Google+
Loading...
FOTO
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 15:55 WIB | Jumat, 29 November 2019

Menyemai Keindonesiaan dalam “Anětěs”

Menyemai Keindonesiaan dalam “Anětěs”
Karya instalasi “Learning to Play” dalam pameran tunggal Putu Sutawijaya bertajuk “Anětěs” di Sangkring art project, 27 November - 5 Desember 2019. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
Menyemai Keindonesiaan dalam “Anětěs”
Pengunjung mengamati karya “Learning to Play” saat pembukaan pameran, Rabu (27/11).
Menyemai Keindonesiaan dalam “Anětěs”
Balance Garudeya (belakang) – cat akrilik di atas kanvas – 610 cm x 300 cm – Putu Sutawijaya – 2019.
Menyemai Keindonesiaan dalam “Anětěs”
Amiber II – cat akrilik di atas kanvas – 100 cm x 120 cm – Putu Sutawijaya – 2019.
Menyemai Keindonesiaan dalam “Anětěs”
Guitar Garudeya – cat akrilik di atas gitar – Putu Sutawijaya – 2019.
Menyemai Keindonesiaan dalam “Anětěs”
Menjaga – cat akrilik di atas kanvas – 200 cm x 145 cm – Putu Sutawijaya – 2019.
Menyemai Keindonesiaan dalam “Anětěs”
Melawan Diri Sendiri (paling kanan) – cat akrilik di atas kanvas – 130 cm x 140 cm – Putu Sutawijaya – 2019.
Menyemai Keindonesiaan dalam “Anětěs”
Anětěs – plat kuningan – variabel dimensi – Putu Sutawijaya – 2019.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Berangkat dari sebuah lukisan merespon kondisi bangsa yang terbelah akibat kontestasi politik beberapa waktu lalu, seniman-perupa Putu Sutawijaya mempresentasikan karya dua-tiga matra dan instalasi di Sangkring art project. Pameran bertajuk “Anětěs” dibuka oleh pengajar Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Arif Nurcahyo, Rabu (27/11) malam.

Delapan lukisan tunggal dalam berbagai ukuran, satu lukisan di atas gitar, dua karya instalasi/tiga matra dengan mengangkat tema-obyek Garuda dalam visual maupun narasi.

 “Ketika kondisi bangsa ini cukup mengkhawatirkan (dan memprihatinkan) saat pemilihan legislatif-pemilihan presiden (beberapa waktu lalu) muncul pertanyaan ada apa dengan bangsa ini?. Akhirnya saya melukis satu karya berjudul “Sekurus Apapun Kau Tetap Garudeya”. Karya tersebut saat dalam proses bertepatan dengan berita yang saya dapat dari Jombang ditemukan situs Garuda di situs pertirtaan Sumberbeji (Desa Kesamben, Ngoro-Jombang). Itu (kabar penemuan situs Garuda) menjadi penyemangat saya melanjutkan project ini sebagai penanda kelahiran (lagi) saya  dalam konteks dunia kreativitas,” jelas Putu Sutawijaya saat pembukaan pameran, Rabu (27/11) malam.

Bersama antropolog Kris Budiman dan arkeolog Apriadi Ujiarso, Putu Sutawijaya mencoba menelusuri situs-artefak serta manuskrip naskah kuno terkait garuda. Dalam project bersama tersebut kedua ahli menjadi narasumber bagi pembacaan dan interpretasi visual yang dilakukan Putu mengambil naskah Adiparwa.

Selain pembacaan tersebut ketiganya juga melakukan peninjauan pada situs petirtaan Sumberbeji untuk melihat secara langsung visual dari arca garuda yang baru ditemukan. September 2019 bertiga mereka menyambangi situs Petirtaan Sumberbeji untuk melihat proses penggalian situs tersebut.

