Loading...
DUNIA
Penulis: Sabar Subekti 15:04 WIB | Senin, 22 Februari 2021

Militer Myanmar Ancam Tindakan Tegas, Demonstrasi Terus Digelar

Pengunjuk rasa anti kudeta memegang tanda bertuliskan "Kami Tidak Menerima Kudeta Militer" saat mereka berkumpul di bawah jalan raya yang ditinggikan di luar Pusat Hledan di Yangon, Myanmar, hari Senin (22/2). Seruan untuk pemogokan umum Senin oleh para demonstran di Myanmar yang memprotes perebutan kekuasaan oleh militer telah ditanggapi oleh junta yang berkuasa dengan ancaman terselubung untuk menggunakan kekuatan mematikan, meningkatkan kemungkinan bentrokan besar. (Foto: AP)

YANGON, SATUHARAPAN.COM-Para pengunjuk rasa berkumpul di kota terbesar Myanmar, Yangon, pada Senin (22/2) meskipun junta militer yang berkuasa mengancam untuk menggunakan kekuatan mematikan jika orang-orang menyeruan pemogokan umum yang menentang pengambilalihan militer tiga pekan lalu.

Meskipun ada penghalang jalan di sekitar Kedutaan Besar Amerika Serikat di Yangon, lebih dari seribu pengunjuk rasa berkumpul di sana, sementara 20 truk militer dengan polisi anti huru-hara telah tiba di dekatnya.

Kerumunan berkumpul setelah para pendukung Gerakan Pembangkangan Sipil, sebuah kelompok terorganisir yang memimpin perlawanan, menyerukan orang-orang untuk bersatu pada hari Senin untuk "Revolusi Musim Semi."

Junta militer memperingatkan pemogokan umum dalam pengumuman publik yang disiarkan hari lalu di stasiun televisi Negara, MRTV.

“Ternyata para pengunjuk rasa telah meningkatkan hasutan mereka terhadap kerusuhan dan anarki pada hari 22 Februari. Para pengunjuk rasa sekarang menghasut orang-orang, terutama remaja dan pemuda yang emosional, ke jalur konfrontasi di mana mereka akan menderita kehilangan nyawa,” kata teks di layar televisi dalam bahasa Inggris, menerjemahkan pengumuman lisan dalam bahasa Burma.

Pengunjuk rasa anti-kudeta memegang poster bertuliskan "#Tolak Kudeta Militer #Save Myanmar" saat mereka berkumpul di bawah jalan layang di luar Pusat Hledan di Yangon, Myanmar Senin (22/2). (Foto: AP)

 

 

 

 

Pernyataan junta juga menyalahkan penjahat atas kekerasan protes di masa lalu, dan bahwa "anggota pasukan keamanan harus membalas." Sejauh ini, tiga pengunjuk rasa telah ditembak mati.

Di Yangon, truk-truk melaju di jalan-jalan pada hari Minggu malam dengan membunyikan peringatan agar tidak menghadiri pertemuan lima orang atau lebih. Larangan pertemuan semacam itu dikeluarkan tak lama setelah kudeta, tetapi tidak diindahkan secara luas karena kota-kota menyaksikan demonstrasi besar setiap hari.

Pihak berwenang semalam juga mencoba memblokir jalan-jalan utama dengan penghalang termasuk traktor-trailer dengan ban pipih, tetapi mereka disapu oleh pengunjuk rasa. (AP)

Editor : Sabar Subekti

BPK Penabur-Start Up
Zuri Hotel
Back to Home