjutnya dibersihkan dengan air dan dikeringkan.
Mengenal Teknik Cetak Grafis: Cetak Datar
Untuk menghilangkan bagian yang tidak sesuai dengan desain yang diinginkan digunakan cairan removal.
Mengenal Teknik Cetak Grafis: Cetak Datar
Sebelum dilapisi dengan cat, plat yang sudah jadi dibersihkan dengan menggunakan pembersih plat (cleaner plate)
Mengenal Teknik Cetak Grafis: Cetak Datar
Setelah plat dibersihkan, dilapisi dengan cat minyak dengan bantuan air agar dapat menempel di plat klise.
Mengenal Teknik Cetak Grafis: Cetak Datar
Plat klise yang sudah rata terlapisi cat berbasis minyak siap untuk dicetak.
Mengenal Teknik Cetak Grafis: Cetak Datar
Hasil pencetakan dari klise plat dari teknik photolithografi pada alat press.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Pada workshop seni grafis Pekan Seni Grafis Jogja (PSGJ) 2017 yang berlangsung  19-23 Juli 2017 di Jogja National Museum salah satunya adalah teknik cetak datar (planography print).

Teknik cetak datar ditemukan pada abad ke-16 di Eropa dengan plat klise cetak menggunakan batu cadas (limestone). Jenis batuan ini hanya ditemukan di Bavaria, Jerman dengan karakteristik pori-pori yang mampu menyerap-memisahkan antara air dan minyak dalam waktu bersamaan. Dari batuan jenis limestone itulah pertama kali cetak datar berkembang dengan teknik cetak ilthografi.

"Perkembangan seni grafis lithografi sendiri sudah tidak banyak peminatnya. Kalah dengan teknik yang lainnya. Meski begitu di Jerman masih ada yang menyediakan peralatan cetak litho hingga persewaan studio. Saat ini batu litho sendiri di Jerman sudah menjadi barang antik. Batu litho kuno yang masih ada gambar/desainnya justru dijual lebih mahal dan menjadi koleksi tersendiri bagi kolektor," kata Sri Maryanto.

Stone lithography memerlukan batuan dengan tingkat sensitivitas khusus mengingat dalam pencetakan karya grafisnya memerlukan unsur air dan minyak (cat) yang keduanya tidak bisa dicampurkan. Stone lithography adalah teknik pencetakan kuno sebelum ditemukan alumnium pengganti batu sebagai plat cetaknya. Di Jerman, jenis batuan ini hanya ditemukan dan ditambang di Bavaria. Sebuah batu litho ukuran 30 cm x 40 cm dijual sekitar 100 Euro.

"Seni grafis lithografi (stone lithography) tidak banyak berkembang di Indonesia. Kendala material batu sebagai media cetak yang tidak ditemukan di Indonesia membuat seni cetak yang cukup tua ini hanya bisa dipelajari secara teori oleh seniman/perupa Indonesia," kata perupa grafis Syahrizal Pahlevi kepada satuharapan.com Sabtu (13/5) saat membuka pameran lithografi karya Sri Maryanto di Bentara Budaya Yogyakarta.

Lebih lanjut Pahlevi menjelaskan bahwa satu-satunya media belajar seni grafis lithografi ada di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB, Bandung sisa-sisa dari peninggalan seniman-dosen Belanda pada masa lalu. Jika ingin belajar biasanya seniman/perupa berangkat ke Jerman yang masih banyak ditemukan batu-batuan yang cocok. Sri Maryanto salah satunya.

"Sekiranya pemerintah (dalam hal ini salah satunya melalui Dinas Kebudayaan DI Yogyakarta) mau mendatangkan batu litho tersebut dari Bavaria, tentu masyarakat seni grafis di Yogyakarta bisa mempelajari teknik lithografi sebagai salah satu khasanah teknik cetak grafis secara langsung. Bukan hanya mendengar cerita atau belajar pada teorinya saja." jelas Bambang 'Toko' Witjaksono saat jumpa pers Pekan Seni Grafis Jogja 2017, Senin (17/7).

