Google+
Loading...
FOTO
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 08:06 WIB | Senin, 30 Juli 2018

"Nginguk Githok" Membangun Dialog dalam Sedekah Bumi

"Nginguk Githok" Membangun Dialog dalam Sedekah Bumi
Wayang Gaga yang akan dikirab saat acara puncak arak-arakan sedekah bumi Desa Sekararum, Sumber-Rembang, Kamis (26/7). (Foto-foto: Adin Hysteria)
"Nginguk Githok" Membangun Dialog dalam Sedekah Bumi
Workshop mengajari anak-anak membuat wayang Gaga berbahan jerami.
"Nginguk Githok" Membangun Dialog dalam Sedekah Bumi
Mengarak gunungan sayur-buah dan wayang Gaga mengelilingi desa
"Nginguk Githok" Membangun Dialog dalam Sedekah Bumi
Gunungan sayur-buah dan sesajen telah sampai pada area pepundhen, sebuah tempat yang dikeramatkan.
"Nginguk Githok" Membangun Dialog dalam Sedekah Bumi
Meletakkan sesajen di pohon beringin pepundhen.
"Nginguk Githok" Membangun Dialog dalam Sedekah Bumi
Penampilan tari Tayub Pundhen.
"Nginguk Githok" Membangun Dialog dalam Sedekah Bumi
Tari pergaulan Orek-orek.
"Nginguk Githok" Membangun Dialog dalam Sedekah Bumi
Penampilan Wukir Suryadi (memainkan alat petik bambu).

REMBANG, SATUHARAPAN.COM - Untuk pertama kalinya dalam acara sedekah bumi di Sekaraarum Kecamatan Sumber Kabupaten Rembang, remaja yang tergabung dalam SKRM Squad mengemasnya dengan cara yang berbeda. Bahu membahu dengan perangkat desa dan disokong oleh ruang kolektif Hysteria, sebuah kelompok seniman yang bermarkas di Semarang berupaya untuk melakukan interpretasi ulang atas makna sedekah bumi.

Ketua panitia sedekah bumi Achdiat Galih mengatakan cara yang digelar pada Kamis Pahing 26 Juli 2018 setelah melibatkan diskusi remaja dan kelompok kolektif sepakat menambah durasi pelaksanaan mulai dari Sabtu 21 Juli dengan berbagai rangkaian acara melibatkan banyak pihak.

 “Bersama rekan-rekan dari Hysteria kami menggali sejarah cikal bakal desa, situs-situs keramat, hingga aktivitas yang menurut kami biasa saja menjadi luar biasa,”  jelas Achdiat Galih dalam keterangan kepada satuharapan.com. Kerja sama tersebut misalnya direalisasikan dalam mengubah tampilan Dhuwetan, tempat yang ditandai dengan pohon dhuwet atau ara di salah satu sisi kampung menjadi lebih artistik.

Hingga saat ini sedekah bumi bagi warga Desa Sekararum masih rutin dilakukan setiap tahun. Dengan melibatkan beberapa komunitas dan ruang kolektif, bersama-sama warga desa mereka membuat serangkaian acara yang tidak semata-mata ritual sedekah bumi namun juga beberapa kegiatan workshop untuk mendukung kegiatan sedekah bumi.

“Kami menggunakan setting alam sebagai latar peristiwa kebudayaan, materialnya sudah bagus tinggal memberikan sentuhan instalasi dan lighting saja,” ujar Oktav Bagus mewakili ruang kolektif Hysteria. Bersama ruang kolektif Hysteria turut pula terlibat Dina Prasetyawan, Andi Meinl feat Openk dan Sueb, SKRM Dancer, Aziz Wisanggeni, Denta Arisman, Riska Farasonalia, Wayang Gaga, Henny Setyaningrum, dan Bambu Wukir. 

Keterlibatan tersebut untuk memberikan alternatif lain untuk memaknai sedekah bumi tidak melulu hingar-bingar hiburan musik dan aneka kemewahan lainnya, namun juga pembacaan yang lebih kritis terhadap sedekah bumi itu sendiri.

Rangkaian kegiatan diantaranya lokakarya pelatihan Pembuatan Peta online Kampung, workshop pembuatan Wayang Gaga, workshop Pemanfaatan Media Sosial untuk promosi potensi kampung, workshop 'Kiat Penggemukan Ternak, Bikin Konsentrat Organik, dan Periksa Ternak Gratis!' bersama Denta Risman (Magister Peternakan Undip), screening film bersama Dinas Cipta Tempat dan Ruang dari Hysteria-Semarang, panggung pertunjukan (Gigs) melibatkan Wayang Gaga, DJ Bedebah, Wukir Suryadi, Bolo Sekararum, Yagim Grind, Andi Meinl - Sueb feat warga, serta ritual-pertunjukan sebagai salah satu puncak acara sedekah bumi dengan arak-arakan warga, Barongan Singo Sekar Joyo, dan ritual Tayuban Pundhen, serta pertunjukan kethoprak Kridho Mudho Sondong Majeruk.

