Google+
Loading...
FOTO
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 01:11 WIB | Rabu, 06 September 2017

Pameran Foto "Di mana Garuda"

Pameran Foto "Di mana Garuda"
Foto berjudul "Tolak Pancasila sebagai Pilar Negara" karya Novan Jemmi Andrea (freelance fotografer) yang dipamerkan pada pameran foto "Di mana Pancasila" di Bentara Budaya Yogyakarta, Jalan Suroto No. 2 Yogyakarta, 5-13 September 2017. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
Pameran Foto "Di mana Garuda"
Foto cerita berjudul "Merangkai Garuda Pancasila" karya Suryo Wibowo.
Pameran Foto "Di mana Garuda"
Foto cerita berjudul "Harmoni di Tiongkok Kecil" yang dibuat oleh Andreas Fitri Atmoko dari Antara Foto.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Pewarta Foto Indonesia (PFI) Yogyakarta bekerjasama dengan Bentara Budaya Yogyakarta menggelar pameran foto bertajuk "Di mana Garuda" di Bentara Budaya Yogyakarta, Jalan Suroto No. 2 Yogyakarta. Selama 5-13 September 2017, sebanyak 47 foto tunggal dan 8 foto cerita yang diseleksi melalui kurasi yang ketat menjadi bagian sebuah cerita yang direkam oleh Pewarta Foto Indonesia Yogyakarta.

Pameran dibuka oleh budayawan Sindhunata dengan membacakan puisinya berjudul "Hidup Garuda", Selasa (5/9) malam. Dalam sambutannya Sindhunata menyampaikan keprihatinan dan kekhawatirannya yang mendalam atas situasi bangsa Indonesia saat ini.

"Situasi bangsa akhir-akhir ini dimana Garuda tidak sebatas sebagai simbol negara namun juga kehidupan karena didalamnya tersimpan Pancasila seakan-akan punah oleh gerakan-gerakan yang diam-diam hendak mendirikan suatu alternatif lain selain negara Pancasila. Tetapi juga oleh ulah-ulah politik yang sungguh-sungguh telah menyimpang dari norma-norma Garuda yang ada di dadanya kelima sila dasar itu, lebih-lebih sila kemanusiaan, keadilan, dan persatuan." kata Shindunata.

Melalui karya foto jurnalistik, Sindhunata masih menemukan optimisme adanya Garuda yang ditemukan oleh para pewarta foto dalam kegembiraan anak-anak bermain menyambut 17 agustusan, dalam tumpukan puing-puing gempa, maupun dalam aktivitas-aktivitas kemanusiaan dimana kerukunan tanpa membeda-bedakan golongan, suku, dan agama tetap ada. Acara pembukaan pameran dikemas cukup menarik dimana pengunjung memasuki ruang pamer yang gelap dengan membawa lilin, seolah-olah sedang mencari di mana Garuda berada.

Delapan foto cerita banyak menyajikan narasi realitas kehidupan masyarakat Indonesia. Foto cerita berjudul "Miskin di Negeri Kaya" karya Ulet Ifansati (Getty images)memberikan gambaran bagaimana Indonesia yang memproduksi lebih dari 70 miliar dolar emas/tahun melalui tambang Grasberg yang ada di Timika, Papua ternyata belum memberikan keadilan sosial bagi masyarakat setempat. Yang terjadi justru rusaknya daerah anak sungai Aikwa, hutan, serta formasi mangrove akibat buangan limbah tambang. Pada saat bersamaan, masyarakat setempat hanya mampu mengais rejeki dari mendulang limbah tersisa (tailing).

Optimisme tentang kemanusiaan ditunjukkan dalam karya foto cerita berjudul "Merawat dengan Cinta" karya Hendra Nurdiansyah (Antara Foto). Perjuangan Titus Lado dalam memberikan pelayanan bagi pasien gangguan jiwa secara jeli dipotret Hendra dalam sudut yang mampu menceritakan banyak hal: merawat kemanusiaan adalah merawat cinta dan kehidupan.

Pradita Utama dari Suara Merdeka dalam karya foto cerita berjudul "KTP Elektronik untuk Golongan Minoritas" cukup menyentak ketika negara masih hadir dalam diri penyandang gangguan kejiwaan di Kota Pekalongan. Ketika di banyak negara warga negaranya terancam stateless akibat konflik dalam negerinya, di Pekalongan muncul secercah harapan bagi pelayanan publik untuk seluruh warga negara termasuk. Meskipun dalam banyak hal, negara dan pemerintah Indonesia pun harus banyak berbenah dalam memberikan pelayanan dasar bagi warga negaranya. Dan pemberian KTP kepada bagi penyandang gangguang kejiwaan, cacat permanen-difabel, penderita penyakit kronis, lansia-jompo selain pengakuan negara atas warganya sekaligus merupakan pintu masuk akses serta bagi peningkatan pelayanan kesehatan di seluruh wilayah Indonesia.

Karya foto cerita berjudul "Harmoni di Tiongkok Kecil" yang dibuat oleh Andreas Fitri Atmoko (Antara Foto) menjadi gambaran bagaimana sesungguhnya Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi semangat perekat bagi hubungan anak bangsa sesungguhnya sudah lama terwujud di banyak tempat, Lasem salah satunya.

Lasem, sebuah kota kecamatan di Kabupaten Rembang-Jawa Tengah adalah gambaran hubungan interaktif dan cair antar berbagai etnis-agama-masyarakat setempat yang terbangun sejak lama. Secara organis hubungan tersebut menciptakan relasi yang saling menjaga. Pengasuh Pondok Pesantren Kauman Lasem, H.M. Zaim Ahmad Ma’shoem memberikan istilah Lasem sebagai wilayah yang tanpa sumbu (konflik). Kultur koeksistensi tersebut tidak bisa dibangun secara instan, tetapi membutuhkan basis kultural yang dialami sebuah masyarakat dalam kurun waktu yang lama. Kultur inilah yang melahirkan sebuah rasa saling percaya diantara mereka. Harmoni-harmoni seperti inilah yang harus dijaga bersama.

Dalam pameran foto "Di mana Garuda" banyak ditemukan realitas bahwa Indonesia sebagai sebuah bangsa dengan berbagai macam keberagaman yang melingkupinya dalam bawah sadar warganya sesungguhnya masih tumbuh bunga-bunga kebangsaan. Tinggal bagaimana para pihak mampu mewujudkannya dalam keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, sebagaimana sajak Sindhunata: "...Di mana garuda? Ia ada! Dalam tawa mereka yang terlantar, di jalan berlubang susah berkepanjangan. Tubuh mereka terobek-robek derita, namun hati mereka bermekaran dengan bunga, karena mereka merasa berada di taman teduh bernaungkan sayap-sayap cinta, tersentuh halusnya uluran tangan sesama..."

 

Back to Home