Google+
Loading...
INSPIRASI
Penulis: Yoel M Indrasmoro 07:56 WIB | Sabtu, 11 Januari 2020

Menggenapi Kehendak Allah

Ketika dibaptis Yesus pun menundukkan kepala-Nya.
Yesus dibaptis Yohanes (foto: YouTube)

SATUHARAPAN.COM – Yesaya bernubuat: ”Aku telah menaruh Roh-Ku ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa.” (Yes. 42:1). Tentu, hukum yang dimaksud di sini adalah hukum Allah atau kehendak Allah. Ada kaitan antara Roh Allah dan kehendak Allah. Dan bagi orang Kristen, nubuat itu digenapi dalam diri Yesus orang Nazaret.

Menarik disimak, dalam menjalankan hukum Allah tersebut, hamba Allah itu ”tak akan berteriak atau berseru dengan nyaring, suaranya tak akan terdengar di jalan. Buluh yang terkulai tak akan dipatahkannya, pelita yang kelap-kelip tak akan dipadamkannya. Dengan setia ia akan menyatakan kebenaran, tanpa bimbang atau putus asa, sampai keadilan ditegakkan di bumi” (lih. Yes. 42:2-4, BIMK).

Kerendahan hati merupakan gaya hidup Yesus. Dia tidak merasa perlu berteriak menyerukan kebenaran. Kebanyakan orang, jika merasa diri benar biasanya suaranya akan makin nyaring. Dan kalau enggak ada orang yang memedulikannya malah bertambah nyaring. Sebab dia merasa dirinya benar.

Di rumah Kornelius, Petrus bersaksi bahwa Yesus ”berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis…” (Kis. 10:38). Perbuatan lebih dari sejuta kata. Bahkan ajaran atau nasihat-Nya disampaikan dengan lemah lembut.

Tak hanya itu, Yesus Orang Nazaret juga sabar terhadap kelemahan orang lain. Dia—menggenapi nubuat Yesaya—tidak akan mematahkan buluh yang terkulai dan memadamkan pelita yang kecil nyalanya.  Dan Simon Petrus merupakan sosok yang sungguh merasakan kesabaran Sang Guru. Meski pernah tidak diakui sebagai guru, Yesus tetap menerima Petrus sebagai murid. Dan kesabaran berkait erat dengan kerendahan hati.

Berkait kerendahan hati, Paus Yohanes XXIII pernah berdoa: ”Yesus... dekatkanlah kepalaku dengan hatiku!” Dia agaknya sadar bahwa manusia cenderung mengandalkan ketajaman otaknya, kelogisan berpikirnya, dan kadang tak pakai hati. Semuanya serbarasional. Di sini nalar hati perlu dikembangkan. Kita punya istilah akal budi atau pikiran sehat. Mendekatkan kepada ke hati, Secara harfiah, berarti menunduk.

Ketika dibaptis Yesus pun menundukkan kepala-Nya. Dan semua itu dilakukan hanya dengan satu alasan: menggenapkan kehendak Allah Bapa. Dan usai pembaptisan itu terdengar suara, ”Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Mat. 3:17).

Sewajarnya anak menaati bapaknya. Bagaimana dengan kita?

Editor : Yoel M Indrasmoro

Zuri Hotel
Back to Home