Nginguk Githok, Memaknai Ulang Sedekah Bumi

Memulai hal baru pada penyelenggaraan sedekah bumi di Desa Sekararum tahun ini, Ahmad Salahadin atau biasa dipanggil Adin Mbuh, salah satu pendiri ruang kolektif Hysteria yang juga warga Desa Sekararum dan sempat melanjutkan kuliah di Universitas Diponegoro dan baru saja merampungkan pasca sarjananya di Jurusan Antropologi Universitas Indonesia membuat pemetaan awal sosial-lingkungan terhadap keberadaan upacara sedekah bumi di Desa Sekararum.

Berangkat dari hal tersebut diangkatlah tema sedekah bumi tahun ini dengan tajuk "Nginguk Githok". Menghelat sedekah bumi dengan sebuah tema menjadi hal baru mengingat selama ini perhelatan sedekah bumi dari tahun ke tahun lebih banyak berjalan dalam rangkaian acara sesuai kebiasan dan tradisi yang telah lama ada. Artinya sedekah bumi menjadi pengulangan acara-acara dari tahun sebelumnya.

Dalam perbincangan satuharapan.com melalui WA dan telepon, Adin Mbuh Hysteria menjelaskan bahwa langkah awal dalam memberikan warna serta interpretasi ulang atas makna sedekah bumi dilakukan bersama-sama dengan melakukan pemetaan ulang seluruh potensi yang ada di masyarakat.

Adin menjelaskan bahwa  Nginguk Githok atau melihat tengkuk sendiri dimaknai sebagai upaya refleksi atau napak tilas dalam kegiatan sedekah bumi di Sekararum baru-baru ini. Githok atau tengkuk, adalah bagian tubuh yang berdekatan dengan kepala. Tengkuk adalah leher bagian belakang penyambung kepala dengan tubuh. Jika kepala, tempat keberadaan otak yang dipercaya sebagai pusat kesadaran dan rasionalitas, bagian penting ini tak akan berjalan maksimal tanpa ditunjang leher termasuk di dalamnya tengkuk. Menariknya meski letaknya berdekatan, kita tidak bisa secara langsung mengamati tengkuk kita sendiri kecuali menggunakan cermin, atau melalui laporan orang lain. Tengkuk adalah representasi hubungan sehari-hari, tanpa jarak, biasa saja, karenanya melihat tengkuk atau melakukan refleksi membutuhkan waktu tersendiri. 

"Perlu kesadaran untuk melihat ulang fenomena keseharian yang kehilangan vitalitas. Melihat tengkuk, bercermin, refleksi dengan demikian merupakan ajakan untuk membaca kembali dalam hal ini tidak hanya keberadaan kampung tetapi juga fenomena sedekah bumi," jelas Adin, Minggu (29/7) siang.

Lebih lanjut Adin memberikan pemaparan bahwa bertahun-tahun Sedekah Bumi dilangsungkan sebagai peninggalan para leluhur. Tidak ada yang ingat lagi ini perayaan yang ke berapa. Ritual merti desa, meruwat sukerta, sengkala, dan kesialan ini berlalu tanpa melalui banyak refleksi, pun ketika jaman berubah dan tanah tak lagi satu-satunya sumber makan dan pengikat. Udan salah mangsa (hujan di musim yang tidak selazimnya) sebagai penanda perubahan musim, ekses pemanasan global, karakter sampah yang tidak terurai, kerusakan ekosistem, dan hal-hal negatif lain dengan perubahan lanskap alam tidak pernah masuk dalam kesadaran: Mengapa harus ada Sedekah Bumi? satu yang pasti, tidak melaksanakannya dianggap melanggar adat. di masa dulu orang percaya desa akan terkena pagebluk, bencana, dan kematian tidak terduga. Apakah anak muda sebagai penerus dan penjaga kampung memercayai klenik yang sama? entahlah. "Wis adate, nek ditinggal mengko akeh sing ngamuk," (sudah menjadi kebiasaan, kalau ditinggalkan nanti banyak yang marah). Tidak ada satupun berani meninggalkanya, entah karena sudah jadi adat, atau kutukan yang diam-diam dipercaya. 

"Terlepas dari pamornya yang kalah dengan hiburan musik dangdut pantura, di desa kami dan juga desa-desa lain kebanyakan di Rembang Pati, adat ini tak pernah mati," kata Adin.

Dari keterangan yang dihimpun Adin bersama ruang kolektif Hysteria, warga Sekararum mayoritas berasal dari Desa Kaligenting yang pelan-pelan pindah karena di desa asalnya sering dilanda banjir. Beberapa sumber menyebut leluhur Desa Kaligenting berasal dari Desa Bedingin, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora. Adalah Mbah Joyo dan dan Mbah Karto yang konon melakukan babat alas di Kaligenting, yang saat ini ditandai dengan keberadaan Pohon Beringin yang menjadi punden kampung. 

