Google+
Loading...
SAINS
Penulis: Dewasasri M Wardani 11:54 WIB | Senin, 24 Juni 2019

Merespons Sampah DKI yang Menjadi Musuh Dunia

Pelajar menuntun sepeda di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat, Jumat (21/6/2019). Bantargebang saat ini menampung 26 juta meter kubik sampah DKI. (Foto:Antaranews.com/Andi Firdaus)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – "Indonesia berada di peringkat kedua polusi plastik terbesar di dunia setelah China dengan laporan menghasilkan 187,5 ton sampah plastik per tahun, sekitar 1 juta ton di antaranya bocor mencemari laut,” kata aktor Hollywood Leonardo Dicaprio dalam postingan gambar di akun Instagram @leonardodicaprio pada tanggal 15 Maret 2019.

Postingan gambar hasil jepretan fotografer yang mendokumentasikan perubahan iklim di dunia, Elisabetta Zavoli, itu memperlihatkan beberapa laki-laki dari Kelurahan Cikiwul, Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi, menangkap ikan pada genangan air yang tercemar limbah sampah bercampur lumpur.

Aktor pemeran film Titanic itu menyoroti bahaya efek rumah kaca dari produksi sampah plastik yang kini ditampung Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang hasil buangan dari sekitar 15 jutaan warga di Jakarta.

Postingan pada akun 32,3 juta pengikut dari berbagai negara di dunia itu, menuai komentar beragam sebanyak 1.923 netizen di Indonesia maupun internasional,  terkait dengan bahaya efek rumah kaca yang dihasilkan sampah plastik.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) TPST Bantargebang pada Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Asep Kuswanto, merespons postingan itu dalam kapasitas Leonardo sebagai pegiat lingkungan internasional yang fokus pada perubahan iklim.

Menurut dia, TPST Bantargebang merupakan landfill atau lokasi penimbunan sampah terbesar di Asia Tenggara, dengan volume eksisting sampah saat ini berkisar 26 juta meter kubik. Namun, pihaknya belum melakukan studi khusus terkait dengan tudingan Indonesia sebagai penghasil sampah plastik terbesar kedua di dunia.

TPST Bantargebang berdomisili di tiga wilayah kelurahan seluas total 110,3 hektare, yakni Ciketing Udik, Cikiwul, dan Kelurahan Sumurbatu, menampung distribusi sampah rata-rata 7.452 ton per hari dari Jakarta.

Volume itu mengalami tren peningkatan setiap tahun berkisar 400 hingga 1.000 ton, dengan komposisi 33 persen sampah plastik, sisa makanan 39 persen, 9 persen kain, 3 persen kulit atau karet, sampah B3 4 persen, kayu atau rumput 4 persen, kertas 4 persen, dan jenis lainnya 4 persen.

Sampah itu ditimbun sejak 1989 hingga sekarang, pada lahan seluas total 74,5 persen dari luas lahan TPST. Timbunan sampah terbagi atas Zona I seluas 18,3 hektare, Zona II 17,7 hektare, Zona III 25,41 hektare, Zona IV 11 hektare, Zona V 9,5 hektare dan 28,39 hektare lainnya diperuntukkan bagi fasilitas pengolahan sampah.

Asep tidak memungkiri keberadaan sampah di Bantargebang berkontribusi negatif pada pencemaran di sekitarnya, seperti pencemaran air tanah, polusi bau sampah yang menyebar melalui udara, hingga ancaman penyakit.

"Lingkungan sekitar sudah pasti tercemar. Akan tetapi, kami upayakan untuk meminimalisasi dampak tersebut," kata Asep, seperti dilansir Antaranews.com pada Senin (24/6).

Respons

Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta menerapkan sejumlah komponen fasilitas pengolahan yang berfungsi menekan volume sampah eksisting TPST Bantargebang. Fasilitas pertama adalah pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif refuse derived fuel (RDF), yang bermanfaat sebagai pengganti batu bara.

Sejak proyek tersebut dikerjasamakan dengan produsen semen PT Holcim pada tanggal 20 Januari 2019, tahap pertama difokuskan pada Zona IV B2 TPST seluas 1,9 hektare.

Proses produksi RDF dilakukan dengan mengeruk sampah eksisting, dipilah dengan mesin ayak untuk memisahkan kompos, logam, dengan nonorganik.

Plastik yang tertimbun sampah lalu dikeringkan memiliki tingkat kalori yang tinggi untuk kebutuhan produksi RDF oleh PT Holcim. Fasilitas tersebut ditargetkan mampu menekan volume sampah plastik hingga 1.000 ton per hari.

Bila seluruh volume sampah di zona tersebut telah seluruhnya hilang, Zona IV B2 akan difungsikan menjadi Instalasi Pengolahan Air Sampah (IPAS) keempat di lingkungan TPST.

Fasilitas selanjutnya adalah teknik pengomposan untuk mengurangi sampah jenis organik seperti daun, sayur, ranting, dan sejenisnya menjadi pupuk dengan kapasitas produksi 40 ton per hari.

Fasilitas berikutnya adalah, pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa), dengan kemampuan produksi listrik berkisar 400 kilowattjam (kWh) dari 100 ton pembakaran sampah nonorganic, melalui kerja sama Pemprov DKI dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang bergulir sejak 25 Maret 2019 di sisi selatan TPST.

