Google+
Loading...
INSPIRASI
Penulis: Yoel M Indrasmoro 01:00 WIB | Sabtu, 13 April 2019

Menyambut Sang Raja

Dan saat alam berseru memuliakan Tuhan, mungkin kita akan jadi malu sendiri.
Sang Raja memasuki Yerusalem (foto: istimewa)

SATUHARAPAN.COM – ”Aku berkata kepadamu: Jika mereka ini diam, maka batu ini akan berteriak” (Luk. 19:40). Demikianlah jawaban Yesus Orang Nazaret terhadap permohonan orang Farisi. Orang Farisi itu mungkin takut jika pujian nyaring para murid akan mengundang kerusuhan.

Perhatikan pujian mereka: ”Terpujilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan, damai sejahtera di surga dan kemuliaan di tempat yang mahatinggi!” (Luk. 19:38). Para murid itu menyatakan dengan jelas bahwa Yesus adalah Raja.

Kalimat ini bisa saja diartikan sebagai tindakan subversif. Pemberontakan. Herodes, raja boneka Romawi, tentu tak senang dengan pernyataan ini karena merasa ada saingan. Penjajah Romawi tentu lebih tak senang lagi karena bisa menyulut pemberontakan. Orang Farisi yang turut dalam iringan orang banyak itu agaknya khawatir akan dampak dari pujian itu.

Lukas dengan jelas mengatakan bahwa seruan para murid itu bukan tanpa sebab. Perhatikan catatan Lukas: ”Ketika Ia mendekati Yerusalem, di tempat jalan menurun dari Bukit Zaitun, mulailah semua murid yang mengiringi Dia bergembira dan memuji Allah dengan suara nyaring oleh karena segala mukjizat yang telah mereka lihat” (Luk. 19:37).

Menurut Lukas, seruan para murid yang memuji Allah dengan suara nyaring itu merupakan hal wajar karena mereka semua telah mengalami segala mukjizat. Ini masalah pengalaman. Ini bukan sekadar ikut-ikutan. Mereka sudah menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri bahwa Yesus adalah Raja dalam nama Tuhan. Sebab hanya Raja dalam nama Tuhanlah yang mampu melakukan segala mukjizat itu. Yang tak wajar adalah kalau mereka diam.

Memuji Allah merupakan keniscayaan karena kita sudah merasakan semua hal yang baik dari Allah. Pujian di sini merupakan pengakuan. Ketika kita yang telah merasakan semua kebaikan itu hanya diam saja, maka batu-batu akan berteriak. Mengapa? Karena alam pun juga menjadi saksi dari semua kebaikan Allah.

Dan saat alam berseru memuliakan Tuhan, mungkin kita akan jadi malu sendiri. Nah, daripada malu, mari kita memuji Allah!

Editor : Yoel M Indrasmoro

Back to Home