Google+
Loading...
FOTO
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 13:07 WIB | Sabtu, 08 Februari 2020

No Pain No Gain? No Wifi?

No Pain No Gain? No Wifi?
Karya Isrol Medialegal berjudul No Wifi, dalam medium cat akrilik dan cat semprot di atas kayu dalam pameran “Sign” di Kebun Buku, 4 Februari - 4 Maret 2020. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
No Pain No Gain? No Wifi?
My Trip My Stencil (paling kanan) – cat semprot di atas papan/plank logam, 60 cm x 30 cm, Isrol Medialegal, 2020.
No Pain No Gain? No Wifi?
Membuka lembaran rutinitas - cat semprot di atas papan/plank logam - diameter 59 cm, Isrol Medialegal, 2020.
No Pain No Gain? No Wifi?
Negosiasi (paling kiri), cat semprot di atas papan/plank logam 30 cm x 60 cm, Isrol Medialegal, 2020.
No Pain No Gain? No Wifi?
Isrol (bertopi) saat berbincang dengan pengunjung pada pembukaan pameran “Sign”, Selasa (4/2).

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Dua puluh satu karya street art Isrol Triono yang dialihmediumkan ke atas logam/metal dan kayu dipresentasikan di Kebun Buku. Pameran dibuka oleh seniman grafis Sigit ‘Bapak’ Hariyadi, Selasa (4/2) sore.

Dinding dan jalanan kota memiliki fungsi, identitas, serta rekaman ceritanya sendiri. Bagi seniman, ruang tersebut kerap menjadi pilihan yang genial untuk sekedar menorehkan eksistensi, mengungkapkan ekspresi hingga menyampaikan pesan-kritik sosial.

Karya street art mudah dikenali dengan penggunaan cat semprot (spray-paint) sebagai salah satu mediumnya dengan teknik stensil (cetak halang) ataupun semprot langsung, desain dalam ukuran besar, warna kontras cerah-gelap, objek-objek abstrak yang kerap menjadi kritik yang disampaikan ataupun penanda identitas, serta fontasi besar membentuk visual yang dinamis dan mencolok.

Dengan karakternya yang lugas, komunikatif, berukuran besar, didisplay langsung pada dinding-dinding kota, street art menjadi salah satu media propaganda yang cukup efektif menyampaikan pesan-pesan bagi pelintas jalan juga pihak-pihak lain.

Secara visual sederhana street art dibedakan antara mural dengan graffiti. Mural mengacu pada street art yang lebih banyak menggunakan cara drawing-painting di dinding-dinding kota untuk menyampaikan kritikan tentang isu sosial yang sedang terjadi di masyarakat, sementara grafiti lebih menekankan pada keindahan (ekspresi karya) dalam bentuk tulisan-gambar dan bukan untuk menyampaikan kritik sosial. Grafiti lebih banyak menggunakan medium cat cemprot, meskipun dalam perkembangannya baik mural maupun graffiti pun menggunakan teknik-medium campuran.

Isrol Triono atau yang biasa dikenal dengan Isrol Medialegal  secara aktif berkesenian sejak 2000. Kecintaan pada seni rupa bermula sejak duduk di bangku SMP dan Isrol mengeksplorasi film-film kartun yang ditontonnya saat itu He Man. Sain Seiya, Dragon Ball, Doraemon. Dari karakter film-film itulah Isrol berimajinasi dalam ilustrasi yang dibuatnya secara ototdidak hingga memutuskan untuk tidak melanjutkan ke bangku kuliah dan lebih memilih jalanan sebagai wilayah berkeseniannya.

Persinggungan dengan dunia jalanan membawa Isrol pada kepekaan membaca lingkungan sekitarnya, sekaligus menjadikan jalanan sebagai ruang untuk menuangkan ekspresi serta menyampaikan pesan-kritik sosial.