Area produksi listrik berbahan bakar sampah itu layaknya sebuah pabrik yang memiliki bermacam alat produksi pembakaran sampah berteknologi termal yang mengolah sampah secara cepat dan ramah lingkungan, serta menghasilkan produk samping listrik.

Proyek percontohan PLTSa itu dibuat kompak dan tertutup rapi, untuk mengubah citra pengolahan sampah yang semula kumuh menjadi lebih baik.

Asep menambahkan, pihaknya memiliki rencana ke depan berupa realisasi pembangunan waste to energy sebanyak tiga hingga empat unit untuk menghabiskan total 20 juta meter kubik sampah.

"PLTSa sekarang masih dimiliki oleh BPPT,  karena dalam fase pendampingan operasional. Rencananya pada 2020 akan menjadi aset Pemprov DKI," katanya.

Pemulung

Di atas gundukan sampah yang membusuk, ribuan orang hidup sebagai pemulung sampah, menghabiskan hari-hari mereka dengan keranjang rotan yang menempel di punggung, sebagai penyimpanan hasil pemilahan sampah plastik untuk didaur ulang atau dijual kembali.

Tercatat sedikitnya 4.000 pemulung kini beraktivitas memilah sampah di lima zona TPST Bantargebang, menjadi andalan DKI dalam meminimalisasi volume sampah plastik rata-rata 50 sampai dengan 200 kilogram sampah, per pemulung setiap harinya. Artinya, lebih kurang 800 ton sampah berhasil dihilangkan setiap hari melalui aktivitas tersebut.

Sampah itu berupa kemasan makanan, botol plastik, perabotan rumah tangga, hingga kantong kresek dipilah untuk dijual kepada pengepul, sehingga menghasilkan nilai ekonomis.

"Kami sangat diperhatikan oleh Pemprov DKI. Sejak pengelolaan sampah diambil alih secara swadaya pemerintah daerah pada tahun 2017, saya sudah memiliki asuransi kesehatan dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS)," kata pemulung Ridho (49).

Omzet yang didapat Ridho dari penjualan sampah plastik berkisar Rp75.000 hingga Rp100.000 per hari, sedangkan pengepul mampu mengantongi omzet hingga puluhan juta rupiah per bulan, dari transaksi daur ulang menjadi bijih plastik.

Bahkan, sebagian bijih plastik tersebut ada yang dimanfaatkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum, sebagai uji coba bahan baku aspal untuk pengecoran jalan umum. Salah satu proyek percontohan aspal plastik dilaksanakan di Jalan Sultan Agung yang menghubungkan Kota Bekasi dengan Jakarta Timur pada tahun 2017.

Polusi Berkurang

Masyarakat yang berdomisili di sekitar TPST Bantargebang mengakui  upaya operator dalam mengelola sampah DKI menunjukkan peningkatan efek positif terhadap jangkauan radius bau sampah yang makin berkurang.

Warga RT 02/RW04, Kelurahan Cimuning, Kecamatan Mustikajaya, Arisanto (32), mengatakan beberapa tahun lalu hampir setiap hari bau sampah menyeruak masuk ke setiap ruangan rumahnya, yang berjarak sekitar 8 kilometer dari TPST Bantargebang.

Saat ini pria yang bekerja di perusahaan swasta Kota Bekasi itu, baru merasakan aroma sampah yang cukup kuat saat terjadi gerimis. Bau busuk sampah yang menyergap kawasan Cimuning biasanya terbawa oleh embusan angin.

Hal senada diungkapkan Lurah Bantargebang, Kecamatan Bantargebang, Asep Mulyana.

"Sekarang ini bau sampahnya semakin berkurang. Akan tetapi, jangkauan bau sampah tetap bergantung pada arah pergerakan angin. Makin kencang anginnya mengarah ke kantor, makin kuat baunya," katanya.

Asep mengatakan, kualitas fisik truk sampah DKI yang rutin melintas di wilayahnya juga makin membaik. Jika pada tahun 2017 mayoritas truk sampah masih menggunakan jenis konvensional bak terbuka, saat ini sebagian besar sudah mengadopsi compactor dengan bagian bak yang tertutup rapat.

Jenis compactor, kata Asep, lebih ramah lingkungan karena bak yang tertutup sehingga tidak meninggalkan air licit di jalan.

Upaya meminimalisasi sebaran bau sampah, dilakukan oleh operator melalui sejumlah cara, di antaranya berupa coversoil pada landfill untuk menekan perkembangbiakan vector penyakit, mengurangi potensi longsor, serta mengurangi bau.

Metode coversoil, dilakukan dengan cara pemberian tanah di atas gundukan sampah untuk mengurangi polusi bau, sedangkan air licit, diolah melalui instalasi pengolahan air sampah (IPAS) berkapasitas tampung 20.800 meter kubik.

Apa yang dilakukan Pemprov DKI dalam menanggulangi masalah sampah boleh jadi kecil skalanya di mata dunia. Akan tetapi, rintisan tak bisa dimungkiri memberikan sumbangsih tersendiri di tengah setumpuk persoalan pengelolaan sampah yang menjadi perhatian masyarakat dunia.

 

 

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home