Dalam perkembangan teknik cetak datar, Jerman menjadi salah satu negara pengembang teknik tersebut dimana salah satu raksasa dunia percetakan Heidelberg hingga saat ini masih menjadi salah satu pemain penting bagi perkembangan dunia percetakan yang menggunakan teknik cetak datar. Tantangan terbesar dunia percetakan konvensional yang masih mempertahankan teknik cetak datar adalah perkembangan digital printing, meskipun untuk pencetakan dalam jumlah besar cetak datar dengan metode offset masih lebih murah dibanding digital printing.

Disebut cetak datar atau planography print karena bagian BTM (bagian tidak mencetak) memiliki tinggi yang sama dengan BM (bagian mencetak). Sederhananya, klisenya yang permukaannya berupa bidang datar dengan prinsip saling menolak dan menerima antara tinta (minyak) dan air.

Setelah lithografi, cetak datar semakin berkembang dengan ditemukannya plat klise dari bahan logam yang mudah didapatkan. Dalam dunia industri, kebutuhan tersebut mendorong penelitian hingga ditemukan plat aluminium hingga paper-plate sebagai plat untuk mencetak.

Workshop seni grafis yang diselenggarakan pada PSGJ 2017 menarik banyak minat tidak hanya pelajar maupun masyarakat umum. Beberapa diantaranya datang dari perupa yang ingin mempelajari teknik-teknik yang ada. Aliem Bakhtiar salah satunya. Pelukis yang sering juga membuat karya seni grafis dengan teknik dry point, pada workshop secara khusus mempelajari teknik photolithografi.

"Menambah pengetahuan tentang teknik grafis, yang ternyata berkembang cukup pesat dengan memanfaatkan teknologi, bahan, maupun metode yang sederhana. Beberapa karya saya selama ini lebih banyak lebih banyak dengan teknik dry point." kata Aliem Bakhtiar kepada satuharapan.com di sela-sela acara workshop yang diikuitinya Jumat (21/7).

Photolithografi, membuat plat cetak semudah mem-fotocopy

"Prinsip fotolithografi itu sama dengan lithografi, dimana plat yang menangkap (cat) minyak dan yang tidak menangkap (cat) minyak sama datarnya." kata Husin dari Tori Triastama studio kepada satuharapan.com, Jumat (21/7) siang saat memberikan materi tekni cetak fotolithografi di PSGJ 2017.

Bahan yang diperlukan adalah lempengan plat aluminium yang sudah terlapisi dengan lapisan peka/sensitif cahaya. Dengan desain yang dibuat pada selembar plastik transparan, desain tersebut dengan mudah dipindahkan ke plat dengan menggunakan sebuah alat penyinar dengan kekuatan 1.000 watt.

"Selain kekuatan sinar, kunci alat penyinar tersebut adalah adanya alat vakuum di bawah plat yang disinari sehingga plat tersebut menjadi rata saat disinari untuk meminimalkan adanya bayangan saat disinari." jelas Husin.

Dengan kekuatan sinar tersebut, desain pada selembar plastik transparan dipindahkan pada plat peka cahaya dalam waktu sekitar 1,5 menit.

"Semudah itu. Kita tinggal mengembangkan kreasi pada desain. Urusan transfer pada plat, serahkan saja pada alat penyinar (exposure)." kata Husin.

Setelah dilakukan penyinaran, plat cetak direndam dalam cairan pengembangan film (developer) yang sudah ditambah dengan air dalam perbandingan 1 bagian larutan pengembang : 10-12 bagian air. Saat terkena larutan pengembang, plat cetak yang terkena penyinaran akan larut dalam larutan pengembang, sementara yang tertutupi desain akan tetap ada pada plat cetak. Bagian yang tidak larut itulah nantinya yang akan mengikat cat/tinta berbasis minyak.

Setelah pelarutan dengan pengembang, plat cetak dicuci dengan air dan dikeringkan. Selanjutnya plat cetak tersebut dibersihkan dengan menggunakan pembersih plat (cleaner plate) agar bisa dilapisi cat/tinta.

Setelah merapikan tepi plat cetak, plat bisa dilapisi dengan tinta dibantu air dengan menggunakan roll. Cat/tinta akan menempel pada bagian plat yang ditutupi sinar saat penyinaran, sementara pada bagian yang terkena sinar cat/tinta tidak akan menempel.

Setelah cat/tinta menempel dengan rata, desain siap dicetak pada media cetak dengan menggunakan alat cetak-press. Sebelum dicetak, media cetak dalam kondisi lembab/basah. Ini menjadi prinsip dasar cetak datar, dimana air dan minyak tidak bisa bercampur.

