Google+
Loading...
EKONOMI
Penulis: Reporter Satuharapan 12:57 WIB | Selasa, 12 Februari 2019

Mukjizat Daun Kelor Gerakkan Ekonomi di Lombok

Ilustrasi. Daun kelor dan olahan bubuk daun kelor. (Foto: Dok satuharapan.com/Google/Z Living)

LOMBOK, SATUHARAAN.COM – Berawal dari keingintahuan untuk menyembuhkan luka, Mawar Junita mulai meracik dan mengonsumsi bubuk daun kelor. Dari mulut ke mulut, cerita Mawar dan khasiat daun kelor berkelana hingga pelosok Nusantara. Mawar dan bubuk daun kelornya, kini, memberdayakan perempuan Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Mawar Junita tak menyangka, kecelakaan motor yang dialaminya di wilayah tempat tinggalnya, Lombok Utara, Maret tahun lalu, menjadi awal kecintaannya terhadap daun kelor yang memiliki nama ilmiah Moringa oleifera.

Terdorong keinginan cepat pulih, ia berselancar di dunia maya, mencari pengobatan alternatif untuk luka yang dideritanya. “Saya browsing, mencari artikel ramuan apa pun yang cepat menyembuhkan luka baik dari dalam maupun dari luar,” ujarnya kepada Nurina Savitri dari ABC melalui sambungan telepon.

“Lantas saya menemukan sebuah artikel tentang kelor. Ternyata kelor mempercepat penyembuhan luka dari dalam dan penumbuhan jaringan-jaringan kulit.”

Mawar lalu mengonsumsi bubuk kelor kiriman temannya dari Yogyakarta. Namun, karena pasokannya terbatas, ia memutuskan untuk meracik sendiri, “Luka cepat kering setelah saya minum seminggu.”

Merasakan manfaat pemulihan yang begitu besar, Mawar lalu membagikan kisahnya dan bubuk daun kelor buatannya ke media sosial. Gayung pun bersambut, ceritanya ditanggapi seorang kawan di Jawa Barat.

“Ternyata ada teman saya dari Tasikmalaya, anaknya sakit lupus, mukanya itu merah-merah dan dia harus beli obat yang harga 1 jutaan untuk 1 minggu. Terus dia cari referensi dan ketemu daun kelor.”

“Masalahnya di sana ‘kan enggak ada. Pas dia lihat Instagram saya, dia tanya siapa yang buat? Saya bilang saya sendiri yang buat, tapi bukan untuk jualan, iseng-iseng saja. Terus saya buatkan, ternyata merah di wajah anaknya banyak berkurang. Akhirnya dia jadi reseller.”

Dari kamar kos di Desa Tanjung, Lombok Utara, Mawar memulai memproduksi dengan dibantu seorang rekan.

Tak lama berselang, bubuk daun kelor buatan Mawar makin sering dipesan. Lewat obrolan mulut ke mulut dan postingan medsos, racikannya mulai merambah sejumlah kota di Indonesia.

“Dari teman saya di Tasikmalaya itu, ada beberapa orang lagi jadi reseller di Jawa Barat. Kemudian ada juga di Jakarta, Jawa, sampai Sumatera,” tutur perempuan asal Aceh ini.

Mengajak Perempuan di Lingkungannya

Mawar juga membagikan beberapa resep makanan yang berbahan baku bubuk daun kelor di akun medsosnya. Ia ingin masyarakat mendapat informasi tambahan mengenai nutrisi anak.

“Biar orang tahu kalau daun kelor itu enggak hanya untuk sayur, tapi bisa diolah menjadi beberapa makanan. Akhirnya (bubuk kelor) ini jadi booming.”

Kebutuhan daun kelor pun meningkat. Ia memerlukan dalam jumlah lebih besar, yang tak sanggup dipenuhinya sendiri.

Tergelitik oleh ketidaktahuan warga setempat akan manfaat daun kelor, ia bertekad mengajak para perempuan di lingkungannya untuk menjadi pemasok.

“Ibu-ibu di sini kan banyak janda, TKI juga, karena pernikahan dini begitu punya anak terus ditinggal, ada yang anaknya putus sekolah,” katanya, “Jadi saya piker, mereka kan enggak ada kerja dan kelor banyak, daripada duduk-duduk paling enggak saya bisa ajarkan mereka bagaimana menyiapkan daun kelor dan memasoknya ke saya.”

