Google+
Loading...
ANALISIS
Penulis: JC Pramudia Natal 00:00 WIB | Rabu, 04 Januari 2017

Naik Turun Gunung Pendidikan Indonesia

Tahun 2016 yang baru dilewati memberi banyak pengalaman pada dunia pendidikan, sekaligus tantangan yang makin berat ke depan.

SATUHARAPAN.COM - Tidak ada yang begitu membanggakan hati penulis sebagai seorang guru selain menyaksikan begitu tingginya antusiasme guru pada tahun 2016 ini. Yang lebih menggembirakan hati adalah latar dan bagaimana para guru berkolaborasi. Baik guru Sekolah Negeri atau Sekolah Swasta menunjukkan keinginan tinggi untuk belajar melalui berbagai media.

Dari sektor publik, Ikatan Guru Indonesia (salah satu dari sekian organisasi professional guru di Indonesia) termasuk yang paling getol menyelenggarakan pelatihan. Pelatihan Pelatih (Teaching of Coach, Teaching of Trainer) diselenggarakan baik secara luring (luar jaringan/aksi langsung) dan juga daring (dalam jaringan/webinar). Dengan materi-materi pelatihan saat ini yang mayoritas bertujuan mengintegrasikan penggunaan TI ke dalam pembelajaran, tentu sangat menguatkan hati kita bahwa ke depannya semakin banyak pelatihan yang akan lebih berfokus kepada pengembangan perencanaan dan pelaksanaan kurikulum yang lebih dan semakin konstruktif.

Dari sektor swasta, Cikal di bawah pimpinan ibu Najelaa Shihab dan bimbingan Bukik Setiawan juga tidak henti bergerilya mengenalkan pengembangan dan pembimbingan psikologi positif, baik kepada guru dan lebih jauh kepada keluarga. Bagi Guru secara rutin Kampus Guru Cikal menawarkan pelatihan-pelatihan yang bertujuan mengembangkan kemampuan pengaturan kelas dan difersifikasi aktivitas pembelajaran di kelas. Melalui KeluargaKita pelatihan dan pembimbingan komunikasi dan pola asuh di dalam keluarga diberikan. Yang menarik dari grup ini adalah para jebolan pelatihan mereka dimotivasi membagi apa yang mereka dapat kepada golongan sekaum. Apabila para guru difasilitasi dengan Grup Facebook Komunitas Guru Belajar dan Surat Kabar Guru Belajar, para Orang Tua diminta berbagi mengenai keluarga siapa saja yang akan mereka bagi hasil pelatihan mereka.

Satu hal positif dari aktivitas belajar para guru ini (ya, mereka belajar dan saling mengajar) adalah betapa berkelindannya kedua sektor melalui jejaring sosial. Facebook, Whatsapp, Telegram secara masif mereka gunakan untuk saling berbagi tips, permasalahan, dan solusi kegiatan belajar.  Kita harapkan bahwa keaktifan mereka secara positif di jaring sosial menjadi suri teladan bagaimana ber-warga-daring (netizen) secara sehat dan konstruktif.

 

Kembang Kempis Kebijakan

Sementara pendidikan di sektor akar rumput, melalui guru dan administrasi sekolah sebagai salah satu pelaksana, konsisten melaksanakan perubahan konsistensi yang serupa tidak dapat diharapkan dari pemerintah.

Muhadjir Effendy memang mulai berani mengambil langkah nyata terhadap semua “muntahan ide” yang ia buat di awal masa nahkodanya di Kementerian Pendidikan Nasional. Namun sayangnya langkah nyatanya belum bisa memenuhi kebutuhan pendidikan nasional, baik itu karena hambatan konstitusional atau hambatan nilai/konseptual.

Langkah Mendiknas yang paling popular secara pedagogi tentu saja adalah Moratorium UN. Ironis bahwa terlepas dari suara rakyat pendidikan yang begitu senada mengenai kegagalan UN (murid, orang tua, guru, Ahli Pendidikan, Menteri Pendidikan, dan bahkan saat masih Capres, Jokowi juga berjanji menghapus UN), rapat para wakil rakyat menyatakan bahwa UN masih dibutuhkan. Kasus ini akan menjadi cerminan betapa yang terjadi di dalam ruang rapat sana masih jauh panggang dari api dengan yang dibutuhkan di dalam kehidupan nyata.

Ironis bahwa ketika langkah yang merakyat tidak direstui, langkah lain Mendiknas yang tidak merakyat (atau mengeluarga) justru berlanjut secara perlahan, konsep Sekolah Sehari Penuh. Melalui pelaksanaan Sekolah Sehari Penuh, manusia (murid, guru, dan orang tua) direnggut dari ikatan paling dasar kehidupan, keluarga.

Keluarga, yang semula merupakan alasan, sumber kekuatan, dan tujuan dari semua kegiatan diubah menjadi hanya sekadar tempat bermalam sebelum esok hari tiba untuk bertugas kembali. Orang tua bertugas di kantornya, para guru di sekolahnya, dan para murid dengan pelajarannya di sekolah. Dua pedagog, Robert Marzano (What Works in School Translating Research into Action) dan John Hattie (visible-learning.org) memaparkan bagaimana lingkungan keluarga berperan krusial mendukung perkembangan kognitif anak melalui partisipasi orang tua, struktur aktifitas keluarga, dan keseimbangan sosioekonomi.

