Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 19:55 WIB | Selasa, 20 Agustus 2019

“Némor”, Jika Telah Tunai Aku Pulang

“Némor”, Jika Telah Tunai Aku Pulang
Pameran seni rupa bertajuk “Némor, southeast monsoon” berlangsung dari 17 Agustus hingga 14 September 2019 di Galeri Cemeti Jalan DI Panjaitan No 41 Yogyakarta. (Foto-foto : Moh. Jauhar al-Hakimi)
“Némor”, Jika Telah Tunai Aku Pulang
Bun Témor – instalasi, mix media, tanah lumpur – Anwari – 2019.
“Némor”, Jika Telah Tunai Aku Pulang
Ojhan Résé – videografi, sketsa-drawing di atas kertas dan dinding – Tohjaya Tono – 2019.
“Némor”, Jika Telah Tunai Aku Pulang
Mascara – fotografi - Rémi Decoster – 2019.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Dengan mengangkat tema bentang alam Madura dan sosio-historisnya, 13 seniman-perupa mempresentasikan karya dua-tiga matra serta multimedianya di Galeri Cemeti. Pameran bertajuk “Némor, southeast monsoon” dibuka Sabtu (17/8) malam.

Ketiga belas seniman-perupa tersebut adalah Anwari, Fakhita Madury, Fikril Akbar, FX Harsono, Hidayat Raharja, Ika Arista, Lutvan Hawari, Nindityo Adipurnomo, Rémi Decoster, Rifal Taufani, Syamsul Arifin, Suvi Wahyudianto, dan Tohjaya Tono.

Némor merujuk pada musim kemarau dimana masyarakat Madura menyebut musim tersebut sebagai némor, saat angin bertiup dari tenggara (muson timur~southeast monsoon) membawa udara yang panas-kering dari arah seberang lautan (daratan Australia). Saat némor yang terjadi dimulai pada bulan April dan mencapai puncaknya pada Juli-September, matahari bersinar dengan teriknya pada satu sisi menyambut kekeringan yang menjadi lanskap kebanyakan daratan Madura, di sisi lain menjadi pertanda baik bagi peladang untuk mulai menanam tembakau, bagi petani untuk memanen garam sebanyak-banyaknya, dan bagi para pelaut untuk mengarahkan kapal bergerak menyusuri arah barat.

Ruang hidup yang kering dengan lanskap pertanian tegalan secara umum membentuk karakter orang Madura yang tangguh menghadapi kerasnya alam dan sering tercermin dalam stereotype mereka yang ‘keras’ dalam bersikap, bertutur bahasa, lugas, dan lebih terbuka dalam banyak hal. Kerasnya alam membentuk kebiasaan mereka merantau mencoba peruntungannya ke daerah lain untuk suatu saat kembali lagi.

Dalam catatan kuratorialnya Ayos Purwoaji bersama Shohifur Ridho’i menuliskan bahwa pameran Némor, southeast monsoon berusaha membongkar dan menelaah kembali Madura sebagai sebuah wilayah psiko-geografis dan kultural dalam spektrum yang lebih luas dimana kadar (ke)Madura(an) bisa memiliki arti yang berbeda-beda bagi seorang nelayan di Pasongsongan; atau pengurus vihara di Pamekasan; atau masyarakat Pandalungan di wilayah Tapal Kuda; atau pengasong cenderamata di Sanur; atau mahasiswa indekos di Yogya; atau juragan besi bekas di Tanjung Priok; atau korban kerusuhan rasial di Sampit, atau bahkan penganut Syiah di Sampang.

Dalam bingkai tersebut pembacaan seniman-perupa menjadi lebih beragam. Seniman-pewarta foto asal Prancis Rémi Decoster dalam dua karya memotret realitas pernikahan masyarakat Madura dari sisi penata rias pengantin dimana tukang riasnya adalah transpuan/waria. Foto dokumenter yang dibuat Rémi di Bangkalan disajikan dalam seri buku foto Mascara dalam sub-judul Saleh Muslimah Wedding dan Transitions. Dua sub-judul tersebut mengulik dua hal yang berbeda.

Pada Saleh Muslimah Wedding, Remi memotret properti yang biasa digunakan dalam merias dan menghias prosesi pernikahan keluarga Muslim. Sementara pada pada Transitions, Remi memotret aktivitas para tukang rias saat merias pangantin dan aktivitas mereka menyiapkan kamar pengantin berikut saat mereka (penata rias) saling merias dirinya dari seorang pria menjadi pribadi transpuan/waria.

Némor, Pembacaan pada Realitas dan Suasana Sebuah Ruang

Dalam dua buku tersebut tanpa satu teks pun Remi menghadirkan realitas kehidupan kaum transpuan/waria di Pulau Madura yang relijius dengan masih memegang teguh pada ajaran-ajaran agamanya: sebuah realitas hidup dalam dua dunia yang bertolak belakang . Secara visual karya foto Rémi Decoster cukup menarik, namun tanpa adanya satu teks pun penjelasan yang mungkin untuk menghindari sensitivitas isu maupun resistensi, karya foto buku Rémi Decoster hanya akan berhenti menjadi sebuah katalog foto ketika tidak ada narasi-teks yang menyertainya dan bisa menghilangkan konteks dari momen-momen yang ditangkap dan direkamnya. Narasi-teks tetap diperlukan sebagai alat bantu (tools) tanpa terjebak pada isu yang terbangun, karena bahkan dalam sebuah frame yang sama, dramatika kehidupan punya bahasanya sendiri bagi masing-masing subjek dan juga pembacanya.

