Google+
Loading...
INSPIRASI
Penulis: Yoel M Indrasmoro 01:00 WIB | Sabtu, 07 Maret 2020

Menyenangkan Hati Allah

Satu-satunya yang menyenangkan hati Sang Tuan adalah ketika hamba percaya kepada-Nya.
Foto: istimewa

SATUHARAPAN.COM – ”Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan Tuhan kepadanya” (Kej. 12:4). Kepergian Abram merupakan tanggapan positif atas firman Allah.

Berkait  kisah Abram, dalam surat kepada jemaat di Roma, Paulus menyatakan: ”Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu [kepercayaan Abraham] kepadanya sebagai kebenaran” (Rm. 4:3). Dalam BIMK tertera: ”Abraham percaya kepada Allah, dan karena kepercayaannya ini ia diterima oleh Allah sebagai orang yang menyenangkan hati Allah.”

Paulus berkesimpulan bahwa Allah menerima Abraham sebagai orang yang menyenangkan hati-Nya. Mengapa? Karena ia memahami posisinya sebagai hamba. Seorang hamba sesungguhnya ingin senantiasa berusaha menyenangkan hati tuannya! Satu-satunya yang menyenangkan hati Sang Tuan adalah ketika hamba percaya kepada-Nya.

Bukankan itu juga yang terjadi dalam dunia manusia. Apa yang diharapkan seorang tuan? Kepercayaan hambanya! Apa yang diharapkan seorang atasan? Kepercayaan bawahannya! Cuma itu. Dan memang beda perbuatan yang berdasarkan kepercayaan dibandingkan dengan perbuatan yang tidak berdasarkan kepercayaan.

Misalnya, ketika atasan kita menyuruh kita melakukan sesuatu, dan kita percaya bahwa apa yang dimintanya pasti untuk kebaikan perusahaan, dan berarti untuk kebaikan kita juga, maka kita akan melakukan itu dengan penuh semangat.

Akan tetapi, kalau dalam hati kita ada syak wasangka, bahwa itu hanya untuk kepentingan atasan kita saja, maka kita pasti tidak akan menjalankan pekerjaan itu dengan segenap hati, ogah-ogahan. Mengapa? Karena kita nggak percaya.

Dalam kasus Abram, dia pergi karena percaya bahwa Allah akan memberikan yang terbaik kepadanya, ujung-ujungnya adalah untuk kepentingan Abram—menjadi bangsa yang besar dan menjadi berkat.

Sejatinya, kepercayaan macam begini pun adalah anugerah. Itulah yang diingatkan Tuhan Yesus kepada Nikodemus: Roh Allah bekerja laksana angin, Roh Allah berdaulat penuh, nggak bisa didikte!

Dan ketika Roh itu bekerja dalam diri kita, maukah kita dipimpin oleh-Nya? Percaya pun adalah anugerah Allah! Dan inilah yang akan menyempurnakan semua perbuatan kita!

Editor : Yoel M Indrasmoro

UKRIDA
Gaia Cosmo Hotel
Zuri Hotel
Back to Home