Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 13:28 WIB | Minggu, 22 November 2015

Ngayogjazz 2015: Bhinneka Tunggal Jazz-nya

Ngayogjazz 2015: Bhinneka Tunggal Jazz-nya
Ngayogjazz 2015: Bhinneka Tunggal Jazz-nya Dusun Karang Tanjung Desa Budaya Pandowoharjo, Sleman - DI Yogyakarta, Sabtu Wage (21/11). (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
Ngayogjazz 2015: Bhinneka Tunggal Jazz-nya
Pembukaan NgayogJazz 2015 diawali dengan kirab bregodo/prajurit mengiringi grup musik Huaton Dixie, Sleman.
Ngayogjazz 2015: Bhinneka Tunggal Jazz-nya
Pembukaan acara Ngayogjazz 2015 di panggung Sadewa di pelataran sebuah gereja.
Ngayogjazz 2015: Bhinneka Tunggal Jazz-nya
Panggung Janaka memanfaatkan halaman rumah warga.
Ngayogjazz 2015: Bhinneka Tunggal Jazz-nya
Sepanjang Kalimalang dari Bekasi bersiap-siap di panggung Werkudara yang memanfaatkan pekarangan warga di samping pemakaman umum.
Ngayogjazz 2015: Bhinneka Tunggal Jazz-nya
IDC Ethnic, kelompok bermusik remaja membuka panggung Janaka.
Ngayogjazz 2015: Bhinneka Tunggal Jazz-nya
Penampilan Batik Replika dari Pekalongan.
Ngayogjazz 2015: Bhinneka Tunggal Jazz-nya
Syaharani membuka penampilan ESQI-EF dengan membawakan lagu Never let me go.
Ngayogjazz 2015: Bhinneka Tunggal Jazz-nya
Penampilan ESQI-EF.
Ngayogjazz 2015: Bhinneka Tunggal Jazz-nya
Penampilan ESQI-EF (Donny Suhendra-Syaharani).
Ngayogjazz 2015: Bhinneka Tunggal Jazz-nya
Penampilan Bonita bersama Ina Ladies.
Ngayogjazz 2015: Bhinneka Tunggal Jazz-nya
Penampilan Trie Utami dan Kua Etnika.
Ngayogjazz 2015: Bhinneka Tunggal Jazz-nya
Obrolan interaktif khas Kua Etnika antara pemain-penyanyi menjadi hiburan tersendiri.
Ngayogjazz 2015: Bhinneka Tunggal Jazz-nya
Djaduk Ferianto memainkan terompet tradisional puik-puik mengiringi komposisi terbarunya: Semar jams.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Dusun Karang Tanjung Desa Pandowoharjo, Sleman - DI Yogyakarta menjadi tempat penyelenggaraan Ngayogjazz 2015 pada Sabtu (21/11) yang mengusung tema Bhinneka Tunggal Jazz-nya. Ngayogjazz tahun ini merupakan perhelatan yang kesembilan sejak pertama kali diselenggarakan.

Seperti penyelenggaraan-penyelenggaraan sebelumnya, NgayogJazz 2015 menyediakan enam panggung untuk 25 musisi jazz diantaranya ESQI-EF (Syaharani and Queenfireworks), Trie Utami feat Kua Etnika, Indro Harjodikoro and Friends, Yuri Jo Collective, Nita Aartsen.

Selain musisi jazz, sepuluh komunitas jazz dari berbagai kota yang menjadi langganan penampil pada NgayogJazz sebelumnya yakni Jazz mBen Senen (Kadjangga | Tricotado | Del Paso Nuevo | F.E.D.A.L | The Newbee), Etawa Jazz Club, Gubuk Jazz Pekanbaru, Jes Udu Purwokerto (Mahamuni | Jam session), Pekalongan Jazz Society, Jazz Ngisor Ringin Semarang, Solo Jazz Society, Komunitas Suling Bambu Nusantara, Sepanjang Kali Malang - Bekasi, Jogja Blues Forum (GIE | Summerchild | Overmojo).

Keenam panggung diberi nama tokoh pewayangan Pandawa sesuai nama lokasi penyelenggaraan Ngayogjazz 2015: Desa Wisata Pandowoharjo. Keenam panggung tersebut adalah Puntadewa sebagai panggung tempat pembukaan Ngayogjazz 2015, Werkudara, Janaka, Nakula, Sadewa, dan panggung Lokananta, nama gamelan legendaris dari kahyangan dalam pewayangan, digunakan untuk pementasan seni tradisi.

Merayakan Keberagaman

Tema Bhinneka Tunggal Jazz-nya diangkat untuk menyikapi kondisi Indonesia yang dalam satu tahun terakhir ini sering 'panas' karena perbedaan. Bhinneka Tunggal Jazz-nya mengajak (kembali) orang-orang untuk merayakan keberagaman dalam sebuah spirit agar terwujud harmoni kehidupan.

Setelah siang-sore dimeriahkan oleh Del Paso Nuevo, Gubuk Jazz Pekanbaru, Pekalongan Jazz Society, serta Sepanjang Kali Malang-Bekasi, selepas maghrib Panggung Werkudara seolah menjadi panggung utama dengan dibuka kembali oleh Hariono's Project.

Di panggung inilah, Syaharani bersama ESQI-EF, Bonita dengan Ina Ladies-nya dan Trie Utami bersama Kua Etnika turut merayakan (kembali) keikutsertaannya di NgayogJazz.

Puncak panggung Werkudara menghadirkan Trie Utami bersama Kua Etnika yang memainkan komposisi jazz dengan mengkombinasikan alat musik tradisional (gamelan). Spontanitas, improvisasi, serta obrolan interaktif antar pemain-penyanyi yang egaliter menjadi hiburan tersendiri bagi penonton.

Dalam lagu Sintren, Kua Etnika yang dimotori Djaduk Ferianto memadukan jazz dan dangdut dalam satu lagu secara bergantian. Pada kesempatan tersebut Kua Etnika memperkenalkan komposisi lagu baru Semar jams yang kental dengan nuansa tradisi-kontemporer dipersembahkan untuk warga Desa Pandowoharjo yang telah menjadi tuan rumah dalam beberapa penyelenggaraan NgayogJazz.

Kua Etnika menutup penampilan dengan mengajak seluruh penonton bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Pusaka karya Ismail Marzuki, dengan satu harapan: Indonesia bisa menjadi tempat yang aman untuk berlindung bagi seluruh warga(negara)nya yang beragam.

"...Di sana tempat lahir beta/Dibuai, dibesarkan bunda/Tempat berlindung di hari tua/ Tempat akhir menutup mata..."

 

Back to Home