“Beberapa catatan yang dibuat Apriadi Ujiarso maupun Kris Budiman dalam obrolan dan diskusi serta dongeng yang kadang dibacakan saat berproses, saya melakukan interpretasi ulang atas kisah-cerita tersebut ke dalam karya-karya saya. Tidak merekonstruksi kebentukan hasil dari pengamatan langsung ke Sumberbeji maupun pembacaan naskah kuno tersebut,” jelas Putu Sutawijaya kepada satuharapan.com saat ditemui pada sebuah pembukaan pameran di Studio Kalahan, Kamis (28/11) malam.

Adiparwa (sanskerta: Ādiparva) adalah buku pertama atau bagian (parwa) pertama dari kisah Mahabharata menceritakan pemutaran gunung Mandara Giri di lautan Ksirarnawa yang dalam lontar Adiparwa dikisahkan Sang Garuda yang berperang melawan ribuan naga untuk mendapatkan Tirtha Amerta agar dapat menolong ibunya dari perbudakan.

Dalam catatan pameran Apriadi Ujiarso menuliskan Garuḍa adalah anak kedua dari Kāśyapa dan Winata. Garuḍa adalah anak pembebas perbudakan yang dialami sang ibu. Winata, ibu Garuḍa kalah bertaruh berkait warna kuda Uccaihcrawa dengan sang Kadru, ibu para naga. Para kritikus sastra menggaris bawahi bahwa Garuḍa jelas memperlihatkan aspek loyalitas, percaya diri, dan pemberani. Terpenuhinya janji Garuḍa menjadi wahana Wiṣṇu, Sang Pemelihara itu, setelah bebasnya sang ibu dari perbudakan, memperlihatkan aspek kesetiaan, keyakinan, dan ketangguhan.

Semangat membebaskan dari praktik-praktik perbudakan yang masih membelenggu dalam berbagai bentuk hingga hari ini, dituangkan Putu dalam karya dengan medium cat akrilik di atas kanvas berjudul Pembebas.

Sebagaimana penuturan Putu bahwa Anětěs bukanlah sebuah rekonstruksi estetis-visual yang bersumber dari naskah kuno maupun artefak, namun lebih pada respon terhadap kondisi sosial-politik yang sedang berkembang di negara-bangsa Indonesia. Berangkat dari kegelisahan tersebut bersamaan dengan menetasnya ide-kreativitas salah satunya berasal dari ditemukannya arca garuda di situs Petirtaan Sumberbeji di Jombang beberapa waktu lalu, turut pula menetaskan semangat dalam banyak hal yang dituangkan Putu dalam karya-karya terbaru yang menarasikan dan memperbincangkan optimisme dalam gerak yang dinamis.

Amiber I, Amiber II, Balance Garudeya, adalah cara Putu memaknai kehadiran semangat dalam dirinya yang membuncah dan ingin dibagikan kepada publik. Gerak dan kegembiraan menjadi penanda dinamika masyarakat yang terus bergerak menuju perubahan yang lebih baik. Menariknya dalam karya Amiber I-II, Putu melukis gerak garuda dalam langkah kaki dan bukan terbang melayang di udara.

Pada karya berjudul Garuda Asana, sembilan figur dengan kepala Garuda dalam posisi asimetris kaki saling disilangkan. Pada figur yang berada di tengah, kedua telapak tangan didekatkan hingga menyerupai paruh garuda. Garudasana adalah salah satu gerakan (asana) dalam yoga modern untuk latihan keseimbangan yang mensyaratkan fokus-konsentrasi pada semangat mencapai keselarasan-keseimbangan.

Tiga karya berjudul Pembebasan, Melawan Diri Sendiri, Menjaga, menjadi upaya refleksi Putu menyikapi kondisi (sosial-politik) Indonesia saat ini. Pembebasan dengan visual figur garuda yang terbebas dari lilitan naga ambisi-keserakahan pada kekuasaan sebagai penebusan atas perbudakan yang melilit ibu pertiwinya

Melawan Diri Sendiri menjadi refleksi berikutnya ketika lawan terbesar justru berasal dari diri sendiri terlebih ketika pun dalam puncak segala yang telah dimilikinya. Melawan ego ambisi-keserakahan menjadi pengingat bagi diri Putu untuk tidak larut dan lantas menjadi naga ambisi-keserakahan saat dirinya berada pada kondisi atas segala kuasa.

