Loading...
INSPIRASI
Penulis: Endang Hoyaranda 18:21 WIB | Minggu, 02 Desember 2018

Mutiara Tak Pernah Salah

Kita bisa belajar banyak dari alam. Jika butiran pasir saja bisa membentuk mutiara, bayangkan kehidupan yang terbangun oleh cinta kasih (Endang Hoyaranda)
Mutiara hasil luka (foto: istimewa)

SATUHARAPAN.COM – Dalam dunia busana, khususnya perempuan, berlaku satu kaidah: jika Anda tidak yakin akan perhiasan apa yang akan Anda gunakan, pakailah mutiara. Karena mutiara tak pernah salah. Sejumlah ikon perempuan dunia masa lalu memeloporinya.

Di antaranya adalah Jacqueline Kennedy, first lady Amerika Serikat yang hingga kini paling banyak dibicarakan orang karena kecantikannya dan gaya berpakaiannya; Grace Kelly, aktris kondang tahun 1950-an yang kemudian diperisteri oleh Raja Monaco; Elizabeth Taylor, aktris super cantik dan pemain watak yang tidak ada tandingnya pada masanya. Menurut mereka: Pearls can never go wrong”. Dan mereka hanya beberapa dari banyak perempuan yang memiliki koleksi mutiara yang indah dan berharga yang menjadi sasaran fotografer.

Mengapa mutiara mendapat tempat begitu istimewa?

Pertama, mutiara adalah hasil pembentukan oleh alam yang diproduksi karena kehidupan yang tersakiti. Mutiara adalah air mata yang dihasilkan oleh kerang yang terluka oleh pasir yang masuk ke tubuhnya. Kerang menggunakan getahnya untuk membalut pasir yang melukainya itu dan dalam proses selama bertahun-tahun, balutan itu kemudian membentuk mutiara yang indah.

Sama dengan kehidupan manusia: kehidupan yang indah terbentuk karena proses belajar yang tidak jarang menyakitkan, namun pada akhirnya menjadikan hidup itu semakin istimewa. Sebagaimana kerang yang tidak pernah tersakiti tak akan pernah menghasilkan mutiara, demikian pula hidup yang tidak ditempa, tidak akan pernah menjadi hidup yang bermakna, karena dari luka dan kekalahan,  diperoleh pelajaran paling berharga.

Kedua, mutiara juga menjadi simbol perjuangan. Sebab hanya dengan menyelam jauh ke lautan yang dalam, baru akan diperoleh mutiara terindah. Mereka yang bersedia meyelam dalam akan membawa pulang mutiara terlangka.

Dalam kehidupan, mereka yang bersedia belajar terus-menerus, keluar dari zona nyaman, mencari cara baru dalam menyelesaikan persoalan kehidupan, adalah mereka yang akan menuai kehidupan yang paling berharga.  Sebagaimana  kerang yang tak tersakiti tak akan pernah menghasilkan mutiara, demikian pula kehidupan manusia yang tak dihantam pengalaman pembelajaran, tak akan berkembang menjadi kehidupan yang berharga.

Dalam pembentukan kerang, mutiara yang dihasilkan akan baik atau kurang baik. Demikian juga hasil pembelajaran manusia terhadap pengalaman hidup bisa baik atau kurang baik. Jika keindahan mutiara tergantung pada proses pembentukan oleh Sang Kerang, demikian pula hasil pembelajaran hidup akan tergantung pada diri manusianya. Hasil pembelajaran yang baik akan terpancar indah dari karakter dan kearifan manusia pembelajarnya

Mutiara tidak pernah salah.  Ia adalah keindahan yang menjadi bukti pembelajaran hidup yang membawa makna. Dan sebagaimana kerang dapat membentuk mutiara dengan berbagai rupa dan warna, begitu pula hidup manusia bisa memancarkan corak dan warna yang berbeda, tergantung bagaimana proses pembelajaran dimaknai.

Karena itu, jika warna yang diinginkan dalam hidup adalah warna cinta kasih, maka tentu cinta kasihlah yang akan ditebar sepanjang proses pembelajaran, dengan demikian cinta kasih jualah yang akan dituai sebagai hasil pembelajaran.

Dunia ini adalah kerang kita. Hidup kita adalah kerang kita. Bagaimana mutiara akan berhasil dibentuk dalam dunia dan hidup kita, sepenuhnya tergantung dari kesediaan kita untuk belajar dari dunia kita.

Editor : Yoel M Indrasmoro


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home