Secara umum matapencaharian warga di bidang pertanian dan mereka hidup sejahtera. Letaknya yang berdekatan dengan sungai membuat mereka beberapa kali dilanda banjir. Tahun 1973, warga merasakan banjir pertama atau banjir pisanan. Fenomena alam itu membuat beberapa warga pindah ke tempat yang lebih tinggi, konon ada lima kepala keluarga yang pindah ke tempat yang sekarang bernama Sekararum. Sumber lain menyebut tahun 1976  ada 6 kepala keluarga (KK) yang pindah, yakni keluarga Mbah Sugi, Mbah Jais kidulan dan Mbah Kar, Mbah Jasmin dan Mbah Saminah, Mbah Lan Sakiman, Mbah Badi dan Mbah Lan Kasan. Air menghantam lebih keras tahun 1987 sehingga membuat warga berbondong-bondong pindah. Warga Sekararum bertambah sekitar 4-5 kali lipat menjadi 25 KK. 

Warga memulihkan diri, menata kehidupan lagi, alam yang liar sekaligus alam yang memberikan kehidupan diperingati setiap tahun. Beberapa tokoh menyebut pohon beringin di perempatan Sekaraarum menjadi tempat ritual selamatan kepindahan warga ke kampung baru.

"Sebelum Pohon Beringin ini tumbang, saya sempat merasakan selamatan di pohon beringin tersebut. Meski demikian warga sama sekali tidak bisa berpaling pada kuasa spiritual punden pertama di Kaligenting yang akhirnya menjadi sentrum kembali setelah pohon beringin Sekararum benar-benar mati. Kaligenting, desa yang sunyi sekarang hanya bersisa pohon jati, tegalan kering, ladang tebu, dan sungai yang kering di musim kemarau," jelas Adin.

Pemetaan ulang potensi sosial-lingkungan desa yang dilakukan Adin bersama ruang kolektif Hysteria menjadi hal yang menarik ketika ditemukan hal-hal yang bisa jadi sebuah anomali atau kontras dengan realitas yang ada. Meskipun data dari kantor desa menyebutkan bahwa mayoritas profesi warga adalah petani, namun realitasnya banyak warga yang memilih merantau. Hasil dari pertanian dianggap tidak lagi mencukupi kebutuhan. Trend merantau nyaris pernah dirasakan oleh pemuda kampung. Tanah gersang, sawah tadah hujan, dan iklim yang panas membuat desa kehilangan daya tariknya. Belum lagi mobilitas sosial yang jauh dijanjikan di tempat lain membuat pelan-pelan kampung mayoritas dihuni orang tua maupun remaja yang masih sekolah. Pemuda cukup umur memilih merantau, ikatan pada tanah kendor, dan sedekah bumi? Pelan-pelan kehilangan maknanya.

"Terhitung empat belas tahun sejak saya pelan-pelan mengendorkan ikatan pada kampung, pada akhirnya tergelitik membaca ulang desa asal saya. Menyusuri jejak masa kanak memburu ikan, burung, jangkrik dan juga berenang gaya batu di kali irigasi kampung," jelas Adin.

Adin tidak sendiri. Setidaknya hal demikian kerap muncul di berbagai tempat bermula dari kegelisahan-kegelisahan serta kesadaran untuk membaca ulang potensi kampung untuk bisa lebih berkembang. Bukan sekedar membeku pada masa lalu, namun berjuang bersama untuk masa depan.

Dengan membaca fenomena sedekah bumi "Nginguk Githok" di Sekararum, Sumber-Rembang masih banyak rentangan tangan dari berbagai pihak yang peduli untuk berangkat dan berdiri bersama dengan sejajar. Adin bersama ruang kolektif Hysteria dan komunitas lainnya sedang memulai langkah awal membangunkan pembacaan ruang sedekah bumi dan realitas kehidupan perdesaannya dalam konteks hari ini.

Dan tampilnya musisi bambu Wukir Suryadi yang tergabung dalam grup Senyawa adalah sebuah kemewahan tersendiri. Anda yang sempat menyaksikan sekedah bumi di Sekararum bertajuk "Ngingu Githok" boleh berbangga. Wukir Suryadi bersama Senyawa adalah musisi yang diakui oleh musisi luar negeri terutama di Eropa dan Amerika karena memberikan tawaran warna musik yang berbeda. Tawaran keberagaman dari hubungan yang setara. Di sedekah bumi "Nginguk Githok", Wukir Suryadi dengan Bambu Wukirnya seolah sedang mengabarkan pada dunia bahwa nginguk githok adalah upaya saling membantu sahabat mengenali potensi, kekuatan, sekaligus kelemahan yang ada pada diri sahabatnya.

 
Back to Home