Google+
Loading...
OPINI
Penulis: Iyun Anomsari Antonio 16:33 WIB | Senin, 28 Oktober 2019

Menggalakkan Bulan Bahasa

Bulan Bahasa belum mendapat tempat istimewa, bahkan sering diabaikan, dalam masyarakat kita.

SATUHARAPAN.COM – Oktober biasa diperingati sebagai Bulan Bahasa. Berkait bahasa, Indonesia sedikitnya memiliki 442 bahasa daerah dan dialek. Keragaman bahasa itulah yang  meniscayakan Bahasa Indonesia tak hanya menjadi alat komunikasi, melainkan juga—dan ini yang terutama—alat pemersatu bangsa.

Berbicara Bahasa Indonesia, umumnya orang akan langsung tertuju pada sastra Indonesia. Itu merupakan hal lumrah karena sastra mengandung nilai-nilai luhur budaya yang pada gilirannya dapat meningkatkan peradaban suatu masyarakat.

Dengan Bulan Bahasa diharapkan semua lapisan masyarakat menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik, meski peran bahasa daerah tetap tidak boleh ditinggalkan. Bagaimanapun bahasa daerah merupakan pembentuk nilai-nilai keindonesiaan.

 

Situasi Bahasa Nasional

Jika kita tengok sejarah sebelum tahun 1928, belum ada pernyataan tentang bahasa nasional. Pembicaraan dalam rapat-rapat persiapan kemerdekaan masih menggunakan bahasa daerah atau Belanda.

Koran masih jarang dan terbatas. Radio masih jadi barang mahal. Karena itu, kesepakatan para pemuda yang bersumpah menjunjung Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan pada 28 Oktober 1928 merupakan tindakan brilian.

Setelah 74 tahun merdeka, situasinya menjadi berbeda. Bahasa daerah makin jarang digunakan, namun Bahasa Indonesia juga tak lagi sendirian menjadi alat komunikasi. Generasi muda bisa jadi merasa lebih nyaman menggunakan bahasa asing, atau bahasa gado-gado—Indonesia yang bercampur dengan bahasa asing di sana sini. Yang sekarang sedang naik daun adalah Bahasa Korea, seiring dengan wabah K-Pop yang melanda generasi muda kita.

Tak hanya generasi muda sebenarnya. Para pejabat publik pun sering kali tak taat asas dalam mengunakan bahasa nasional. Mereka agaknya lebih percaya diri jika menyelipkan bahasa asing dalam tuturan.

 

Kegiatan di Bulan Bahasa

Bulan Bahasa sejatinya dapat menjadi salah satu wahana dalam menumbuhkan rasa bangga masyarakat. Di beberapa kampus dan sekolah, Bulan Bahasa diperingati dengan berbagai aktivitas, baik itu lomba menulis puisi, lomba membaca puisi, menulis cerpen.

Dalam lomba ini pembacaan puisi diiringi oleh berbagai jenis tetabuhan musik baik modern maupun tradisional. Bahkan, musik kontemporer dari berbagai benda di sekitar kita, seperti kaleng, sendok, galon kemasan air, botol dan sebagainya.

Kelihatannya, aktivitas kebahasaan macam begini lebih menarik minat generasi milenial. Kaum muda sering menganggap bahwa membaca puisi itu terkesan kuno. Kegiatan yang terasa kuno ini, setelah diberi sentuhan dengan tambahan lantunan berbagai alat musik, akan terasa berbeda. Kesan etnik akan terasa jika jenis alat musiknya adalah gamelan Jawa atau gamelan Bali atau bisa juga dengan iringan musik jazz.

Jika ingin bekerja sama dengan institusi dan organisasi lain, panitia bisa juga mengadakan kegiatan resensi buku, bedah buku, bahkan pameran buku. Seluruh kegiatan ini bisa diselenggarakan tanpa mengeluarkan banyak biaya karena sifatnya promosi bersama. Kegiatan bedah buku dapat menolong peserta memahami isi buku yang dibahas dengan lebih detail, tepat, dan kritis.

Tak hanya kampus dan sekolah. Organisasi remaja maupun pemuda juga bisa mengisi Bulan Bahasa ini dengan kegiataan kebahasaan. Tujuannya adalah agar generasi muda semakin bangga terhadap bahasanya sendiri.

Memang Bulan Bahasa belum mendapat tempat istimewa, bahkan sering diabaikan, dalam masyarakat kita. Karena itu, menggalakkannya merupakan panggilan bersama kita.

Editor : Yoel M Indrasmoro

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home