Google+
Loading...
EDITORIAL
Penulis: Redaksi Editorial 18:12 WIB | Sabtu, 29 September 2018

Menjadi Pemilih Skeptik

SATUHARAPAN.COM – Kelompok konsumen yang teliti dan cerdas umumnya disebut sebagai kelompok skeptik. Mereka tidak mudah hanyut oleh promosi dan imiming-iming untuk membeli produk atau jasa yang ditawarkan. Mereka lebih rasional ketika mengambil keputusan, termasuk menolak tawaran.

Kelompok konsumen ini biasanya menentukan lebih dulu spesifikasi produk atau jasa yang sesuai dengan kebutuhan. Kemudian mencari toko mana yang menyediakan barang atau jasa itu, harganya, cara pembayarannya, dan juga jaminan serta pelayanan purna jual. Setelah menimbang-nimbang, barulah diputuskan untuk membeli.

Menggunakan analogi itu, bisakah dalam pemilihan presiden secara langsung yang keempat ini, bangsa Indonesia bertumbuh dalam kecerdasan berdemokrasi menjadi pemilih yang “skeptik”? Bisakan kita lebih rasional dalam memilih presiden, anggota parlemen, dan senat pada Pemilu 2019 mendatang?

Pemilu mendatang adalah yang keempat kalinya rakyat Indonesia memilih presiden dan wakil presiden secara langsung, dan kelima kalinya memilih parlemen dan senat (MPR) dalam suasana yang lebih demokratis setelah reformasi. Tampaknya ini harus menjadi tantangan untuk makin cerdas dan rasional berdemokrasi.

Pemimpin Yang Dibutuhkan Indonesia

Belakangan memang masih muncul kampanye-kampanye yang hanya mengekploitasi sentimen-sentimen yang berkaitan dengan agama, dan menyebarkan informasi-informasi yang cenderung menyesatkan. Kampanye model ini seperti iklan yang tidak rasional, dan hanya mengekploitasi emosi, tegasnya kampanye murahan.

Bagi “konsumen” tidak cerdas, iklan semacam itu bisa membuat “pembeli” salah medapatkan barang. Dan dalam Pemilu rakyat bisa jatuh pada pilihan figur yang tidak sesuai harapan.  Sebagai pemilih yang skeptik, Rakyat Indonesia harus tegas dengan menentukan pemimpin seperti apa yang dibutuhkan, bukan yang “dirias” dengan kampanye murahan.

Dalam menentukan kriteria, bisa muncul banyak pandangan, namun bangsa kita sudah memiliki panduan, yaitu konstitusi dan dasar negara. Dengan parameter ini, rakyat Indonesia mestinya cukup cerdas untuk menegaskan kriteria pemimpin yang dibutuhkan. Dan setidaknya adalah figur bersikap melindungi setiap warga bangsa tanpa kecuali, setia  mewujudkan keadilan, dan kerja keras utuk kesejahteraan bersama.

Masa Mengambang

Pada masa Orde Baru, pernah disebut istilah “masa mengambang” untuk kelompok yang tidak mengidentifikasi pada partai tertentu. Pemilih skeptik adalah rakyat yang menempatkan diri dalam kelompok ini. Mereka netral dalam konstentasi ini, tetapi aktif mencari informasi yang bisa dipercaya tentang para calon (presiden, DPR, DPRD, dan MPR).

Rakyat sebagai pemilih “skeptik” tidak perlu ikut-ikutan menyebarkan materi “kampanye” yang disodorkan pada mereka. Hal ini terutama kampanye yang isinya tidak bisa dipercaya, informasi menyesatkan, apalagi termasuk hoax dan bohong. Sikap skeptik justru berarti aksi untuk membuat informasi tak bermutu tidak mendapat tempat dalam kontestasi ini.

Sebaliknya, yang dilakukan adalah bertindak aktif mencari informasi dari sumber yang terpercaya. Mencermati pendapat dan penilaian orang yang berintegritas, membaca data yang teruji, dan mencari informasi dari lembaga yang bertanggung jawab. Informasi seperti itu yang dijadikan pertimbangan untuk menentukan pilihan pada April tahun depan.

Membangun Ketahan

Sikap pemilih seperti itu akan mencegah perlakuan pada rakyat hanya sebagai objek, karena tidak mudah tergoda oleh iming-iming kosong para “sales” politik, pernyataan kosong, dan tawaran politik uang. Hal ini juga mencegah kompetisi politik ini digunakan memanipulasi perbedaan-perbedaan di masyarakat untuk dibenturkan. Sebaliknya pemilih skeptik akan menjadi basis ketahanan bangsa dalam meningkatkan kualitas berdemokrasi.

Dalam masa kampanye ini, setiap warga harus mulai menguji diri: apakah termasuk golongan yang gampang dikelabuhi oleh kampanye murahan? Atau pemilih skeptik yang rasional, yang menggunakan hak pilihnya sebagai “harga” yang pantas bagi bangsa dalam memilih pemimpin?

Pemilu adalah juga cermin kecerdasan bangsa. 

Editor : Sabar Subekti

Back to Home