Google+
Loading...
RELIGI
Penulis: Prasasta Widiadi 11:46 WIB | Minggu, 25 Desember 2016

Natal Mengingatkan Manusia Membutuhkan Juru Selamat

Natal Mengingatkan Manusia Membutuhkan Juru Selamat
Pendeta Ellen Polii Tamunu (jubah putih, di atas mimbar) berkhotbah dalam Ibadah Natal Gereja Protestan Indonesia bagian Barat (GPIB) Koinonia, hari Minggu (25/12), di GPIB Koinonia, Jalan Matraman Raya, Jakarta Pusat. (Foto-foto: Prasasta Widiadi)
Natal Mengingatkan Manusia Membutuhkan Juru Selamat
Paduan Suara Pelayanan Kategorial Persekutuan Kaum Perempuan GPIB Koinonia (seragam merah) menampilkan kebolehan acapella pada Ibadah Natal Gereja Protestan Indonesia bagian Barat (GPIB) Koinonia.
Natal Mengingatkan Manusia Membutuhkan Juru Selamat
Pendeta Ellen Polii Tamunu (jubah putih, paling kiri) bersama dengan sejumlah diaken dan presbiter menyalami jemaat GPIB Koinonia setelah kebaktian Natal.

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Pendeta Jemaat Gereja Protestan Indonesia bagian Barat (GPIB) Koinonia Jakarta, Ellen Polii Tamunu mengingatkan Natal yang diperingati umat Kristiani setiap tahun tidak sekadar hari libur, namun Natal mengingatkan bahwa umat membutuhkan kehadiran Juru Selamat.

“Natal mengingatkan kita bahwa benar kita membutuhkan-Nya, sesungguhnya kita tidak dapat  hidup tanpa Dia,” kata Ellen Polii Tamunu saat memberi khotbah Natal di GPIB Koinonia, Jalan Matraman Raya, Jakarta, hari Minggu (25/12).

“Kekuatan dalam diri kita adalah dari Dia, dari Tuhan Yesus Kristus yang kita sambut kedatangan-Nya hari ini. Setiap hari kita memiliki pengharapan,  dan pengharapan itu tidak hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk hari esok,” kata dia.

Ellen Polii Tamunu melandasi khotbahnya dari perikop Matius 2:1-12, yang berjudul “Orang-orang Majus dari Timur”.

Keselamatan, kata Ellen Polii, adalah datang dari Yesus Kristus sehingga kehadiran Yesus Kristus tidak semata-mata tentang hari libur umat Kristen yang memperingati kelahiran Yesus Kristus, namun lewat kehadiran Yesus Kristus menyelamatkan manusia, sama artinya dengan mengangkat manusia yang sudah jatuh ke dalam keadaan berdosa seperti dalam Yesaya 53:6 yang berbunyi : “Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi Tuhan telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.”

Ellen Polii menambahkan kutipan lain yang menegaskan manusia jatuh ke dalam dosa, sehingga membutuhkan Juru Selamat yakni dari Roma 3:23: “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.”

Teladan Orang Majus

Ellen Polii menjelaskan jika manusia sudah diselamatkan dari dosa, maka setiap hari diharapkan meniru teladan orang-orang Majus dari Timur (Matius 2:1-12).

“Di hari Natal ini dan setiap perayaan Natal kita tahu bahwa pembicaraan kita tidak saja seputar Natal itu sendiri, tetapi ada bagian-bagian dari cerita natal yang harus kita perhatikan seperti cerita orang Majus,” kata dia.

Ellen menjelaskan, pada perikop tersebut, orang Majus ditampilkan di dalam kisah Natal bukan terjadi secara kebetulan namun kehadiran orang Majus hendak memberi jalan kepada manusia tentang konteks penyelamatan Allah bagi manusia.

“Dia (Tuhan) bukan hanya memakai Maria dalam kelahiran Yesus Kristus, tetapi Tuhan memakai orang-orang yang pintar dan bijaksana seperti orang-orang Majus, oleh karena itu artinya karya penyelamatan Allah terjadi dengan melibatkan semua orang dengan tidak memandang status setiap orang,” kata dia.

Ellen Polii menjelaskan tentang orang-orang Majus tersebut, dari beberapa sumber yang dia baca, orang-orang Majus adalah orang-orang yang berasal dari tempat yang saat ini dikenal dengan Irak.

“Kita bisa bayangkan peristiwa natal mengharuskan mereka melakukan perjalanan panjang menuju Betlehem, dan banyak jalan yang berlubang untuk mencari Yesus yang baru lahir, dan mereka hanya dibekali bintang yang menuntun mereka menuju keselamatan,” kata dia.

“Seringkali mereka (orang-orang Majus) melewati perjalanan panjang dengan tantangan alam yang ganas, di mana badai gurun dapat saja menghadang mereka dan mungkin pertanyaan kita motivasi dari kepentingan apa dari orang-orang majus sehingga mereka menempuh jalan yang panjang jauh dan penuh resiko,” kata dia.

Hal tersebut berlaku juga bagi orang tua Yesus Kristus, Yusuf dan Maria, kata dia. Menurut Ellen Polii, Yusuf dan Maria menerima konsekuensi dan risiko yang berat karena terpilih sebagai orang  tua bagi kelahiran Yesus Kristus.

“Kalau Yusuf dan Maria mau menerima, bagaimana dengan kita sekalian? Kalau kita tidak mau menerima panggilan Tuhan dalam mewujudkan rencana-Nya, maka kasih  Tuhan tidak akan sempurna, karena Yusuf dan Maria menerima tugas itu walau tugas tersebut tidak mudah, risikonya berat,” kata dia.

Ellen Polii menegaskan bahwa orang-orang Majus dari Timur merupakan perumpamaan yang mengarahkan manusia dan orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus agar tetap mencari Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Editor : Diah Anggraeni Retnaningrum

UKRIDA
Gaia Cosmo Hotel
Zuri Hotel
Back to Home