Refleksi berikutnya menukik pada Menjaga dengan lima figur garuda yang membawa telur Indonesia yang jika tidak dibawa dan dijaga dengan hati-hati bisa pecah berserakan. Ambisi-keserakahan pada kekuasaan di Indonesia hari-hari ini menempatkan relasi manusia Indonesia pada titik nadir yang cukup mengkhawatirkan hubungan antar sesama manusia. Perbedaan sedikit perspektif saja telah menempatkan mereka yang merasa berbeda pada dua kutub yang tidak pernah bisa dipersatukan. Dan berpotensi tercerai-berai manakala telur tersebut lepas dan lupa untuk dijaga dan dirawat bersama.

Tentang hal tersebut (Menjaga), dalam pengantar pameran Kris Budiman menuliskan bahwa konsepsi bangsa dan konstruksi sosial atas identitas kebangsaan adalah produk imajinasi bersama para founding fathers/mothers yang pada dasarnya rentan. Mudah meledak dan pecah seperti balon. (Fragile! Handle with care.) Maka dari itu, kita – anak-cucu yang menjadi ahli waris bangsa ini – perlu terus menjaga dan mempertahankannya.

Hiruk-pikuk pertengkaran akibat perebutan politik kekuasaan di tingkat lokal-nasional menuju sebuah relasi dalam titik terendah hubungan manusia: saling curiga, menebarkan ujaran kebencian dan kebencian itu sendiri, bertebaran fitnah dan kabar bohong (hoax), hilangnya penghormatan atas sesama manusia, terlebih ketika politik identitas beserta isu-isunya dimanipulasi sebagai kendaraan yang efektif bagi petualang politik berburu rente kekuasaan. Titik nadir relasi manusia Indonesia yang “dipaksa” memperjuangkan kepentingannya sendiri dan bukan berangkulan-bergandengan tangan untuk membangun sebuah rumah besar bernama Indonesia. Dan menjaganya.

Figur kurus kering berkepala garuda dalam karya Sekurus Apapun Kau Tetap Garudeya yang menjadi inspirasi pameran “Anětěs” menjadi sebuah katarsis Putu memaknai semangat keindonesiaan berangkat dari realita-dinamika sosial-politik dan relasi manusia Indonesia. Melalui karya tersebut Putu mencoba menetaskan semangat optimisme. Begitupun dengan lukisan kepala garuda di atas gitar dengan latar warna merah putih.

Menarik juga saat Apriadi Ujiarso melontarkan satu kalimat yang diambil dari Garuda Mantra tentang rahasia para pembelajar. Dua karya instalasi-tiga matra berjudul Learning to Play dengan sembilan kerangka manusia dalam ukuran sebenarnya berkepala garuda yang sedang dalam posisi menari dan instalasi patung figur garuda berjudul Anětěs dalam medium kuningan menjadi gambaran bagaimana upaya Putu Sutawijaya untuk terus mengekslporasi ide-kreativitas sebagai bagian dari belajar.

“(Project) Ini masih akan berlanjut. Saya sedang belajar lagi dari nol. Dari semua seniman-pelaku seni dan juga publik. Termasuk dari seniman-perupa muda hari ini,” pungkas Putu Sutawijaya dalam obrolan singkat dengan satuharapan.com, saat pembukaan pameran Rabu (27/11) malam.

Pameran tunggal Putu Sutawijaya bertajuk “Anětěs” berlangsung di Sangkring art project Jalan Nitiprayan No. 88 RT.01/RW.20, Sanggrahan, Ngestiharjo, Kecamatan Kasihan – Bantul, 27 November - 5 Desember 2019.

 

Gaia Cosmo Hotel
Zuri Hotel
Back to Home