Google+
Loading...
RELIGI
Penulis: Francisca Christy Rosana 19:12 WIB | Senin, 23 Maret 2015

Menyelisik Makna Paskah Rektor UKI

Rektor Universitas Kristen Indonesia yang juga mantan Hakim Mahkamah Konstitusi (MK), Dr Maruarar Siahaan saat ditemui satuharapan.com di UKI, Cawang, Jakarta Timur, Senin (23/3). (Foto: Francisca Christy Rosana)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Rektor Universitas Kristen Indonesia yang juga mantan Hakim Mahkamah Konstitusi (MK), Dr Maruarar Siahaan memiliki definisi sendiri terhadap perayaan Paskah atau kebangkitan yang akan diperingati awal April mendatang.

Bagi pria kelahiran Sumatra Utara lulusan Fakultas Hukum Indonesia (UI) ini, Paskah menggambarkan mereka yang bertakhta di Singgasana Kerajaan Surga, seperti Kristus, turun mengosongkan dirinya dan mengenyampingkan seluruh kebesarannya demi menyelamatkan manusia yang menderita.

“Seperti Dia yang turun, keteladanan itulah yang harus dipetik oleh para pemimpin negeri, bagaimana sikapnya, kerendahhatiannya. Tidak ada keangkuhan, tidak ada kesombongan, tidak mempertahankan harga diri, tetapi dengan rendah hati menolong orang dan melakukan yang terbaik untuk seluruh umat,” ujar Maruarar ‘menyingkap makna Paskah saat ditemui satuharapan.com di UKI, Cawang, Jakarta Timur, Senin (23/3).

Menjadi Pemimpin yang Meneladan Yesus

Sebagai seorang pemimpin di lingkungan akademik, Maruarar pun mengakui cukup meneladan sikap  Yesus. Patokannya terhadap sosok inspiratif itu membuat Maruarar cukup berhasil memimpin UKI.

Padahal kata Maruarar, ia sebenarnya tidak memiliki pengalaman di bidang pendidikan. Ia bahkan tak punya background yang senada dengan dunia pendidikan, tetapi oleh para pengurus yayasan, ia  diangkat menjadi rektor.

“Setelah pernah saya tolak, mereka meminta lagi. Berarti ada masalah seharusnya dari kualifikasi saya relevan. Setelah saya alami memang menurut saya ada dua hal yang menjadi pedoman dalam mengelola organisasi, kepatuhan pada hukum,” ujar dia.

Selain itu menurutnya, satu organisasi akan hancur kalau tidak patuh pada konstitusinya. Kemudian tidak patuh dengan apa yang menjadi ideologinya. Dari perjalanan hidupnya, ia yakin jika organisasi dibangun tidak diajarkan setia pada hukum, maka organsasi itu akan hancur dengan sendirinya.

“Dari pelajaran itu saya menyimpulkan Indonesia juga begitu bahwa kepatuhan pada hukum adalah kunci dan kemudian kembali pada ideologi Pancasila,” Kata dia. 

Editor : Bayu Probo

Back to Home