Salah satu sosok pemasok daun kelor untuk Mawar adalah Dayu Santika (46), ibu dua anak yang tadinya bekerja serabutan sebagai pemasok kopi dan tenaga domestik rumah tangga.

Buk Dayu, begitu ia akrab disapa, mengaku tergiur menjadi pemasok karena Mawar membeli daun kelor darinya dengan harga lebih tinggi dari pasaran. “Keuntungannya lumayan, kalau sekilo daun kelor itu 50 ribu, kalau saya metik sendiri ya lebih banyak dapatnya,” kata Dayu kepada ABC, seraya bersyukur tas gagasan Mawar.

Dayu membeli daun kelor basah dari warga di sekitar Pulau Lombok. Sebelum disetor ke Mawar, ia -dibantu suami -mengeringkannya terlebih dahulu di rumah.

“Dalam sehari saya menyetor 3 kg, itu juga sudah capek sekali. Saya kerja dari jam 3 sore sampai jam 2 dini hari, paginya saya jemur sampai jam 1 siang, jam 2 sudah saya kasih Mbak Mawar,” ia menjelaskan.

Ia mengaku, 3 bulan belakangan, order dari Mawar meningkat pesat seiring banyaknya pesanan bubuk kelor.

Dari setoran daun kelor ini, Dayu mampu membiayai kuliah anaknya dan menambah penghasilan keluarga.

Di bawah bimbingan Mawar, saat ini belasan perempuan dari beragam latar belakang telah menjadi pemasok daun kelor.

“Sudah seperti itu, saya pun masih kekurangan bahan baku,” pengakuan Mawar.

Jadi Produk Unggulan

Kepada ABC, Mawar menuturkan produksi bubuk kelor yang dilakoninya bukanlah bisnis yang hanya berpatok pada keuntungan finansial. “Karena pemasok daunnya itu ibu-ibu, jadi sebenarnya ini bukan pure business tapi lebih ke social entrepreneur,” katanya.

Ia lantas menceritakan ihwal mengajak para perempuan di sekitar Lombok memasok daun kelor demi peningkatan ekonomi mereka. Terlebih para perempuan ini begitu awam akan kandungan gizi dari daun kelor.

“Awalnya karena mereka enggak tahu, dan keloarnya dibuang-buang. Kan enggak mungkin mereka makan sayur (kelor) setiap hari? Akhirnya daun itu dikasih ke kambing, dikasih ke lembu, saya bilang saja ‘kambing di sini sehat-sehat, terus anaknya stunting dan gizi buruk’,” ujarnya sambil tersenyum.

Kini, Mawar gunakan akhir pekan untuk turun ke lapangan bertemu dengan sesama kaum perempuan dan mengedukasi mereka. “Saya kumpulkan ibu-ibu satu desa, menjelaskan ke mereka kalau kelor ini manfaatnya tinggi.”

Hingga akhirnya Pemerintah setempat mendengar permintaan terhadap bubuk kelor Mawar yang cukup tinggi setiap harinya. Di sisi lain, ia mengalami kekurangan bahan baku untuk di Lombok Utara.

“Otomatis kan saya harus melebarkan sayap ke kabupaten lain,” katanya.

Usaha Mawar ini pun berbuah manis. Pemerintah setempat, di bawah Dinas Pertanian, akhirnya menganggarkan program pemanfaatan pekarangan rumah.

“Jadi mereka membuat program kelorisasi di Lombok Utara. Paling enggak di Bappeda (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah), mereka sudah menanam biji kelor, nanti dibagi-bagikan ke masyarakat.”

Baru-baru ini, Pemerintah Lombok Utara bekerja sama dengan Pemerintah Malaysia memasarkan produk-produk unggulan Lombok Utara ke negeri jiran tersebut. Bubuk daun kelor buatan Mawar berhasil masuk di dalam salah satu kategori ekspor.

“Untuk bulan Januari saja saya memproduksi 35 kilo daun kering. Begini, 4 kilo daun basah itu jadi 1 kilo daun kering.”

“Nah, bulan April, mereka sudah mulai mengekspor. Jadi butuhnya puluhan ribuan kilo per bulannya bahkan sampai satu ton,” kata Mawar.

 

Back to Home