Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 04:03 WIB | Sabtu, 13 Oktober 2018

Nusasonic 2018 Crossing Aural Geographies

Nusasonic 2018 Crossing Aural Geographies
AGF saat tampil di Pendapa Ajiyasa Jogja National Museum, Jumat (12/10) malam. (Foto: Moh. Jauhar al-Hakimi).
Nusasonic 2018 Crossing Aural Geographies
AGF-Sonic Wilderness saat melakukan lab artistik. (Foto: Taica/Nusasonic.com)
Nusasonic 2018 Crossing Aural Geographies
AGF-Sonic Wilderness saat melakukan lab artistik di luar ruangan (outdoor execursion). (Foto: Utami/Nusasonic.com)

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Setelah melakukan sejumlah lab artistik yang tersebar di pusat Yogyakarta melibatkan lebih dari 30 seniman dan praktisi dari Indonesia, Asia Tenggara, dan Eropa, kolaborasi dalam Lab Artistik Nusasonic pada 2-13 Oktober, selama empat hari Nusasonic 2018 menggelar program festival dengan mempresentasikan karya yang dihasilkan dari lab artistik.

Festival berlangsung di Gedung Societet Militair-Taman Budaya Yogyakarta pada Rabu (10/10) malam, dilanjutkan dengan Arcardaz Speakeasy lounge & bar, Kamis (11/10) malam, serta Pendapa Ajiyasa-Jogja National Museum Jumat (12/10) malam. Puncak festival digelar di Eloprogo art house, Magelang pada Sabtu (13/10) malam. 

Lab artistik dimulai Selasa 2 Oktober lalu oleh MusicMakers Hacklab. Pada lab artistik tersebut partisipan lokal dan internasional berkolaborasi mencari ide-ide baru dalam kreasi musik di bawah bimbingan Peter Kirn (CDM, Berlin) Andreas Siagian (Lifepatch, Yogyakarta), dan Lintang Radittya (Kenali Rangkai Pakai, Yogyakarta). Partisipan Hacklab akan mempertunjukkan karya mereka pada konser penutupan tanggal 13 Oktober di Eloprogo Art House.

Pada hari Jumat 5 Oktober dihelat dua residensi singkat, menyusun ulang dua konstelasi artistik baru. Kuartet yang terdiri dari musisi perkusi ekperimental Cheryl Ong dan Riska Farasonalia, seniman bebunyian eksperimental Kok Siew-Wai, serta pianis Nadya Hatta mampu membuahkan rekaman untuk kaset 2-track yang akan dirilis oleh label Singapura Ujikaji, dari hasil sesi latihan mereka. 

Lab artistik Sonic Wilderness dan proyek Kombo dimulai akhir pekan lalu. Dipimpin oleh seniman dan aktivis AGF, Sonic Wilderness mengekplorasi pendengaran dan pembuatan musik dengan alam sekitar. Kelompok musisi muda perempuan yang terlibat datang dari beragam latar belakang, membawa serta sejumlah alat musik, instrumen, elektronik dan ide ke dalam kelompok. Pada Jumat (12/10) malam, AGF bersama SOTE, Setabuhan (Indonesia), dan NMO tampil bergantian di Pendapa Ajiyasa JNM mempresentasikan karya lab artistiknya.

“Setiap hari, kelompok ini mengeksplorasi pendengaran dan pembuatan musik dengan lingkungan sekitar. Di sela-selanya, kami melakukan diskusi panjang dan mendalam mengenai pengalaman hidup, budaya, makanan, kewanitaan, hak perempuan, peralatan musik dan musik. Proses penciptaan musik dengan para perempuan luar biasa di tepi sawah dan ruang urban serta pembicaraan kami menginspirasi dan menjadikan saya sangat bersyukur,” jelas AGF saat tampil di JNM, Jumat (12/10) malam.

Selepas inagurasi di Yogyakarta, Nusasonic akan mengambil bentukan serta format berbeda dan mengunjungi Manila, Singapura dan lokasi lainnya di Asia Tenggara dalam beberapa tahun mendatang. Inisiatif ini juga akan menghubungkan Berlin serta negara asing lainnya.

 
Back to Home