Allugrafi, menyiasati ketiadaan limestone

"Teknik ini mulai dikembangkan teman-teman di Grafis Minggiran sekitar 5-6 tahunan. Waktu itu kita mendapat info tentang eksperimen teman-teman pegrafis dari luar negeri yang mencoba plat aluminium untuk menggantikan limestone dalam teknik lithografi." jelas Rully Putra Adi kepada satuharapan.com Jumat (21/7) siang saat memberikan materi teknik cetak fotolithografi di PSGJ 2017.

Dengan menggunakan teknik allugrafi, ketiadaan batu litho bisa tergantikan dengan material plat/lempengan aluminium yang relatif mudah didapatkan. Dalam pembuatan desain pun bisa dilakukan langsung di atas plat aluminium yang sudah dihalus-ratakan terlebih dahulu dengan menggunakan amplas. Desain bisa langsung digambarkan dengan menggunakan pensil ataupun alat tulis lainnya.

"Hasilnya cukup detail. Jika telaten bisa mendekati hasil lithografi. Tidak perlu melakukan penggoresan ataupun penyinaran dan pengembangan. Setelah desain gambar selesai, seluruh lapisan plat cetak dilapisi dengan cairan GOM secara merata, tunggu sejenak setelah itu bersihkan dengan air. Keringkan, dan plat cetak siap untuk digunakan." kata Rully.

Diantara teknik cetak datar, allugrafi bisa dikatakan teknik cetak datar yang paling sederhana, terlebih ketika membandingkan dengan teknik lithografi yang memerlukan ketelitian dalam menyiapkan bidang cetak agar benar-benar rata.

Grafis Minggiran, ruang eksperimen seni grafis Yogyakarta

Di antara studio grafis di Yogyakarta, Studio Grafis Minggiran yang beralamat di Jalan Gedongkiwo MJ I/1001, Gedongkiwo, Mantrijeron-Yogyakarta bisa dikatakan studio seni grafis yang lengkap. Komunitas yang berdiri tahun 2000-an awal setiap anggotanya memiliki keahlian spesifik pada teknik yang diminatinya memiliki kekuatan pada masing-masing tekniknya. Semisal Rully dengan teknik etsa aqua-tint, Danang Hadi "Tape" dengan drypoint, Petru Wicaksana dengan , Deni Rahman dengan intaglio-nya, ataupun Theresia Agustina Sitompul dengan tekni carbon-nya.

"Di Grafis Minggiran, setiap anggota selalu bereksperimen sesuai minat dan keahliannya. Setiap dari kami mempunyai bilik sendiri-sendiri untuk memajang karya kami masing-masing. Mirip penjara." kelakar Tere, panggilan Theresia Agustina Sitompul.

Karya-karya seni grafis yang dihasilkan anggota Grafis Minggiran banyak berawal dari eksperimen sederhana. Tere misalnya dengan karya carbon print yang merupakan karya tugas akhirnya saat studi di ISI Yogyakarta membuat karya terinspirasi dari kertas karbon yang biasa digunakan untuk mengetik yang bisa menggandakan hasil ketikan. Dengan bantuan garis untuk menggambar pemandangan atau sketsa gambar lainnya, Tere mengisi bagian-bagian kosong dalam karya grafisnya dengan melapisi kertas karbon dan benda yang ingin dicetak di atas karya grafisnya. Dengan bantuan tekanan pada benda yang sudah terlapisi kertas karbon, moti bahkan bentuk benda tersebut pun bisa ditransfer/dipindahkan ke dalam karya garfisnya. Sebuah karya grafis berjudul "Artificial View" dalam ukuran 112 c, x 150 karya Tere dengan teknik carbon print turut dipamerkan dalam pameran Pekan Seni Grafis Jogja 2017 di Jogja National Museum, 18-31 Juli 2017.

Dalam perkembangannya, Studio Grafis Minggiran menjadi ruang kerja kreatif yang dapat diakses oleh siapapun yang berminat untuk memfasilitasi wacana atau praktik pembuatan grafis di Indonesia. Dalam rentang usianya Studio Grafis Minggiran menjadi pusat informasi dan dokumentasi penting bagi perkembangan dan pengembangan graph-making di Indonesia.

Editor : Eben E. Siadari

Back to Home