“Tema Sign ini berhubungan dengan jalanan. Benda/material apa yang sering ditemukan di jalanan seperti plank, kayu, dan material lain yang berserakan di pinggir jalan (dan sudah tidak terpakai) menjadi medium karya. Tema masing-masing karya variatif, tidak mengacu pada satu tema tertentu. Contohnya pesan teks yang sering dijumpai “Pelan-pelan banyak anak”, “Jalan Keluar”, sebagai pesan-himbauan kepada orang yang melihat. (Ini menjadi eksperimen untuk menampilkan hal yang berbeda) ketika karya-karya street art yang  biasanya dalam ukuran besar, diaplikasi di luar ruangan, kira-kira bagaimana hasilnya ketika dialihmediakan dalam ukuran yang lebih kecil.” jelas Isrol kepada satuharapan.com, Selasa (4/2).

Bagi Isrol tantangan mengalihmediakan karya street art ke dalam dimensi yang lebih kecil adalah bagaimana mempertahankan karakter karya tersebut tidak berubah.

“Selama bisa menjaga visual dan karakter karya street art, alihmedia tidak masalah. Toh alimedia-dimensi yang kecil pun tetap bisa diaplikasikan di jalanan. Memang ketika karya street art dibawa ke dalam ruangan tentunya ada sesuatu yang berbeda. Frekuensi publik ketika melihat karya ini tentu akan memberikan efek yang berbeda,” imbuh Isrol.

Alihmedia-dimensi menjadi semacam ulang-alik proses karya bagi seniman. Di sinilah bagaimana tema sebuah karya akan membahasakan dirinya sendiri.

Pada tiga buah rambu-rambu lalu lintas bekas berbahan alluminium diameter 59 cm yang dibeli dari pengepul rongsokan, Isrol membuat lukisan stensil menggunakan cat semprot berjudul Bermain Ban, dan Membuka Lembaran Rutinitas. Pada karya berjudul Pilihan, Isrol masih menyisakan tanda peringatan dilarang berhenti berupa huruf  S warna serta menimpanya dengan lukisan stensil karakter anak-anak yang seolah sedang menentukan pilihannya.

Menyisakan ilustrasi asli yang ada pada medium karya menjadi menarik untuk memperkuat narasi karya tersebut. Pada papan alluminium penunjuk arah berwarna biru bertuliskan “Main Lobby”, Isrol menambahkan karakter-figur lelaki dewasa dengan membawa palu. Dalam karya berjudul Negosiasi tersebut Isrol seolah sedang menyajikan sebuah narasi bermain-main dengan lobi-negosiasi yang tidak jarang diwarnai dengan kekerasan ataupun simbol kekerasan sebagai faktor penekan untuk memenangkan lobi-negosiasi.

Pada papan alluminium bekas sebagai peringatan wilayah dengan akses yang dibatasi yang didapatkan saat masih berproses di Gudang Sarinah Jakarta, Isrol menambahkan gambar stensil dengan figur anak-anak membawa kuas dan papan luncur (skateboard). Pada karya berjudul My Trip My Stencil tersebut Isrol menambahkan tulisan ‘Stencil’ serta ikon wajah yang sedang tersenyum. Selebihnya tulisan asli dari papan tersebut “Bahaya. Ruang Terbatas. Dilarang masuk tanpa izin” serta nama pemilik papan/plank tersebut masih dipertahankan. Selain pesan yang disampaikan, ada kisah lain dalam papan/plank tersebut.

Di atas potongan rolling door berukuran 57 cm x 40 cm yang sudah berkarat, Isrol menambahkan teks “Wall Street” dan gambar stensil laki-laki membawa cat semprot dan mengenakan masker yang digunakan tentara saat memasuki wilayah musuh untuk mengantisipasi adanya senjata kimia-biologi. Dalam karya berjudul Wall Street tersebut Isrol bermain-main dalam dua isu dimana dinding jalanan (wall street) sebagai wilayah ekspresi serta catatan-catatan yang seakan membawa audiens pada kejadian keruntuhan Wall Street pada tahun 1929 dan 1987 beserta dampaknya bagi kehidupan dan relasi manusia.

