Google+
Loading...
LAYANAN PUBLIK
Penulis: Dewasasri M Wardani 18:07 WIB | Selasa, 12 Februari 2019

MRT Fase 1 Kurangi Emisi 85.680 Ton CO2

Petugas menaiki kereta Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta fase I koridor Lebak Bulus - Bundaran HI yang sedang diuji coba di Jakarta, Kamis (7/2/2019). Transportasi massal berbasis rel itu rencananya akan terintegrasi dengan moda lainnya seperti LRT dan KRL Commuterline agar memudahkan masyarakat mengakses dan menggunakan transportasi umum. (Foto: Antaranews.com/Hafidz Mubarak)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) Ahmad Safrudin mengatakan, Moda Raya Terpadu (Mass Rapid Transit/MRT) Jakarta fase 1 yang melintasi Lebak Bulus hingga Bundaran Hotel Indonesia, diperkirakan akan mengurangi emisi hingga 85.680 ton karbon dioksida (CO2) per tahun.

Ahmad kepada Antara di Jakarta, Selasa (12/2), mengatakan angka tersebut didapat dengan memperhitungkan sumbangan emisi CO2 dari 175.000 orang yang melintasi jalur MRT Jakarta fase 1 saat ini adalah 64.260 ton per tahun dari sepeda motor, dan 107.100 ton per tahun dari mobil (total 171.360 ton CO2).

Pengoperasian MRT Jakarta fase 1 sepanjang 16 kilometer (km) diperkirakan akan menghasilkan emisi sebesar 85.680 ton CO2 per tahun.

Dengan angka tersebut, menurut Ahmad, masih kecil menyumbang pengurangan emisi CO2 di Jakarta. Apalagi ditambah budaya bertransportasi publik massal belum terbentuk di masyarakat Jakarta dan sekitarnya.

“Ini (mengubah budaya) jadi tantangan, termasuk memaksa Pemerintah untuk menambah kuantitas dan meningkatkan kualitas angkutan umum massalnya agar nyaman aman dan terjadwal baik,” katanya.

Sebelumnya, Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar mengatakan, kapasitas maksimal MRT Jakarta fase 1 mencapai 175.000 penumpang per hari. Namun, untuk awal operasional, pihaknya menargetkan mampu memobilisasi 60.000 penumpang per hari.

“Kemudian saya targetkan akhir tahun ini (2019) bisa dapat 130.000 penumpang per hari. Dari situ, kita akan coba tingkatkan terus,” katanya.

Alasan pihaknya hanya menargetkan sekitar 60.000 penumpang di awal operasional, karena MRT Jakarta baru belajar berintegrasi dengan moda transportasi publik lain, sehingga belum terlalu berambisi menetapkan target tinggi, kata William.

“Tapi kalau kita bisa capai (60.000 penumpang) itu, pelan-pelan bisa kita tingkatkan,” katanya. (Antaranews.com)

 

 

Back to Home