Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Reporter Satuharapan 15:52 WIB | Sabtu, 21 November 2015

Ngayogjazz 2015, Festival Jazz Asli Jogja, Digelar Hari Ini

Poster Ngayogjazz Jogja 2015 (Foto: ngayogjazz.com)

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Ngayogjazz, festival jazz tahunan di Kota Gudeg kembali digelar. Sudah menjadi tradisi, panorama alam pedesaan  dipilih oleh penyelenggara Ngayogjazz sebagai venue, dan kali ini pilihan jatuh di Desa Budaya Pandowoharjo, Sleman, Yogyakarta. Pagelaran yang melibatkan elemen masyarakat desa ini, berlangsung pada hari Sabtu (21/11), mulai pukul 10 pagi hingga 10 malam.

Esensi keberagaman coba disuguhkan Ngayogjazz dari laku dan keterlibatan audiens, termasuk kultur warga desa Pandowoharjo yang terbiasa dengan gotong royong dan toleransi beragama. Karena itu, Ngayogjazz tahun 2015 ini mengangkat tema yang bertajuk keberagaman, dengan judul “Bhinneka Tunggal Jazznya”.

Tema tersebut ingin menegaskan bahwa jazz merupakan produk budaya dan sudah menjadi perilaku yang mampu mempersatukan keberagaman yang ada.

Sebagai event yang bertujuan untuk mengadakan sebuah peristiwa budaya, Ngayogjazz bersifat terbuka dengan turut melibatkan masyarakat, sehingga event ini secara tidak langsung menjadi milik masyarakat di mana Ngayogjazz diselenggarakan.

Desa Pandowoharjo sendiri memang merupakan desa budaya yang kental dengan muatan budaya. Beragam kesenian tradisional seperti bregada, kethoprak, karawitan, mocopatan, wayang kulit, atau jathilan masih dilestarikan.

Ngayogjazz 2015 mempertemukan aliran jazz dalam ranah kontemporer dan arus utama dengan kesenian tradisi, termasuk kreasi lokal desa Pandowoharjo yang hendak diakomodir dengan satu panggung khusus. Hal itu guna mendapatkan spirit-spirit seniman yang lebih tinggi dari sekedar ajang pertunjukan seni untuk turisme.

Artis-artis jazz seperti Kua Etnika & Trie Utami, Nita Aartsen, Indro Hardjodikoro, ESQI:EF (Syaharani and Queenfireworks), Ina Ladies, Yuri Jo Collective, Absurdnation,  Nita Aartsen, Megan Collin with GEMATI (sinden asal Amerika Serikat), dan juga musisi jazz dari komunitas yang ada di daerah akan bermain dalam Ngayogjazz 2015. Para penampil tersebut akan unjuk kebolehan bermusik di 6 panggung yang tersebar di venue.

Selain penampilan para artis jazz, masyarakat yang datang juga bisa mengikuti festival foto, lomba foto Instagram, menikmati kesenian tradisional setempat, serta permainan tradisional. Selain itu, akan selalu ada pasar tiban bernama Pasar Jazz yang mayoritas diikuti oleh penduduk setempat sebagai usaha pemberdayaan ekonomi masyarakat. Pasar itu menyediakan jajanan tradisional dan merchandise. Penyelenggara juga menyediakan Shuttle Jazz yang akan membantu mobilisasi penonton.

Ngayogjazz bisa disaksikan, diikuti, dan dinikmati secara gratis tanpa pungutan tanda masuk dan tanpa pungutan stan di Pasar Jazz. Bahkan berbagai komunitas di luar komunitas jazz akan berpartisipasi, semisal komunitas fotografi, komunitas otomotif, hingga komunitas film.

Sekelumit Jejak Cerita Ngayogjazz

Ngayogjazz memiliki usaha yang signifikan untuk mengubah image jazz yang dulu hanya bisa dinikmati di tempat-tempat elite menjadi pertunjukan yang bisa dinikmati oleh siapa saja dan dimana saja. Jarak antara panggung dan penonton yang dekat dan tanpa sekat menjadi ciri tersendiri di Ngayogjazz. Interaksi yang hangat selalu terjadi antara musisi dengan penonton. Dan setiap tahunnya penikmat Ngayogjazz semakin bertambah. Tanpa disadari, jazz semakin bisa berinteraksi baik dengan kesenian lain dan juga dengan masyarakat yang lebih luas.

Ngayogjazz yang sudah terselenggara sejak tahun 2007 selalu melibatkan komunitas-komunitas dan para musisi-musisi muda. Hal ini sengaja untuk lebih membuka ruang ekspresi yang beragam dan luas dan diharapkan menjadi wadah persemaian para musisi-musisi muda berbakat.

Tidak sebatas pada mempresentasikan para musisi-musisi yang sudah mapan, tetapi juga para musisi-musisi muda yang berpotensi dan kreatif. Workshop yang selalu dilaksanakan di setiap Ngayogjazz juga menjadi ajang untuk bertukar dan membagikan pengalaman antara musisi- musisi yang lebih senior kepada generasi dibawahnya.

Bukan hanya musisi dalam negeri saja yang pernah menjadi penampil di setiap perhelatan Ngayogjazz. Tercatat musisi-musisi jazz Internasional seperti Toninho Horta, Harri Stojka, Mezcal Jazz Unit, Jen Shyu, Jerry Pelegrino, Erik Truffaz, Brink Man Ship, Baraka, dan D’Aqua pernah berpartisipasi di Ngayogjazz.

Ngayogjazz dipunggawai oleh jajaran kreatif yang antara lain adalah Djaduk Ferianto, Bambang Paningron, Hattakawa, Aji Wartono, Hendy Setyawan, Novindra Diratara, dan A. Noor Arief

Ngayogjazz bukan hanya sekadar pementasan, tetapi juga merupakan peristiwa budaya dimana musisi atau seniman yang tampil tidak hanya memainkan repertoar namun juga melakukan pendekatan dengan masyarakat sebagai pendukung produk seni. Hal ini menjadi menarik mengingat dalam setiap penyelenggaraan, masyarakat menjadi kunci kesuksesan acara. (feb)

Editor : Eben E. Siadari

Back to Home