Google+
Loading...
INSPIRASI
Penulis: Yoel M Indrasmoro 06:37 WIB | Jumat, 27 September 2019

Mung Mampir Ngombe

Tampaknya, orang kaya itu sengaja membiarkan Lazarus tetap dalam kemiskinannya. Dan tindakan itu berpengaruh terhadap kehidupan pascadunianya.
Orang kaya dan Lazarus (foto: istimewa)

SATUHARAPAN.COM – Mung mampir ngombe ’cuma mampir minum’. Demikianlah salah satu pemahaman Jawa tentang hidup. Hidup di dunia itu tak lama. Sebentar. Seperti orang minum. Pemahaman ini juga mengandaikan adanya kehidupan pascadunia. Semua ada waktunya. Ada waktu lahir, ada waktu meninggal.

Itu jugalah yang dikatakan Yesus: ”Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur.” (Luk. 16:22-23). Kekayaan maupun kemiskinan tidak bisa mengelakkan manusia dari kematian. Dan waktu yang dikaruniakan Allah—meski sebentar—bukan tanpa konsekuensi. Allah menuntut pertanggungjawaban manusia.

Sebelumnya Lukas mencatat: ”Di depan pintu rumahnya diletakkan seorang miskin bernama Lazarus. Badannya penuh dengan borok. Ia ingin mengisi perutnya dengan remah-remah yang jatuh dari meja orang kaya itu. Anjing bahkan datang menjilat boroknya” (ay. 20-21). Tampaknya, orang kaya itu sengaja membiarkan Lazarus tetap dalam kemiskinannya. Dan tindakan itu berpengaruh terhadap kehidupan pascadunianya.

Pada masa itu orang kaya biasa mengelap tangan mereka bukan dengan serbet, tetapi roti. Dan roti bekas lap tangan itulah yang dimakan Lazarus! Orang kaya itu memang tidak peka dengan lingkungannya. Di alam maut pun, dia masih merasa lebih hebat dari Lazarus. Bagi dia, Lazarus hanya pantas menjadi pesuruh. Sehingga dia meminta Abraham agar menyuruh Lazarus menolongnya (ay. 24). Namun, Abraham tidak mengabulkannya.

Sejatinya setiap orang percaya dipanggil untuk berseru bersama pemazmur: ”Aku hendak memuliakan TUHAN selama aku hidup, dan bermazmur bagi Allahku selagi aku ada” (Mzm. 146:2). Yang dimaksud dengan memuliakan Tuhan bukanlah sekadar membuka mulut untuk memuji Tuhan, tetapi juga membuka hati untuk melakukan apa yang Tuhan lakukan, khususnya bagi orang miskin.

Ingat: urip mung mampir ngombe!

Editor : Yoel M Indrasmoro

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home