Google+
Loading...
RELIGI
Penulis: Melki Pangaribuan 19:37 WIB | Jumat, 24 Agustus 2018

Mgr Suharyo Tunjukkan Rosario Merah Putih ke Presiden Jokowi

Presidium Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Mgr. Ignatius Suharyo (tengah) menunjukkan Rosario bermotif merah putih saat konferensi pers di Gereja Katedral, Jakarta, Senin (25/12/2017). (Foto: Kricom.id)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM -  Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Mgr. Ignatius Suharyo menunjukkan Rosario atau kalung Rosario Merah Putih yang dibawanya untuk diperlihatkan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat berkunjung ke Kantor KWI, Jakarta, Jumat (24/8).

Uskup Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) itu menyampaikan bahwa umat Katolik sungguh mencintai tanah air Indonesia. Misalnya umat di KAJ memiliki Rosario Merah putih sebagai simbol bendera Indonesia dan kecintaan mereka kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Saya tunjukkan Rosario Merah Putih yang kebetulan saya bawa kepada Presiden (Jokowi), (Rosario) inilah salah satu tanda bahwa kami sungguh mencintai republik ini. Saya menyampaikan bahwa banyak pahlawan yang beragama katolik yang datang dari berbagai latar belakang sudah memberikan dirinya demi kemerdekaan bangsa ini,” kata Uskup Agung Jakarta, Ignatius Suharyo seperti dilansir dari dokpenkwi.org, hari Jumat (24/8).

Hasil gambar untuk rosario merah putih uskup suharyo

Ilustrasi rosario bermotif warna merah putih. (Foto: istimewa)

Menurut imankatolik.or.id, rosario merupakan doa renungan atas misteri keselamatan (dari saat Yesus mulai dikandung sampai Ia dimuliakan di surga dan mengutus Roh Kudus – seluruhnya 20 peristiwa). Sembari mendaras Salam Maria berulang-ulang (10 kali), para pendoa merenungkan salah satu misteri yang dirangkai dalam rosario.

Doa yang terus diulang-ulang ini sangat membantu memusatkan perhatian pada misteri keselamatan yang direnungkan. Tetapi hendaknya diingat bahwa doa-renungan ini harus dibangun dan dipupuk oleh iman; maka baik kalau bacaan-bacaan singkat, renungan atau ayat-ayat nyanyian disisipkan di antara setiap dasa Salam Maria. Kalau tidak dilandasi iman, ada bahaya bahwa doa rosario menjadi rentetan kata-kata yang kosong.

Dalam pertemuan dengan Presiden Jokowi, Uskup Suharyo juga menyampaikan harapannya kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk berkunjung ke Vatikan.

“Saya menyampaikan bahwa kalau nanti ada kesempatan ke Eropa tolong dipertimbangkan (Presiden Joko Widodo) untuk singgah di Vatikan,” kata Uskup Suharyo.

Presiden Jokowi didampingi Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Pratikno dan Sekretaris Kabinet (Seskab) Pramono Anung melakukan silaturahmi dengan Presidium KWI di kantor KWI, kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (24/8) pagi.

Sementara Uskup Suharyo didampingi Sekretaris Jenderal KWI, Mgr Antonius Subianto OSC bertemu Presiden Jokowi di ruang rapat KWI lantai II yang dihadiri delapan anggota Presidium KWI di antaranya Mgr. Leo Laba Ladjar OFM (Uskup Jayapura), Mgr. Y. Harjosusanto MSF (Uskup Agung Samarinda), Mgr. Al. Sudarso SCJ (Uskup Agung Palembang), Mgr. Johnn Liku Ada (Uskup Agung Makassar), Mgr. Giulio Menccucini CP (Uskup Sanggau), Mgr. Dominikus Saku (Uskup Atambua), Mgr. V. Sutikno Wisaksono (Uskup Surabaya), serta Sekretaris Eksekutif KWI Romo Siprianus Hormat Pr.

Menurut Uskup Suharyo, Presiden Jokowi langsung menjawab juga bahwa hal itu akan dipersiapkan oleh Menteri Luar Negeri pada waktunya nanti.

Sementara itu mengenai pembicaraan lainnya dalam pertemuan tersebut, Uskup Suharyo mengatakan Presiden Jokowi mendengarkan dengan serius dan mencatat hal-hal yang sangat konkret terkait dengan penyampaian para Uskup yang hadir.

“Bapak Presiden sungguh ingin menyerap harapan-harapan dari uskup-uskup di dalam Gereja Katolik sehingga beliau mau datang untuk menemui kami karena ingin mendengar apa yang sebenarnya menjadi harapan Gereja Katolik. Kami merasa bahwa beliau menjalankan tugas itu dengan sebaik-baiknya,” katanya.

Uskup Suharyo mengatakan, hal ini berarti bahwa memang benar-benar beliau ingin bersilaturahmi dan ingin mendengar dari bawah secara langsung, terutama dari umat Katolik.

“Sama sekali tidak ada hubungannya dengan pilpres (Pemilihan Presiden),” kata Uskup Ordinariat TNI/Polri itu.

Presiden Jokowi mengakui dalam pertemuan tertutup tersebut dibicarakan beberapa hal yang berkaitan dengan isu-isu di daerah.

“Di dalam pertemuan, saya menyampaikan mengenai yang berkaitan dengan Pancasila, dengan keragaman, perbedaan, agama, suku, adat, tradisi yang terus harus kita rawat, kita jaga persaudaraan kita, kerukunan kita, persatuan kita,” kata Presiden Jokowi kepada wartawan usai pertemuan.

Khusus terkait vonis 18 bulan kepada Melliana oleh Pengadilan Negeri Medan, Presiden Jokowi menegaskan, bahwa dia tidak bisa mengintervensi hal-hal yang berkaitan dengan wilayah hukum di pengadilan.

“Ya saya saya tidak bisa mengintervensi hal-hal yang berkaitan dengan di wilayah hukum pengadilan,” tegas Presiden Jokowi.

Presiden juga menegaskan jika kunjungannya ke KWI, yang rencananya akan dilanjutkan dengan kunjungan ke Persekutan Gereja-Geraja di Indonesia (PGI), tidak ada urusannya dengan Pemilihan  Presiden (Pilpres).

“Kita berbicara tadi kan sudah saya sampaikan, berbicara mengenai Pancasila, mengenai keragaman dan perbedaan-perbedaan,” ucap Presiden Jokowi.

 

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home