Google+
Loading...
SAINS
Penulis: Reporter Satuharapan 15:46 WIB | Minggu, 11 November 2018

Menteri Agama Minta Guru Madrasah Jadi Pioner Deradikalisasi

Ilustrasi. Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin. (Foto: Dok satuharapan.com/kemenag.go.id)

BEKASI, SATUHARAPAN.COM – Karakter dan wawasan kebangsaan di kalangan para pendidik merupakan salah satu kunci dalam mempertahankan keutuhan bangsa yang heterogen. Dalam rangka meredam pengaruh radikalisasi yang merasuki generasi muda saat ini, Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kementerian Agama RI mengadakan pembekalan kepada guru-guru madrasah dari seluruh Indonesia, dalam acara yang bertajuk “Penguatan pendidikan karakter, deradikalisasi, wawasan kebangsaan, dan moderasi Islam bagi guru dan tenaga kependidikan”. 

Pada acara yang digelar di Hotel Amarossa, Bekasi, Sabtu (10/11) itu, Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin tampil sebagai keynote speaker. Dalam dialog dengan sekitar 200 guru madrasah, Menag mengingatkan, guru adalah sarana utama yang menyampaikan pesan moderasi keberagamaan kepada generasi mendatang. Untuk itu ia meminta guru madrasah menanamkan ajaran Islam ramah yang rahmatan lilalamin dalam setiap mata pelajaran yang diampunya.

Menag mengingatkan agar pelajaran di madrasah jangan berhenti pada aspek syariat saja. “Syariat itu penting dan tak bisa ditinggalkan. Tapi, mohon jangan berhenti di situ,” katanya. Beragama Islam itu, Menag melanjutkan, adalah menjalani syariat untuk mencapai hakikat.

Bila langkah menuju hakikat beragama telah ditempuh, niscaya akan muncul moderasi keberagamaan, sehingga tidak ada radikalisme dan ekstremisme. Proses deradikalilasi itu pada dasarnya mengembalikan pemahaman dan pengamalan keagamaan menuju titik tengah atau moderat. “Inilah hakikat agama,” katanya.

Agama Islam itu hadir untuk kemaslahatan sosial. Oleh karena itu semua ibadah mahzah (personal) harus berdampak pada aspek sosial karena watak Islam itu rahmatan lilalamin.

Faktanya saat ini banyak orang yang alim secara keilmuan tetapi tidak punya kesalehan sosial. Banyak orang yang rajin salat tetapi juga rajin korupsi, manipulasi, merendahkan sesama, bahkan melakukan kekerasan terhadap kelompok lain. Ada pula orang yang berkali-kali berhaji tetapi tidak tercermin kemabruran dalam dirinya.

Menag mewanti-wanti agar guru mengajar dengan rasa cinta karena eksistensi guru itulah yang menjadi kekuatan transformasi keilmuan dan karakter. Sehebat apa pun kualitas materi, jauh lebih penting cara menyampaikannya. Tetapi, keberadaan guru jauh lebih penting daripada metodologi, karena guru adalah pengguna metodologi. Namun, yang terpenting adalah jiwa pendidik, karena itulah yang lebih berarti daripada eksistensi guru itu sendiri.

"Maka para guru harus menjadi pioner dalam menangkap esensi keislaman dan menyebarkan melalui profesinya,” katanya. (kemenag.go.id)

Editor : Sotyati

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home