Berbeda dengan Rémi Decoster yang memotret realitas, Tohjaya Tono menangkap suasana (atmosfer) sebuah ruang dalam aktivitas sketch-drawing on the spots di beberapa titik di Kabupaten Bangkalan serta beberapa tempat lain di Pulau Madura. Selain menjadi panduan bagi karya videografi yang dibuatnya (story board), karya sketch-drawing on the spots Tono menjadi karya yang berdiri sendiri di luar karya videografi yang dibuatnya.

Empat belas buah sketsa-drawing Tono dalam sebuah buku menjadi catatan perjalanannya berjudul Ojhan Résé (Hujan Rintik). Melengkapi karya videografinya, Tono merespons dinding Galeri Cemeti dengan drawing menggunakan arang (charcoal) memotret suasana sebuah pelabuhan tempat memuat ternak sapi-kambing. Pada sebuah sketsa kapal kayu tradisional pengangkut ternak Tono membuat catatan “...Kapal pengangkut sapi antar pulau, dua tingkat bisa mengangkut sapi sampai sekitar 400 ekor dan 300 ekor kambing atau juga sekitar 600 ekor sapi.”

“Dulu kapal kayu dibuat di galangan kapal tradisional di Madura. Akhir-akhir ini kapal kayu dibuat langsung di Kalimantan, desain masih mempertahankan yang ada dan dikerjakan oleh tukang galangan orang Madura. Bahan baku kayu sudah susah didapatkan di Madura. Kalaupun ada jatuhnya bisa lebih mahal,” kata Tono menjelaskan meredupnya usaha galangan kapal kayu tradisional di Bangkalan kepada satuharapan.com, Jumat (17/8) malam.

Bagi Tono Bangkalan adalah kenangan tentang masa kecilnya sebelum melanjutkan studi dan menetap di beberapa kota di Jawa. Dalam perjalanan menangkap kenangan atmosfer ruang masa kecilnya Tono memotret suasana pasar sapi Tanah Merah yang keras karena perputaran uang yang besar-cepat, perajin batik di Tanjung Bumi, Pelabuhan Sepolo, Pelabuhan Banyu Sangkah, serta sebuah masjid pertama di Arosbaya dengan arsitektur campuran masa Hindu pada kubahnya. Kawasan Pecinan di Bangkalan belum sempat direkam ulang oleh Tono.

“(Dalam waktu dekat) saya berencana kembali (memotret kawasan Pecinan Bangkalan). Banyak kisah-tragedi di sana. Saat pecah kerusuhan berbau SARA pada tahun 1981 mereka menyingkir bahkan keluar pulau (Madura) karena menjadi sasaran amuk massa saat itu. Hal tersebut berulang pada tahun 1998. Banyak bangunan kuno di pecinan Bangkalan yang ditinggal pergi begitu saja oleh pemiliknya,” jelas Tono.

Pembacaan atas suasana dilakukan juga oleh Hidayat Raharja yang memotret pesisir timur Madura pada sketsa-sketsa yang dibuat dalam rentang waktu 1992-2019 meliputi wilayah Tanjung, Kalianget, ataupun Dungkek.

Pada karya berjudul Bun Témor, seniman peran Anwari membuatnya secara live saat pembukaan pameran dengan melibatkan seniman lintas disiplin dalam sebuah pertunjukan kolaborasi. Memanfaatkan medium tanah Anwari membuat sketsa-drawing di dinding Galeri Cemeti. Diawali dengan dialog-puisi dan tari, Anwari merespons dinding ruang pamer dengan tanah dan mengakhiri dengan sebuah topeng yang digunakan penari di atas goresan tanah tersebut.

Mengajak pihak lain dalam proses karya dan performance secara live Anwari kembali menghadirkan realitas keseharian masyarakat Madura dalam kultur agraris yang terikat pada tempatnya sebagai ungkapan keseharian yang bersumber pada khazanah sastra lisan dimana kehidupan bukanlah monolog di dinding-dinding kosong-kesunyian namun adalah rangkaian dialog yang menuntut kehadiran pihak lain.

Dengan latar belakang sejarah yang ada dua karya videografi yang dibuat Lutfan Hawari berjudul Akar Suara maupun videografi Rifal Taufani berjudul Ngongghain serta karya instalasi Suvi Wahyudianto berjudul Madhura, Mun Mare Ondhura mencoba membaca realitas relasi Jawa-Madura yang kesemuanya didasarkan pada kisah kepahlawanan Trunajaya. Kisah Trunajaya pada masa lalu bagi masyarakat Madura adalah sebuah epos kepahlawanan dalam bingkai perlawanan, namun bagi Kerajaan Mataram dianggap sebagai sebuah pemberontakan. Dua kondisi yang saling bertolak belakang. Kekalahan Trunajaya pada masa itu memposisikan Madura sebagai sub-ordinasi dari Jawa.

Dalam keseharian sub-ordinasi tersebut terbaca salah satunya dengan penggunaan kata toron (turun) yang digunakan oleh masyarakat ketika menyeberang dari Surabaya menuju Madura saat telasan (lebaran) ataupun dalam aktivitas lainnya. Setelah tersambungnya Jembatan Suramadu maupun pencapaian-pencapaian lainnya relasi Jawa-Madura hari ini dan di masa datang tentu akan terus mengalami perubahan dalam relasi yang setara. Setidaknya jejak mendiang Kyai Kholil Bangkalan sebagai guru dari para ulama di Jawa maupun nusantara menjadi pengakuan adanya perubahan tersebut.

Pameran seni rupa bertajuk “Némor, southeast monsoon” berlangsung hingga 14 September 2019 di Galeri Cemeti Jalan DI Panjaitan No 41 Yogyakarta.

Editor : Sotyati

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home