Google+
Loading...
INSPIRASI
Penulis: Yoel M Indrasmoro 08:14 WIB | Sabtu, 09 September 2017

Menjadi Saudara bagi Orang Lain

Teguran hanya akan efektif jika kita sendiri telah hidup seturut dengan firman Allah.
Foto: istimewa

SATUHARAPAN.COM – ”Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Mat. 18:20). Perkataan Tuhan Yesus ini—mengenai keberadaan Allah di tengah persekutuan umat-Nya—sering menjadi sumber penghiburan. Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Ia memedulikan mereka. Nggak perlu bicara soal jumlah di sini, Yang Mahakuasa hadir, bahkan dalam persekutuan kecil sekalipun. Bayangkan, cuma dua atau tiga orang berkumpul dalam nama Tuhan, Tuhan hadir di sana.

Namun, terkadang frasa ”berkumpul dalam nama-Ku” kurang mendapat perhatian. Sebenarnya, frasa itu bukan sembarang frasa. Kristuslah dasar dan pusat persekutuan itu. Persekutuan tidak berdasarkan atas kesamaan ideologi, warna kulit, tingkat sosial, melainkan berdasarkan Kristus. Itulah makna gereja sebenarnya. Dengan kata lain, kehendak Kristuslah yang utama.

Dan salah satu tindakan nyata ”dalam nama-Ku” ialah keberanian menyatakan kesalahan orang lain. Kepada para murid, Sang Guru menasihatkan: ”Kalau saudaramu berdosa terhadapmu, pergilah kepadanya dan tunjukkanlah kesalahannya. Lakukanlah itu dengan diam-diam antara kalian berdua saja. Kalau ia menurut kata-katamu, maka berhasillah engkau mendapat saudaramu itu kembali” (Mat. 18: 15, BIMK).

 

Menegur sebagai Saudara

Menarik disimak, Yesus mengajak kita memandang orang lain dalam persekutuan itu sebagai saudara. Saudara berasal dari bahasa Sansekerta. Arti harfiahnya ”satu perut”.

Saudara berarti bukan musuh. Saudara juga berarti antara kita dengan orang tersebut mengalir darah yang sama. Aneh rasanya jika kita saling bertikai dengan saudara sendiri. Saudara berarti pula kita menginginkan yang terbaik bagi orang tersebut. Dan menegur merupakan salah satu cara untuk memberikan yang terbaik bagi orang yang kita kasihi.

Contoh gamblang: Mengapa suami atau istri atau anak atau orang tua menegur kita? Karena kita dikasihinya. Aneh rasanya jika kita menegur anak tetangga bukan? Dan Yesus menekankan pentingnya berani menyatakan kesalahan seseorang karena dia, sekali lagi, adalah saudara kita.

Namun, sekali lagi pada kenyataannya, tak banyak berani menegur orang lain. Dia takut akan tanggapan orang lain itu. Jika pun ada keberanian, kadang banyak orang lebih suka membicarakannya tanpa ada orangnya atau membicarakannya blak-blakan di hadapan  banyak orang ketika orangnya ada. Akhirnya kesalahannya itu menjadi konsumsi banyak orang. Kalau dahulu dengan mulut kita, sekarang ini dengan jari kita melalui smartphone kita.

 

Berdua Saja

Yesus menasihati, jika hendak menegur, mulailah dengan berdua saja. Baru setelah itu tiga orang. Dengan cara ini, orang tersebut tidak merasa dihakimi dan kesalahan yang dilakukannya tidak menjadi konsumsi publik. Dan alasan Yesus sangat sederhana: hanya dengan cara itulah kita akan mendapatkannya kembali.

Yesus menekankan pentingnya memulai percakapan di antara dua orang saja. Percakapan antarhati memang hanya mungkin dilakukan dua orang. Kalau banyak orang, akhirnya menjadi percakapan banyak hati. Ujung-ujungnya menjadi sarasehan atau diskusi. Masak kesalahan orang menjadi bahan diskusi?

Itu berarti, cara menegur sungguh penting. Kalau menegur, tegurlah tanpa ada orang lain yang tahu. Langsung menegur di hadapan banyak orang—juga dalam kelompok WA—hanya akan membuat orang merasa dipermalukan, dihakimi, dan akhirnya melihat pembelaan diri sebagai jalan keluar terbaik; atau menutup telinganya.

 

Menjadi Nabi Allah

Ketika kita melakukannya, sejatinya kita sedang menjadi nabi Allah untuk saudara kita itu. Itu berarti kita sedang memberitakan firman Allah kepada orang tersebut. Kepada Yehezkiel Allah mengingatkan akan perannya sebagai penjaga. Allah menegaskan: ”Kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Hai orang jahat, engkau pasti mati!—dan engkau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu supaya bertobat dari hidupnya, orang jahat itu akan mati dalam kesalahannya, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu” (Yeh. 33:8). Perhatikan: Allah menuntut pertanggungan jawab!

Berkait dengan kata ”penjaga”, saya jadi teringat ucapan Kain ketika Allah menanyakan kabar Habel adiknya: ”Apakah aku penjaga adikku?” (Kej.4:9). Jelaslah bahwa kita bertanggung jawab atas orang-orang yang berada di sekitar kita. Dan teguran merupakan ekspresi dari sebuah tanggung jawab.

”Tetapi,” tegas Allah Allah, ” jikalau engkau memperingatkan orang jahat itu supaya ia bertobat dari hidupnya, tetapi ia tidak mau bertobat, ia akan mati dalam kesalahannya, tetapi engkau telah menyelamatkan nyawamu (Yeh. 33:9). Menarik disimak, ketika kita menegur kita sedang menyelamatkan nyawa kita. Jelaslah Allah tidak ingin kita lepas tangan!

Itu jugalah yang dilakukan Paulus kepada warga jemaat di Roma. Dia menegur mereka agar mengenakan perlengkapan senjata Allah. Tentunya, teguran hanya akan efektif jika kita sendiri telah hidup seturut dengan firman Allah. Jika tidak, tentu kita sendiri tidak akan punya keberanian untuk menegur orang lain. Atau orang yang ditegur malah akan mencibir kita!

Dan karena itu, sungguh logis jika kita berseru sebagaimana pemazmur: ”Sesungguhnya aku rindu kepada titah-titah-Mu, hidupkanlah aku dengan keadilan-Mu” (Mzm. 119:40).

 

Email: inspirasi@satuharapan.com

Editor : Yoel M Indrasmoro

Back to Home