Google+
Loading...
MEDIA
Penulis: Reporter Satuharapan 10:30 WIB | Senin, 18 Februari 2019

Newsdifabel: Mengikis Stigma dan Diskriminasi Penyandang Disabilitas

Ilustrasi. Logo NewsDifabel. (Sumber: www.newsdifabel.com)

SATUHARAPAN.COM – Merasa diperlakukan tidak adil dalam setiap pemberitaan, sekelompok penyandang disabilitas membuat media online yang memberitakan eksistensi mereka.

Media yang diberi nama Newsdifabel ini dikelola langsung para penyandang disabilitas, baik disabilitas netra, daksa, maupun rungu.

Salah satunya Teunku Muslim, penyandang disabilitas daksa. Pria yang akrab disapa Muslim ini bekerja sebagai fotografer di Newsdifabel, dilatari kekecewaan pada media arus utama yang dianggapnya kurang tanggap dalam memberitakan isu disabilitas.

“Selama ini masih sedikit media cetak, elektronik, online yang benar-benar mengangkat masalah difabel. Mereka tidak tahu tapi sok tahu. Itu menurut saya. Makanya, saya tertarik karena teman-teman ini mengajak, sudah kita bikin saja media sendiri, supaya kita bisa menceritakan apa adanya,” kata Muslim kepada Julia Alazka, wartawan di Bandung yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Selain Muslim, ada Dera Sofiarani, reporter Newsdifabel, disabilitas netra. Ia bergabung dengan Newsdifabel lantaran beberapa kali mengalami stigma.

Baginya, Newsdifabel menjadi media untuk menyuarakan hak-hak disabilitas, mengikis stigma dan diskriminasi.

“Senang ada Newsdifabel. Orang nggak tabu lagi sama istilah tunanetra, tunarungu, dan tunadaksa. Kita nggak dibilang cacat atau buta, bahasanya jadi lebih halus,” kata Dera.

Mengubah Paradigma Masyarakat tentang Disabilitas

Media online ini didirikan 11 Agustus 2018 dengan jargon “menyuarakan fakta, aktual, dan seimbang”.

Media ini diniatkan bisa mengubah paradigma masyarakat tentang disabilitas yang telanjur digulirkan media massa sebagai objek, bukan subjek.

“Kita melihat dan merasa prihatin dengan kondisi pemberitaan di Indonesia, baik nasional maupun internasional, tentang keberadaan difabel, di mana di pemberitaan pun kita (penyandang disabilitas) hanya sebagai objek sosial, tidak pernah memposisikan disabilitas sebagai subjek,” tutur Suhendar, pendiri Newsdifabel.

Dengan bantuan rekan dari kalangan jurnalis nondifabel, Suhendar dan sejumlah rekannya mengikuti pelatihan jurnalistik dan fotografi, sebagai bekal menjadi jurnalis profesional.

Kini, Newsdifabel telah memiliki 28 jurnalis, menghasilkan puluhan karya jurnalistik, dan dalam beberapa bulan setelah terbit, telah menarik ribuan pembaca.

Menghadapi Banyak Kendala

Senin pagi itu, Muslim ditugaskan meliput wisuda pelajar Wyataguna, sekolah khusus disabilitas netra, yang jaraknya kurang dari satu kilometer dari tempat tinggalnya. Muslim menggulirkan kursi rodanya melintasi jalan raya yang lumayan ramai.

Pria yang juga atlet catur ini tak terlalu kesulitan memasuki lokasi liputan di Aula Wyataguna yang sudah ramah difabel. Ia bergerak dengan lincah menggunakan kursi rodanya, memotret setiap momen yang dianggap menarik.

Tapi, tak semua lokasi liputan seramah Gedung Wyataguna. Sering kali Muslim menghadapi kendala lokasi yang sulit diakses para penyandang disabilitas. Situasi itu bahkan dia alami saat bertugas meliput Asian Paragames 2018.

“Permasalahan pertama itu adalah kalau gedung yang tidak akses. Saya meliput catur itu permasalahannya untuk naik tangga. Untuk masuk kamar mandi itu kacau, tidak bisa akses. Masyarakat umum bikin kamar mandi sesuka mereka,” katanya.

Dera mengaku pernah menghadapi situasi serupa. Keterbatasan penglihatan yang dimiliki Dera membuatnya kesulitan saat bertugas di lokasi liputan yang tidak ramah difabel.

“Kadang jalan juga nggak kelihatan, kadang kelihatan. Kalau turun tangga harus hati-hati namanya tunanetra nggak selamanya bisa lihat. Untuk aksesibelnya saja (yang masih kurang),” kata Dera.

Menuangkan hasil liputan dalam sebuah karya jurnalistik pun tidak mudah bagi Dera. Dengan keterbatasan pandangan, mahasiswi sebuah perguruan tinggi di Bandung ini harus menyiasatinya dengan mengetik dalam huruf-huruf besar di layar komputernya.

“Kalau nulis harus diperbesar dulu, ukuran hurufnya 14 atau 16. (Setelah itu) Dera kecilin lagi, baru dikirim,” papar Dera.

Tidak hanya wartawan yang bertugas di lapangan, sejumlah tantangan juga dihadapi para editor di kantor.

Popon Siti Latipah, editor sekaligus Pemimpin Redaksi Newsdifabel, yang juga seorang disabilitas netra total, harus menggunakan aplikasi pembaca layar yang mengubah huruf menjadi suara.

Popon mengandalkan kekuatan indera pendengarannya dalam menyunting sebuah berita.

Perempuan yang mulai kehilangan penglihatan di usia 2 tahun ini merasa terbantu dengan aplikasi bernama Jaws, meski kesulitan masih tetap ada.

“Yang paling sulit itu ketika ada huruf besar dan huruf kecil yang harus diedit. Kalau orang yang bisa lihat, bisa langsung lihat (huruf-hurufnya), tapi saya harus menelusurinya per huruf. Jadi kalau ada kata Jakarta, misalnya, saya harus baca per huruf,” ia menjelaskan.

“Huruf J dari Jakarta itu sudah besar atau masih kecil. Itu sih susahnya, itu yang buat lama. Untuk tahu J itu huruf besar atau kecil dari kata Jakarta itu tadi, speech-nya gitu akan beda. Kalau J-nya kecil dia J gitu biasa, tapi kalau J-nya gede, dia bilang J-nya kayak sedikit teriak. Jadi saya tahu, ini J-nya besar atau kecil,” Popon mengungkapkan.

Kendati harus berkutat dengan berbagai kendala, Popon berkomitmen mempertahankan Newsdifabel sebagai media yang bisa memberikan penyadaran kepada masyarakat, dan akhirnya bisa menghilangkan stigma serta diskriminasi terhadap disabilitas.

Misi itu juga yang dipikul Suhendar, sebagai inisiator.

“Yang kita harapkan adanya pergeseran stigma dari masyarakat umum, di mana stigma kadang terlalu berlebihan ketika para disabilitas dianggap perlu dikasihani atau menjadi objek sosial, padahal Tuhan menciptakan kita untuk saling melengkapi,” ujar Suhendar.

“Bahwa teman-teman punya keterbatasan, itu persoalan pola pikir. Tapi kenyataan pada hari ini, kita ingin melampui keterbatasan itu sehingga masyarakat menjadi paham,” ia menambahkan.

Sementara bagi Muslim, dengan bekerja sebagai jurnalis difabel, ia merasa telah menghapus stigma itu.

“Kami tunjukkan, saya ini bisa, kami ini bisa. Itu tujuan saya,” kata dia. (bbc.com)

 

Back to Home