Google+
Loading...
INSPIRASI
Penulis: Tjhia Yen Nie 03:53 WIB | Senin, 10 Juli 2017

Nasi Goreng Kampung

Konotasi sebuah kata bisa positif atau negatif, tergantung dari kita yang menilainya.
Nasi goreng (foto: istimewa)

SATUHARAPAN.COM – ”Mahal amat!”seru saya dalam hati membaca harga nasi goreng kampung yang tertera pada daftar makanan yang tersaji. ”Bukannya semakin terasa masakan kampung, harusnya semakin murah ya?” Tentu saja masih dalam hati saya berkata sendiri.

 ”Kalau nasi goreng kampung, sambalnya pun pakai sambal terasi,” jelas pelayan restoran itu.  Saya mengangguk-anggukkan kepala sambil membayangkan sedapnya aroma terasi goreng.

Ternyata tidak hanya nasi goreng kampung saja yang mahal harganya, suasana pedesaan juga menjadi nilai jual sebuah villa atau tempat peristirahatan.  Saya teringat sebuah hotel yang mencantumkan nama suatu kampung.  Dengan mendayung perahu, kamar-kamar dari bambu yang berada di atas danau itu dapat dihampiri, tanpa televisi, tanpa AC juga tentunya, karena dinding kamar pun terbuat dari bambu.  Bukan itu saja, kamar mandinya pun dirancang sedemikian rupa, menggunakan batok kelapa sebagai gayung. Subuh harinya, suara kentongan membangunkan penghuni kamar, dan kudapan pagi berupa jajanan pasar tersaji dengan teh hangat di atas perahu, diiringi suara jengkerik dan kodok yang bersahutan.

”Ini namanya pedesaan, ya?” saat itu anak saya menanyakan pada saya, sambil melewati jalan setapak menuju lobi hotel.  Tentu ada yang suka, ada juga yang tidak menyukai suasana alam tersebut.  Tetapi, harga menginap di hotel itu, tidak kalah dengan harga menginap di hotel berbintang lima yang ada di kawasan ibukota. 

Setelah menimbang dan membayangkan lezatnya nasi goreng gerobak yang setiap jam tujuh malam lewat di depan rumah saya saat saya kecil, akhirnya saya pesan juga nasi goreng kampung yang harganya mahal itu. Dengan perlahan saya menikmatinya.  ”Lha, sudah mahal, kok enggak terasa rasa kampungannya?” protes saya dalam hati.

Ternyata kata kampung dan desa itu tidak selalu berarti murahan, dan itu jadi ajang bisnis bagi para orang-orang yang pandai meliriknya.  

Jadi, konotasi sebuah kata bisa positif atau negatif, bukan tergantung dari katanya, namun dari kita yang menilainya. 

 

Email: inspirasi@satuharapan.com

Editor : Yoel M Indrasmoro

Back to Home