Google+
Loading...
SAINS
Penulis: Reporter Satuharapan 11:21 WIB | Rabu, 07 November 2018

Menristekdikti: Bidang Kesehatan dan Obat-obatan Salah Satu Fokus RIRN

Menritekdikti Mohamad Nasir. (Foto: Rahmat/Humas/Setkab)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Selama 72 tahun Indonesia merdeka, Indonesia belum memiliki cetak biru perencanaan riset nasional. Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengemukakan hal itu saat memberikan Keynote Speech pada Rembuk Nasional Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya di Grand Sahid Jaya, Jakarta.

“Sejak awal berdirinya bangsa Indonesia, hingga saat ini pada pemerintahan Presiden Jokowi, Indonesia tidak pernah memiliki peta riset nasional,” ucapnya, pada Sabtu (3/11) lalu.

Menristekdikti menjelaskan Rencana Induk Riset Nasional (RIRN) Tahun 2017-2045 disusun untuk menyelaraskan kebutuhan riset jangka panjang dengan arah pembangunan nasional terkait ilmu pengetahuan dan teknologi.

“RIRN menjadi penting karena pembangunan nasional membutuhkan perencanaan sektoral untuk mengintegrasikan langkah-langkah yang terpadu dan terintegrasi, khususnya antarkementerian/lembaga, untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelaksanaanya,” ia menjelaskan.

Bidang kesehatan dan obat-obatan merupakan salah satu dari 10 bidang strategis yang menjadi prioritas pemerintah dalam RIRN. Menristekdikti mengungkapkan daya saing Indonesia dalam bidang kesehatan terbilang masih sangat rendah, yakni di peringkat 90-an. Karena itu, Kemenristekdikti bersama Kemenkes membentuk ‘Komite Bersama Kemenristekdikti-Kemenkes’ yang merupakan implementasi koordinasi antara Kemenristekdikti dan Kemenkes dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan penelitian pada bidang kesehatan, untuk mendorong mewujudkan kemandirian bangsa pada pada bidang kesehatan.

Ia berpendapat pendidikan tinggi dan pelayanan kesehatan merupakan satu kesatuan yang harus dijalankan secara sinergis. Kompetensi pendidikan terhadap kebutuhan pelayanan kesehatan juga sangat penting untuk memenuhi kebutuhan dokter, terutama di daerah terluar, terdepan dan tertinggal (3T).

Ia mengungkapkan mencetak dan distribusi dokter masih menjadi masalah saat ini. Untuk itu Menristekdikti meminta Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya tetap memperhatikan kualitas dari calon dokter.

Turut hadir dalam acara tersebut Staf Ahli Bidang Infrastruktur Kemenristekdikti Hari Purwanto, Rektor Universitas Brawijaya Nuhfil Hanani, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan Cut Putri Arianie, Direktur Utama BPJS Fahmi Idris, serta tamu undangan lain. (ristekdikti.go.id)

 

Editor : Sotyati

Back to Home