Google+
Loading...
FOTO
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 10:52 WIB | Senin, 18 November 2019

Ngayogjazz 2019 Menjaga Asa Perayaan Perjumpaan dalam “Tribute to Djaduk Ferianto”

Ngayogjazz 2019 Menjaga Asa Perayaan Perjumpaan dalam “Tribute to Djaduk Ferianto”
Kenangan mendiang Djaduk Ferianto saat mendampingi M Mahfud MD yang memberikan orasi budaya dan doa pada konser KuaEtnika “Sesaji Nagari” di Taman Budaya Yogyakarta, Minggu (10/3) malam. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
Ngayogjazz 2019 Menjaga Asa Perayaan Perjumpaan dalam “Tribute to Djaduk Ferianto”
Penampilan Prima (Komunitas Jazz Jogja) di panggung Blandar yang berada di tengah sawah yang dikeringkan untuk sementara waktu selama penyelenggaraan Ngayogjazz 2019.
Ngayogjazz 2019 Menjaga Asa Perayaan Perjumpaan dalam “Tribute to Djaduk Ferianto”
Penampilan Tricotado saat meluncurkan album perdananya di panggung Blandar.
Ngayogjazz 2019 Menjaga Asa Perayaan Perjumpaan dalam “Tribute to Djaduk Ferianto”
Penampilan musisi Mus Mujiyono di panggung Umpak.
Ngayogjazz 2019 Menjaga Asa Perayaan Perjumpaan dalam “Tribute to Djaduk Ferianto”
Penampilan Jogja Blues Forum di panggung Saka.
Ngayogjazz 2019 Menjaga Asa Perayaan Perjumpaan dalam “Tribute to Djaduk Ferianto”
Seniman-perupa Yogyakarta turut merespons Ngayogjazz 2019 dengan melakukan kegiatan melukis on the spots “Tribute to Djaduk Ferianto”.
Ngayogjazz 2019 Menjaga Asa Perayaan Perjumpaan dalam “Tribute to Djaduk Ferianto”
Penampilan kelompok musik jazz asal Prancis, EYM trio di panggung Blandar.
Ngayogjazz 2019 Menjaga Asa Perayaan Perjumpaan dalam “Tribute to Djaduk Ferianto”
Penampilan gitaris Dewa Budjana di panggung Usuk.
Ngayogjazz 2019 Menjaga Asa Perayaan Perjumpaan dalam “Tribute to Djaduk Ferianto”
Penampilan Lani Frau di panggung Empyak, sebuah panggung yang dibangun dari bilah bambu menyerupai sarang burung.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Sedikit berbeda dengan perhelatan tahun-tahun sebelumnya, Ngayogjazz 2019 digelar dalam suasana duka dengan meninggalnya salah satu penggagas Ngayogjazz, Djaduk Ferianto, Rabu (13/11) lalu.

"Dengan kemampuannya Djaduk Ferianto ingin membawa jazz ini ke desa-desa. Sehingga seni bisa mempunyai sifat netral dan bisa menyegarkan, bisa membuat kerukunan, bisa kita merenung untuk kebaikan," papar Menko Polhukam RI Mahfud MD saat membuka gelaran Ngayogjazz 2019 di Dukuh Kwagon Desa Sidorejo, Godean-Sleman, Sabtu (16/11) siang.

Ngayogjazz 2019 dibuka Menko Polhukam RI Mahfud MD bersama Wakil Gubernur Pemda DIY KGPAA Paku Alam X.

Mahfud meminta agar gelaran Ngayogjazz terus diselenggarakan di tahun-tahun mendatang pasca ditinggal Djaduk. Mahfud berharap Ngayogjazz bisa menuntaskan mimpi Djaduk dan penggagasnya untuk terus mengabdi sebagai bentuk pengabdian kepada nusa, bangsa, dan masyarakat melalui dunia seni.

"Acara ini (Ngayogjazz) akan tetap berlangsung. Karena itu punya semangat untuk menyelenggarakan ini dan untuk menyelesaikannya sehingga kita teruskan apa yang sudah dicita-citakan Mas Djaduk sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat kepada nusa dan bangsa melalui dunia seni," kata Mahfud MD dalam sambutannya.

Meninggalnya Djaduk menjadi kehilangan besar bagi Ngayogjazz. Untuk mengenang jasa dan dedikasi Djaduk tema Ngayogjazz 2019 dikembangkan menjadi Satu Nusa Satu Jazz-nya, Tribute to Djaduk Ferianto.

Sebagai selebrasi merayakan perjumpaan, Ngayogjazz 2019 justru menguatkan semangat yang selalu disemaikan Djaduk dalam setiap penyelenggaraan Ngayogjazz. Di tengah suasana duka, seluruh panggung Ngayogjazz 2019 memunculkan semangat optimisme untuk melanjutkan gelaran yang sudah berlangsung tahun ke-13 ini di masa-masa datang.

“Kalau kita sering menghadapi apa pun itu, kegalauan atau apa pun yang bisa membuat kita down, sedih, atau apa pun, yakinlah, mimpi-mimpi itu harus tetap dipupuk dalam situasi apa pun dan tetap jalan terus. Lagu Pengikat Mimpi kita dedikasikan untuk mendiang Pak Djaduk yang telah membangun mimpi bersama melalui Ngayogjazz maupun acara-acara lain. Sudah selayaknya kita mewujudkan mimpi-mimpi bersama itu, semoga Ngayogjazz tetap ada sampai kapan pun,” kata Anggrian Hidha dari Komunitas Jazz Jogja saat tampil di Ngayogjazz 2019 bersama NU Project.