Secara keseluruhan, tema masing-masing karya Isrol cukup sederhana, memotret kejadian sehari-hari, ada di sekitar kita. Karya-karya Sajian dengan memanfaatkan nampan saji, suasana tawaran wisata Gili Trawangan, pesan-pesan Pelan-pelan banyak anak, Jalan terus. Ataupun suasana masyarakat sehari-hari pada karya Bermain Ban, Share, Persiapan ke Ladang, Kerja.

Jika menilik perjalanan proses kreatifnya, pilihah alihmedia dan dimensi bisa jadi merupakan kelanjutan dari eksperimen Isrol saat pameran tunggal di Kersan art studio pada tahun 2012. Dalam pameran bertajuk “Kersan kesan pertama begitu menggoda” tersebut Isrol mencoba merespon secara kritis ke lokasi di mana dia membuat karya di ruang publik dengan memfokuskan pada gagasan eksplorasi ruang dan konteks. Dengan memperhitungkan relasi fungsi ruang dan karyanya, Isrol mengajak masyarakat untuk berpikir lebih kritis tidak hanya tentang karya seni tetapi juga konteks di mana karya tersebut berada.

“Dimensi tidak selalu menjadi masalah. Ada beberapa karya street art ukuran besar yang saya pindahkan ke medium ukuran kecil. Begitupun dimensi karya yang kecil pun sering saya diaplikasikan langsung ke jalanan.” papar Isrol.

Cukup menyentak kesadaran saat menyaksikan papan kayu yang masih jelas tertulis kode wilayah telepon untuk Yogyakarta. Di atas papan kayu yang sudah mengelupas catnya Isrol menambahkan gambar stensil dua figur orang membawa telepon genggamnya. Satu orang sedang menelepon, satu orang lagi sedang mencari sinyal. Di bagian atas papan Isrol menambahkan tulisan warna putih “No Wifi”.

Sinyal telepon selular hari ini telah menjelma menjadi nyawa bagi penggunanya. Ketidakadaan sinyal seolah menjadi kiamat kecil bagi pemiliknya. Teknologi yang berkembang telah mengubah cara pandang manusia bagi relasi dengan sesamanya. Hari ini realitas telepon genggam pintar yang sesungguhnya bisa menjadi alat yang memudahkan dan mendekatkan, yang terjadi justru kerap berkebalikan: merepotkan dan menjauhkan. Teknologi adalah hal yang bebas nilai, namun penggunaan dan pemanfaatannya adalah hal lain lagi. Sebuah ironi dari dampak perkembangan teknologi.

Cafe-cafe maupun ruang kuliner yang tumbuh menjamur di sudut-sudut kota manapun yang sesungguhnya menjadi ruang perjumpaan, di sisi lain sinyal wifi adalah sebuah keharusan untuk disediakan pengelolanya agar pengunjung mau datang. Tanpa wifi, jangan harap pengunjung akan banyak berdatangan. Dan pemandangan yang jamak terjadi, perjumpaan tersebut menjadi sunyi manakala setiap pengunjung lebih asyik dengan gawai pintarnya terlebih ketika pengelola menyediakan wifi secara cuma-cuma.

Saya jadi membayangkan karya No Wifi tersebut dipinjamkan pada cafe-cafe, ruang kuliner, pusat perbelanjaan, ataupun ruang publik untuk dipajang di ruang pengunjung. Kira-kira adakah yang bersedia menerima dan memajangnya?

Pameran tunggal Isrol Medialegal bertajuk “Sign” di Kebun Buku Jalan Minggiran No 61A/MJ II Mantrijeron Yogyakarta berlangsung hingga 4 Maret 2020.

Editor : Sabar Subekti

UKRIDA
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home