Google+
Loading...
RELIGI
Penulis: Melki Pangaribuan 17:33 WIB | Senin, 20 Januari 2020

Observasi FKUB Jateng: Ahmadiyah Tidak Sesat dan Murtad

Observasi FKUB Jateng: Ahmadiyah Tidak Sesat dan Murtad
Ketua FKUB Jawa Tengah, Drs KH Taslim Sahlan Msi, bersama rombongan dari unsur NU, Muhamadiyah, MUI, Budha, Konghucu, Kepemudaan, Tokoh Masyarakat dan Tokoh-tokoh perempuan mendatangi langsung kantor pusat Ahmadiyah di Parung, Bogor – Jawa barat dan Komunitas Muslim Ahmadiyah di Desa Manislor, Kuningan – Jawa Barat, 17-19 Januari 2020. (Foto: Dokumentasi JAI)
Observasi FKUB Jateng: Ahmadiyah Tidak Sesat dan Murtad

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Sebanyak 33  orang dari berbagai elemen yang tergabung dalam rombongan Forum Kerukunan Umat beragama (FKUB) Jawa Tengah, selama tiga hari pada tanggal 17-19 Januari 2020 melakukan observasi lapangan, pengecekan fakta atas opini yang berkembang selama ini tentang Ahmadiyah.

Observasi dilakukan langsung dengan mendatangi langsung kantor pusat Ahmadiyah di Parung, Bogor – Jawa barat dan Komunitas Muslim Ahmadiyah di Desa Manislor, Kuningan – Jawa Barat.

Ketua FKUB Jawa Tengah, Drs KH Taslim Sahlan MSi, yang memimpin rombongan oberservasi FKUB Jawa Tengah tersebut mengatakan tujuan observasi ini sangat penting untuk FKUB, karena FKUB tidak boleh bersikap hanya berdasarkan opini, tetapi harus bersikap berdasarkan fakta yang empirik.

“Tentu kami tidak bermaksud melawan opini kebanyakan pihak. Tapi justru melangkah untuk membangun persaudaraan berdasarkan fakta fakta yang sesungguhnya diamalkan oleh Ahmadiyah,” kata Taslim Sahlan seperti disampaikan dalam keterangan tertulis oleh juru bicara JAI, Yendra kepada satuharapan.com, hari Senin (20/1).

Rombongan FKUB yang hadir berasal dari unsur NU, Muhamadiyah, MUI, Budha, Konghucu, Kepemudaan, Tokoh Masyarakat dan Tokoh-tokoh perempuan.

Fakta yang ditemukan melaui observasi, dialog dan pengalaman mengikuti rangkaian ibadah shalat dan kegiatan Ahmadiyah.

Pertama, soal "tuduhan" kebanyakan orang tentang Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi setelah nabi Muhammad saw ternyata tidak benar.

“Setelah kami membaca literatur dan diskusi. Syahadat Muslim Ahmadiyah pun sama persis dengan muslim lainya,” katanya.

Kedua, Kitab suci al Quran yang digunakan sebagai landasan utama amaliyah Ahmadiyah juga sama dengan muslim pada umumnya. Tidak ada kitab suci lain selain Al Qur'an.

Ketiga, Shalat yang dilaksanakan Ahmadiyah tidak ada yang menyimpang dengan shalat yang dilakukan oleh umat Islam pada umumnya.

Kelima, ibadah haji yang ditunaikan oleh jemaat Ahmadiyah juga ke Makkah, bukan ke tempat lain,” katanya.

”Maka berdasarkan observasi cek fakta tersebut FKUB Jawa Tengah menyatakan bahwa saudara saudara kami muslim Ahmadiyah adalah muslim yang taat. Tidak sesat, apalagi murtad,” katanya.

Dalam soal relasi Jemaat Ahmadiyah dengan masyarakat umum sangat  luar biasa, terbuka dan  tidak eksklusif. Dalam khidmad mengelola potensi umat untuk kemanfaatan bagi lingkungan sosial melebihi ekspektasi layanan kemasyarakatan pada umumnya.

“Kesejahteraan menyangkut hajat umat manusia menjadi konsern luar biasa. Misalnya, kami menemukan komitmen kemanusiaan melalui donor darah, donor mata, sedekah, dll. Bahkan saya melihat sendiri salah seorang jemaat mendonorkan matanya saat meninggal dunia,” katanya.

Lebih lanjut Taslim mengatakan, bahwa ia menemukan keunikan luar biasa pada organisasi Ahmadiyah yang belum ditemukan di organiasi Agama di tempat lain, yaitu bagaimana Ahmadiyah mengelola organisasi secara modern, transparan dan berbasis teknologi terkini.

Menurutnya, Ahmadiyah memiliki sistem yang terstandarisasi dan terintegrasi di seluruh dunia, di mana saat ini Ahmadiyah sudah ada di 213 negara.  Mereka mengelola potensi ummat. berbasis IT. Hal lain yang paling berkesan tentang Ahmadiyah adalah akhlaq dalam menghormati tamu. Baik tamu sesama Ahmadiyah sendiri maupun tamu non Ahmadiyah.

“Kami merasakan mendapat penghormatan luar biasa. Keramahan setiap jemaat begitu sangat membekas dalam diri kami,” katanya.

Sementara itu, ada motto yang paling dirasakan luar biasa oleh dirinya, yaitu Love for all Hatred For None, mencintai semua tanpa batas dan tiada kebencian untuk siapapun.

“Kami merasakan, melihat dan  mengalami berintetaksi dengan Jemaat Ahmadiyah bahwa ini tidak sekedar motto, jargon. Tapi amalan yang nyata. Lalu apa yang ditakutkan? Apa yang dicurigai? Saya kira aneh kalau hari ini masih ada yang "memcurigai" Saudara muslim Ahmadiyah,” kata Ketua FKUB Jateng itu. (PR)

 

UKRIDA
Gaia Cosmo Hotel
Zuri Hotel
Back to Home