Gitaris kelompok musik GIGI Dewa Budjana yang tampil pada Ngayogjazz 2014 saat digelar di Dukuh Brayut Pandowoharjo-Sleman, pada Ngayogjazz 2019 tampil berkolaborasi dengan pesinden Soimah. Harapan yang sama juga disampaikan Budjana untuk kelangsungan Ngayogjazz di masa-masa datang.

 “Ngayogjazz kali ini mungkin agak berbeda (suasananya) dengan Ngayogjazz sebelumnya. Kita semua merasakan kesedihan dengan kepergian Djaduk Ferianto yang mendadak. Bulan Maret lalu saya dihubungi mendiang, 'Mas, Ngayogjazz sudah lama lho (tidak ada kehadiranmu) sudah ditunggu-tunggu'. Mungkin hanya ada satu-satunya di dunia dimana musik jazz digelar di pedesaan. Ini yang selalu membuat saya senang (untuk bisa hadir). Mudah-mudahan ini terus berlanjut meskipun Djaduk Ferianto telah meninggalkan kita semua dan Ngayogjazz tetap ada setiap tahunnya,” papar Dewa Budjana saat tampil di panggung Usuk-Ngayogjazz 2019.

Ditemui satuharapan.com di sela-sela penyelenggaraan Ngayogjazz 2019, senada dengan Mahfud MD salah satu penggagas Ngayogjazz, Bambang Paningron, menjelaskan meninggalnya Djaduk Ferianto diakuinya sebagai kehilangan besar bagi Ngayogjazz.

“Mendiang Djaduk adalah motor utama penggerak Ngayogjazz. Hampir semua insan musik/musisi Indonesia saling mengenal baik Djaduk sehingga kehadiran mereka di Ngayogjazz salah satunya karena faktor mendiang. Saya bisa saja menghadirkan koreografer mancanegara, tapi untuk urusan musik bahkan untuk menghadirkan musisi dalam negeri pun belum tentu bisa lakukan. Belum lagi urusan-urusan yang berkaitan dengan musik yang melibatkan pihak-pihak lain, sponsorship atau kerja sama misalnya. Kalau untuk urusan pola kerja berbagi peran-tanggung jawab (dalam penyelenggaraan Ngayogjazz) sudah terbentuk dan bisa berjalan, tidak ada masalah. Peran-peran mendiang Djaduk tersebut itulah yang tidak tergantikan. Meski begitu, dari semua penggagas Ngayogjazz dan seluruh yang terlibat berketetapan hati untuk menyelenggarakan Ngayogjazz berlanjut di tahun-tahun mendatang,” jelas Bambang Paningron.

Kehilangan salah satu motor utamanya, mendiang Djaduk Ferianto, bisa jadi menjadi jeda waktu yang tepat bagi para penggagas Ngayogjazz lainnya untuk mengendapkan sejenak, merefleksi langkah, mengevaluasi diri secara bersama, melanjutkan langkah yang sudah ditempuh menghadirkan perayaan perjumpaan di ruang-ruang publik desa.

Sebagaimana disampaikan mendiang Djaduk dua tahun silam saat dihelat Ngayogjazz 2017 di Dukuh Kledokan, Selomartani, Kalasan-Sleman "Jazz itu bukan sekadar bermain (musik) di panggung, tapi sebagai sebuah kehidupan. (Dengan penyelenggaraan Ngayogjazz yang selalu dihelat di desa-desa) di situlah kita (bisa) belajar tentang kearifan lokal dari desa: guyub, greget, gayeng."

Dari waktu ke waktu Ngayogjazz selalu menyampaikan pesan perjumpaan, persahabatan, persaudaraan, dalam suasana perdesaan yang suguh, lungguh, senang ketika kedatangan tamu. Pesan-pesan melalui tema yang diusung Jamane Jaman Nge-Jazz, Yen Ra Nge-Jazz Ra Kedum-Jazz (2007), Nja-Jazz Desa Milangkori (2008), Jazz Basuki Mawa Beya (2009), Ngunduh Jazzing Pakarti (2011), Dengan Jazz Kita Tingkatkan Swasembada Jazz (2012), Rukun Agawe Jazz (2013), Tung Tak Tung Jazz (2014), Bhinneka Tunggal Jazz-nya (2015), Hamemayu Karyenak Jazzing Sasama (2016), Wani Ngejazz Luhur Wekasane (2017), Negara Mawa Tata Jazz Mawa Cara (2018), Satu  Nusa Satu Jazz-nya (2019), bukanlah semata-mata sebuah tagline  yang hanya enak didengar, namun mengandung makna-filosofi yang dikemas ulang dalam bentuk ringan dan jenaka. Lebih dari itu Ngayogjazz menjadi jalan bagi bertemunya persahabatan yang layak untuk dirayakan.

Karena Ngayogjazz adalah tentang semangat mewujudkan cita-cita dan mimpi bersama bagi hubungan yang bermartabat antar sesama manusia.

Editor : Sotyati

Gaia Cosmo Hotel
Zuri Hotel
Back to Home