Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 11:58 WIB | Minggu, 27 Oktober 2019

“Mimpi Basah” Enam Belas Perupa Muda

“Mimpi Basah” Enam Belas Perupa Muda
Pameran bersama kelompok Kelas Bebas bertajuk “Mimpi Basah” di Lembaga Indonesia Jerman, 26 Oktober – 2 November 2019. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
“Mimpi Basah” Enam Belas Perupa Muda
Stance – cukil kayu di atas kertas – 40 cm x 30 cm – Surya Adiwijaya – 2019.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Enam belas seniman-perupa muda yang merupakan mahasiswa Seni Rupa ISI Yogyakarta angkatan 2018 dan tergabung dalam kelompok Kelas Bebas, mempresentasikan karya dua-tiga matra di Lembaga Indonesia Jerman. Pameran bertajuk “Mimpi Basah” dibuka bersama perupa Yaksa Agus Widodo dan pengajar Seni Rupa ISI Yogyakarta AC Andre Tanama, Sabtu (26/10) malam.

Keenambelas seniman-perupa muda tersebut adalah Warisman, Caraka Paksi, Adita Satya Dharma, Munir, Bagus Andreansyah, Jalatarang, Dwi Bagus, Rifki A, Athallah Jiwo, Deo Sariputra, Ahmad Sofiudin, Ageng Jatmiko, Surya Adiwijaya, Gita Libra, Kirana Nir Linggar, Atho Illaha.

Dalam sambutannya Yaksa memberikan penekanan pentingnya pameran kelompok bersama sebagai bagian dari proses berkarya yang merupakan tradisi sekaligus penanda perjalanan sejarah kelompok tersebut.

“Mimpi basah menjadi salah satu penanda fase kedewasaan. Saya akan menyampaikan kutipan dari Bapak Seni Rupa Indonesia Modern S Sudjojono yang pernah menulis di Koran Pemandangan tepatnya pada 26 Oktober 1943 dengan judul Bahaja Seorang Seniman Moeda. Tulisannya sangat provokatif,” papar Yaksa dalam pembukaan pameran, Sabtu (26/10) malam.

Berikut petikan tulisan S Sudjojono dalam Koran Pemandangan: “...Dalam vitalitasnya seorang seniman muda sering belum bisa membedakan kesenian yang hanya dibuat oleh kepintaran tangan (technische vaardigheid~technical skill) dengan kesenian dari dalam. Hambatan itu disebebkan oleh rasa seninya yang diruwetkan oleh mani cinta. Bagaimanapun seorang seniman tidaklah bekerja dalam kekosongan. Mereka sedang terpanggil untuk menangkap jiwa zaman (zeit geist). Dengan demikian karya-karya yang dibuat mempunyai ‘Daya Gugah’. Hambatan rasa seni yang diruwetkan oleh ‘mani’ cinta dunia haruslah dienyahkan. Seniman yang rasa seninya rusak, sejrah tidak akan mengenalnya...”

Senada dengan Yaksa, Andre Tanama menyampaikan bahwa sudah menjadi semacam tradisi bahwa setiap mahasiswa seni murni berpameran di luar kampus. Agar mereka terus dihujani kemauan untuk terus berproses melahirkan karya-karya.

Dalam pengantar pameran Andre Tanama menuliskan tema Mimpi Basah diambil sebagai istilah untuk menggambarkan remaja lelaki yang baru memasuki masa pubertas. Dalam hal ini mereka ‘mengaku’ baru mengenal seni rupa. Mimpi basah merupakan ungkapan keinginan untuk melakukan suatu ‘hal’ yang akan merangsang atau bahkan menjadi candu.

Tajuk Mimpi Basah menjadi lebih menarik jika dibaca dalam perspektif psiko-analisis. Jauh sebelum mengenal libido sexualis ala Freudian, orang tua sudah mengenal dan mendalami epos Ramayana dengan kandungan pendidikan dalam bidang yang lebih lengkap. Tokoh Hanoman misalnya salah satu tokoh utama dalam Ramayana sesungguhnya mengacu pada sperma.

“Khasanah kebudayaan yang ada di berbagai tradisi yang kita miliki mungkin bisa menjadi inspirasi sekaligus dimaknai secara lebih mendalam dan luas bagi seniman muda dari berbagai disiplin seni,” jelas Andre Tanama saat memberikan sambutan.

Pameran perupa muda bertajuk “Mimpi Basah” berlangsung di Lembaga Indonesia Jerman, Jalan Prawirotaman MG III No 589, RT 26/RW 7, Brontokusuman, Mergangsan-Yogyakarta, berlangsung hingga 2 November 2019.

 

UKRIDA
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home