Google+
Loading...
SAINS
Penulis: Reporter Satuharapan 17:35 WIB | Minggu, 08 Juli 2018

Metode Pengobatan Baru Beri Harapan bagi Pengidap Tumor Otak

Ilustrasi. Senator John McCain sejak tahun lalu mengumumkan menjalani pengobatan dan perawatan atas kanker kanker otak glioblastoma yang dideritanya. (Foto: American Lookout)

WASHINGTON, SATUHARAPAN.COM — Senator Partai Republik, John McCain, mungkin adalah orang paling terkenal yang diketahui mengidap kanker otak. Jenis kanker yang diidapnya adalah glioblastoma, jenis kanker yang paling mematikan.

Sejak McCain mengumumkan berita ini tahun lalu, ia telah menjalani pembedahan dan kemoterapi. Tidak ada penyembuhan untuk kanker jenis ini, dan bahkan dengan pengobatan, sebagian besar orang tidak akan mampu bertahan hidup lebih dari tiga tahun sejak didiagnosa dengan penyakit itu.

Dokter bedah acap kali tidak dapat mengangkat keseluruhan tumor karena adanya risiko terpengaruhnya fungsi-fungsi otak, atau kanker itu mungkin melekat pada kolom tulang belakang. Tumor jenis ini sering kali menyebar luas yang membuatnya sulit untuk diangkat seluruhnya.

Bila tidak diobati, peluang untuk bertahan hidup hanya dalam hitungan bulan. Bahkan dengan pengobatan, peluang untuk bertahan hidup selama dua tahun hanya 30 persen, menurut American Brain Tumor Association.

Apa yang menimbulkan harapan adalah adanya beberapa metode pengobatan baru yang menjanjikan.

Contoh dari kasus ini adalah Lori Mines. Ia seorang istri dan ibu berusia 40 tahun yang didiagnosa dengan kanker otak stadium empat dua tahun lalu. Ia merasakan sakit kepala yang amat sangat yang diikuti dengan stroke.

Saat dokter memerintahkan pemindaian otak, mereka menemukan dua tumor otak berukuran besar, satu di masing-masing sisi dari otaknya. Satu dari tumor itu melekat pada kolom tulang belakangnya dan tidak dapat diangkat secara keseluruhan. Setelah pembedahan, Mines menjalani proses radiasi.

“Saya bahkan tidak peduli pada hal itu. Pada dasarnya saya hanya ingin berkonsentrasi pada penyembuhan,” ujarnya.

Bahkan tumor otak yang bukan tergolong kanker dapat mematikan apabila tumor tersebut mempengaruhi bagian otak yang bertanggung jawab pada fungsi-fungsi tubuh yang vital. Pengobatan yang diberikan acap kali termasuk pembedahan, kemoterapi atau radiasi atau kombinasi dari semua pengobatan ini.

Melipatgandakan Angka Harapan Hidup Pasien

Glioblastomas adalah jenis kanker otak yang paling sering dijumpai, dan angka relatif untuk dapat bertahan hidup selama lima tahun kurang dari 6 persen.

Mines mengatakan ia bersikap realistis, meskipun ia berharap dapat hidup lebih lama lagi. Ia mengatakan ia hanya akan berjuang untuk dirinya sendiri, suaminya, dan anak perempuannya yang masih kecil.

“Saya bersikeras karena tidak ada pilihan lain,” ujarnya.

Para ilmuwan di Duke Health menemukan mereka dapat meningkatkan angka kemungkinan untuk bertahan hidup beberapa pasien dengan menyuntikkan langsung virus polio yang telah dimodifikasi ke tumor. Para peneliti lain mencoba untuk membuat sistem kekebalan tubuh menyerang tumor tersebut.

Dr Arnab Chakravarti, kepala dari Departemen Radiasi Onkologi di Ohio State University, memiliki spesialisasi dalam kanker otak. Chakravarti mengatakan para peneliti di bidang kedokteran tengah menguji berbagai percobaan klinik yang baru, terapi tertarget, dan terapi kekebalan tubuh.

“Ada banyak harapan untuk pasien semacam ini,” ujarnya.

Chakravarti memimpin sebuah studi pada susunan genetik dari gliomas, tumor otak yang bisa bersifat kanker atau jinak. Para peneliti menemukan mereka dapat melipatgandakan angka harapan hidup dari para pasien yang telah memiliki penanda biologis yang khas, sebuah sel atau sebuah molekul yang terdapat dalam jenis tumor tertentu. Penanda biologis ini membantu dokter memutuskan jenis pengobatan terbaik yang dapat diberikan untuk membuat tumor menyusut.

“Penting sekali untuk memberi perawatan yang dirancang khusus untuk masing-masing individu pasien dan itulah alasan mengapa penanda biologis, prognostik, dan penanda biologis yang bersifat prediktif menjadi begitu penting,” ujar Chakravarti. Studi yang dilakukannya dipublikasikan di jurnal JAMA Oncology.

Para pakar menyatakan pengujian penanda genetik akan menjadi standar bagi pasien yang mengidap tumor otak ganas. Para pakar juga sedang menjajaki terapi obat tertarget sebagai bagian perawatan yang dirancang untuk masing-masing individu. Harapannya adalah agar diagnosa kanker otak tidak lagi menjadi hukuman mati yang tidak terelakkan. (voaindonesia.com)

Editor : Sotyati

Back to Home