Google+
Loading...
INSPIRASI
Penulis: Darwin Darmawan 20:24 WIB | Kamis, 03 Januari 2019

Optimis

Optimisme itu perlu kita nyalakan dan pelihara pada tahun 2019 ini.
Tetap optimis (foto: www.pixabay.com)

SATUHARAPAN.COM – Cuaca cerah. Birunya langit terlihat jelas. Pohon-pohonan hijau begitu segar. Daunnya bergoyang-goyang pelan, seakan memberi salam.

Akan tetapi, semua itu berubah. Ketika mobil yang saya kendarai memasuki Bogor, air dari langit tumpah. Kilat dan guntur sambung-menyambung. Sangat kuat. Begitu terasa dekat. Angin bertiup keras,  sehingga beberapa pohon tumbang.  Pandangan mata saya terbatas karena hujan turun begitu deras   Saya pun memberhentikan mobil karena takut. Juga kaget.  Tidak menyangka, cuaca cerah tiba -tiba berubah menjadi hujan badai yang dahsyat. Saya menarik nafas. Berdoa. Saya pun beroleh keberanian untuk melanjutkan perjalanan.

Situasi seperti itu dialami para murid Kristus juga.  Mereka tidak menduga, angin ribut menghantam perahu mereka begitu dahsyat. Itu terjadi tiba-tiba. Alkitab mencatat: ”Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu...”(Mat. 8: 24).

Sedemikian dahsyat angin ribut itu, sampai-sampai para murid berpikir mereka akan binasa(ay. 25). Ketika itu terjadi, mereka membangunkan Kristus yang tidur, lalu meminta tolong kepada-Nya. Kristus menolong. Angin ribut pun reda. Ia berkata,”Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?”(ay.26).

Memasuki tahun 2019, firman Allah ini relevan untuk kita. Ada tiga hal yang bisa kita hayati. Pertama, perahu kehidupan keluarga, gereja, dan bangsa kita, bisa dihantam badai dahsyat pada tahun ini. Bisa terjadi, kita mengira segala hal berjalan baik.  Tiba-tiba, ada badai dahsyat yang membuat kita kaget dan takut. Karena itu, bersiaplah untuk kemungkinan buruk seperti itu.

Kedua, jika itu terjadi,  kita perlu datang kepada Tuhan, memohon pertolongan-Nya supaya badai reda. Sebagai bangsa yang berketuhanan, kita perlu menyadari hal ini. Jika ada badai yang menerpa bangsa atau keluarga kita, kita perlu mengizinkan kuasa-Nya bekerja.

Ketiga, kita perlu menjalani hidup pada tahun 2019 dengan pengharapan dan  optimisme. Ingatlah, dalam perahu kehidupan bangsa, gereja, dan keluarga kita,  ada Tuhan di dalamnya.  Teguran-Nya kepada para murid—”Mengapa kamu takut?”— mestinya menjadi  pengingat agar kita tidak dikuasai ketakutan dalam menjalani tahun ini. Tentu, bukan karena kita kuat dan hebat.  Kita tidak boleh takut karena ada Dia, yang berkuasa, lebih besar dari pada sumber ketakutan kita.  Badai sedahyat apa pun bisa reda jika kita mengizinkan kuasa-Nya bekerja!

Optimisme itu perlu kita nyalakan dan pelihara pada tahun 2019 ini. Kita tidak boleh takut dan dikuasai rasa takut. Kita perlu optimis, perahu bangsa, gereja, dan keluarga kita akan lebih dekat ke tempat  tujuan, karena kita berlayar bersama-Nya!

Ayo optimis!

Editor : Yoel M Indrasmoro

Back to Home