Google+
Loading...
FOTO
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 16:38 WIB | Jumat, 03 November 2017

Pameran Biennale Jogja “Age of Hope" Dibuka

Pameran Biennale Jogja “Age of Hope" Dibuka
Pameran Biennale Jogja XIV di Jogja National Museum Jl. Prof. Ki Amri Yahya No. 1, Gampingan Yogyakarta. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
Pameran Biennale Jogja “Age of Hope" Dibuka
Rubern Antonio Correa Barbosa Duta Besar Republik Federasi Brasil untuk Indonesia sedang menandatangani banner pameran di pelataran Jogja National Museum didampingi Triawan Munaf (tengah) dan Kepala Taman Budaya Yogyakarta, Kamis (2/11) sore.
Pameran Biennale Jogja “Age of Hope" Dibuka
Aditya Novali (kaos hitam) memberikan penjelasan karya terbarunya dalam Biennale Jogja XIV.
Pameran Biennale Jogja “Age of Hope" Dibuka
"Requiem" karya Roby Dwi Antono.
Pameran Biennale Jogja “Age of Hope" Dibuka
"The Relationship between Hope and the Blood" karya Lugas Syllabus.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Pameran Biennale Jogja (BJ) tahun 2017 yang telah memasuki penyelenggaraan yang keempat belas dibuka di pelataran Jogja National Museum (JNM), Kamis (2/11) sore. Pembukaan dihadiri oleh Kepala Badan Ekonomi Kreatif - RI (Bekraf) Triawan Munaf, Duta Besar Republik Federasi Brasil untuk Indonesia Rubern Antonio Correa Barbosa, serta Kepala Taman Budaya Yogyakarta mewakili Gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwana X.

Dalam sambutan yang dibacakan oleh Kepala Taman Budaya Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwana X memberikan apresiasi bagi penyelenggaraan Biennale hingga saat ini. Biennale Jogja dipandang penting sebagai upaya untuk meningkatkan potensi daerah kepada masyarakat luas bahkan ke luar negeri. Ajang kali ini juga bisa digunakan untuk lebih mempererat hubungan Indonesia-Brasil dalam bidang seni-budaya serta sekaligus dapat memperkuat dan mendukung prosisi Yogyakarta sebagai pusat seni-budaya, pendidikan, dan pariwisata.

"Yogyakarta sebagai pusat kebudayaan Jawa memiliki sifat yang inklusif dan dinamis yang selalu menerima kehadiran dari dunia luar melalui dialog interaktif dan akulturasi budaya. Sifat keterbukaan inilah yang menjadi modal berharga bagi masyarakat dan merupakan kekuatan pendorong demokrasi, kelembagaan, maupun kehidupan masyarakatnya," jelas Sri Sultan Hamengku Buwana X.

Kepala Bekraf Triawan Munaf menyoroti posisi strategis Biennale Jogja sebagai salah satu pendorong dan motor bagi pengembangan ekonomi kreatif dimana pemerintah berkepentingan untuk memajukannya secara langsung.

Di Indonesia saat ini ada tiga Biennale Jakarta, Makassar, serta Jogja dengan waktu penyelenggaraan yang berdekatan yang jadwalnya telah dirancang untuk menciptakan sinergi antar  tiga acara yang bisa mendatangkan banyak pengunjung asing yang dianggap key decision maker di bidang seni rupa kontemporer.

"Biennale saat ini tampaknya (telah) menjadi pra-syarat bagi sebuah negara yang ingin bergabung dalam peta-peta seni budaya kontemporer dunia. Indonesia melalui ketiga Biennale yang hadir adalah salah satu peserta dunia yang penuh dengan rasa optimis untuk mensinyalkan kedatangannya di kancah seni-budaya dunia. Kita terlibat langsung, kita terjun langsung, kita apresiasi langsung, karena ekonomi kreatif seperti yang dicita-citakan oleh Bapak Presiden harus menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia," jelas Triawan Munaf dalam sambutannya.

Tiga puluh tujuh karya dari 27 seniman Indonesia terpilih serta 12 seniman Brasil dipamerkan di tiga lantai JNM dengan tawaran ide-ide yang berbeda. Tiga dari seniman Brasil tersebut mengikuti residensi selama dua bulan di Yogyakarta. Para seniman Brasil terpilih ialah: Cinthia Marcelle dan Tiago Mata Machado, Clara Ianni, Daniel Lie, Deyson Gilbert, Ícaro Lira, Jonathas de Andrade, Leticia Ramos, Lourival Cuquinha, Rodrigo Braga, Virginia de Medeiros, Waléria Americo, dan Yuri Firmeza.

Memasuki lorong ruang pamer dinding dan lantai direspon dengan serial mural dan kata-kata yang diambil dari tulisan-tulisan/iklan kecil ataupun ungkapan-ungkapan perasaaan yang banyak ditemui di ruang jalan, ruang wc, dinding-dinding semisal Bersatu kita teguh, bercerai kita grenen-greneng ning mburi, kenthu sebagai panglima, kopi mahal dibeli kacang murah ditawar, Skripsi/Tesis 089x x105 9150. Street art dalam realitasnya mampu menangkap fenomena yang sedang tumbuh di masyarakat secara jenaka, mengena, ringan. Dan tentu saja seksi.

Perupa Aditya Novali yang dalam tiga tahun terakhir dalam project NGACO yang membuat display toko bangunan lengkap dengan material/bahan bangunan sebagai kritik atas keadaan negara yang berjalan secara auto-pilot, dalam karya terbarunya menyusun piksel-piksel monitor lcd gawai/laptop sesaat sebelum terhubung dalam jaringan. Perkembangan piranti cerdas berikut media sosial dan dampak yang ditimbulkan menjadi ketertarikan Aditya saat ini.

Karya tiga dimensi Roby Dwi Antono berjudul "Requeim" seolah menjadi refleksi kehidupan kita saat ini terkait dengan permasalahan anak-anak mulai dari kekerasan, eksploitasi tenaga kerja anak, hingga ancaman pasar penyalahgunaan narkoba. Dalam visualisasi anak-anak yang "dicengkeram" daging busuk yang dikerubung lalat, ada keputusasaan menuju proses kematian yang dini.

Sementara Lugas Syllabus dengan karya berjudul "The Relationship between Hope and the Blood" membelah  rumah panggung kayu tradisional dalam sebuah karya instalasi berikut drama irisan kehidupannya.

Pameran Biennale Jogja XIV akan berlangsung hingga 10 Desember 2017 di Jogja National Museum Jl. Prof. Ki Amri Yahya No. 1, Gampingan Yogyakarta.

UKRIDA
Gaia Cosmo Hotel
Zuri Hotel
Back to Home