Tidak hanya mengganggu keseimbangan hidup keluarga peserta didik, secara legal praktik Sekolah Sehari Penuh adalah mengambinghitamkan sekolah untuk mengambil tanggung jawab pemerintah dalam membimbing keluarga, Guru di sekolah diberi jam ekstra untuk menjaga anak karena pemerintah tidak mampu merancang kebijakan pembangunan keluarga nasional. Ketidakmampuan orang tua dalam membangun kehidupan yang seimbang telah dicoba didampingi dan dibina oleh Kemendiknas era Anies Baswedan melalui direktorat Ayah Bunda, bagaimana era sekarang? Mungkin pak Muhadjir kembali harus putar kepala menyeimbangkan prioritas antara KJP, kompetensi lulusan SMK, dan pengembangan keluarga Indonesia sebagai penguatan soko guru pendidikan nasional.

 

Kontekstualkah Pendidikan Kita

Hasil tes PISA (Programme for International Student Assessment) tahun 2015 telah dirilis pada 6 Desember lalu dengan Indonesia menempati peringkat 62 dari 70 negara. Berkaca dari hasil keikutsertaan Indonesia sejak tahun 2000, aktivis pedagogi Kreshna Aditya membagi telaahnya bahwa terdapat beberapa tren positif terhadap nilai yang diraih pelajar Indonesia, yaitu.

  1. Sejak 2012 Indonesia mengalami peningkatan 21 poin, menjadikan kita sebagai negara peringkat ke-5 dalam peningkatan nilai antara 2012-2015.
  2. Sejak 2006 Indonesia mengalami peningkatan 69 poin menjadikan kita sebagai negara peringkat ke-3 dalam peningkatan nilai antara 2006-2015.
  3. Dengan minimal perkembangan seperti ini diproyeksikan murid kelahiran 2012 mampu menggapai rataan kemampuan setara negara 10 besar di tahun 2030.

Bahwa nilai PISA menjadi titik fokus penulis adalah karena PISA adalah tes standar internasional yang menuntut siswi-siswa mengaplikasikan pengetahuan konseptual mereka melalui soal-soal berbasis kehidupan nyata.

Walau memang Indonesia mengalami tren positif seperti di atas, namun jika pelajar nasional (yang notabene mayoritas semua lulus dan akan lulus UN) harus menunggu satu-dua dekade lagi untuk menjadi macan intelektual internasional, maka tanda tanya besar harus dialamatkan kepada kebijakan dan pengambil kebijakan negeri ini.

Sementara PISA membingkai kontekstualitas hidup dalam soal ujian, realita lebih keruh menanti para murid di Indonesia. Hingar-bingar yang mendistorsi kebhinekaan juga telah mulai memasuki dunia pendidikan. Beberapa kasus yang mengangkat ujaran kebencian terhadap pandangan berbeda kerap dilakukan oleh insan-insan yang aktif dalam dunia pendidikan. Tidak hanya unggahan-unggahan oleh seorang pengajar dan/atau mahasiswa, kasus terakhir bahkan memaparkan bagaimana ujaran kebencian dipaparkan oleh mereka yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Berkaca dari fakta ini tidak kah pemerintah seharusnya berkaca akan kontekstualitas kurikulum pendidikan Indonesia, terhadap pengembangan kognisi pelajar sebagai intelektual dan pertumbuhan kepekaan sosial peserta didik sebagai anggota masyarakat?

 

Seruan Akar Rumput

Mengingat perkembangan dan perjuangan yang telah dilakukan oleh guru di tingkat akar rumput, yang akhirnya perlahan-lahan membuahkan hasil (tren positif nilai PISA tiap penyelenggaraan), seyogyanya pemerintah lebih berkonsentrasi merapihkan birokrasi pelatihan manajemen kelas dan kurikulum kreatif bagi tenaga pengajar dan administrator sekolah.

Di abad yang semakin jauh menghargai kemampuan berkolaborasi di atas standar pribadi, kekeraskepalaan untuk tetap membuang dana menyelenggarakan UN hanya membuat publik semakin apatis akan peran pemerintah dalam pendidikan. Terutama dalam perannya sebagai pengatur kebijakan (dan termasuk anggaran juga di dalamnya).

Keacuhan pemerintah ini kembali menghasilkan suatu langkah curam, baik bagi guru, peserta didik, administrator, dan bahkan orang tua peserta didik. Dalam kerangka kurikulum kognisi para peserta di atas harus bekerja ekstra keras untuk menyeimbangkan kebutuhan peserta didik dan tuntutan standar, dalam kerangka beban anggaran pos-pos pedagogi yang jauh lebih krusial membutuhkan dana kembali harus menyerah hanya demi sesat-nalar-pedagogi pemerintah.

Tabik Pendidikan Nasional 2016 menuju 2017.

 

Penulis adalah Praktisi Pendidikan

Editor : Trisno S Sutanto