Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 09:28 WIB | Selasa, 07 Agustus 2018

Pameran Lukis "Berkaca pada Kaca"

Pameran Lukis "Berkaca pada Kaca"
Lukisan kaca berjudul "Wuku Dukut" karya Subandi Giyanto pada pameran "Berkaca pada Kaca", 4-10 Agustus 2018. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
Pameran Lukis "Berkaca pada Kaca"
Pengunjung menyaksikan lukisan kaca enamel karya Rina Kurniyati, Sabtu (4/8) malam di Tahunmas art room.
Pameran Lukis "Berkaca pada Kaca"
Empat lukisan kaca karya Rendra di atas genteng kaca.
Pameran Lukis "Berkaca pada Kaca"
Permintaan Terakhir - 30 cm x 30 cm - akrilik di bawah kaca - Prasetia Pradana - 2017.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Lima pelukis kaca dari kelompok Gedhah Sinangling menggelar pameran lukis kaca di Tahunmas artroom. Pameran dibuka oleh seniman peran Butet Kertarejasa, Sabtu (4/8) malam.

Dalam sambutannya Butet memaparkan bagaimana kaca sebagai material/medium yang bisa direspon memiliki banyak kemungkinan menjadi karya seni dengan berbagai kemungkinan yang tak terbatas.

"Kaca diperlakukan sebagai satu material yang masih menyisakan ruang kemungkinan eksplorasi artistik yang tidak terbatas. Sanento Yuliman menyebut lukisan kaca sebagai seni bawah/rendah (low art). Mengapa itu (harus) dilekatkan pada seni lukis kaca kalau itu hanya masalah material? Justru yang terpenting adalah gagasan dan pikiran diartikulasikan dengan medium apapun termasuk kaca, karena dalam dunia seni pada dasarnya adalah kreativitas. Tidak ada teritori/batas yang memagarinya." jelas Butet Kertarejasa dalam pembukaan.

Sebelumnya pemilik Tahunmas artroom Timbul Raharjo dalam sambutannya memberikan gambaran bagaimana perjalanan seni lukis kaca di Indonesia yang sudah cukup lama berkembang sejak awal abad ke-20 namun akhir-akhir ini mengalami kecenderungan yang menurun peminatnya.

Pameran lukisan kaca "Berkaca pada Kaca" menawarkan eksplorasi karya yang beragam mulai dari wayang dalam pakemnya hingga visual kekinian dari seniman-seniman muda.

Seni lukis kaca banyak berkembang di Cirebon dengan mengambil obyek wayang serta kaligrafi. Di Yogyakarta lukis kaca konsisten dilakoni oleh Subandi Giyanto sejak masih menjadi pengajar di SMKN 3 (Sekolah Menengah Seni Rupa) Kasihan-Bantul. 

Dengan sebagian besar karya mengangkat tema wayang Subandi merespon material-medium berbahan kaca menggantikan kanvas dikombinasikan dengan material lain semisal kayu sebagai pigura sekaligus kesatuan karya yang tidak terpisahkan.

Pada tiga karya berjudul "Matahari", "Wuku Kutuwelut" dan "Wuku Dukut" Subandi membuat lukisan dengan medium cermin. Sementara pada karya "Melik Gendhong Lali" Subandi bermain-main dengan bebasan Jawa dalam karya wayang dan memasukkan unsur figur kekinian: Petruk memangku dua perempuan, satu berkebaya dan satu berbaju seksi warna pink.

Subandi juga menggunakan bebasan/paribasan dalam karya berjudul "Aja Rebutan Kursi", "Yen Ning mBuri aja Nggendholi", "Yen Bareng aja Jegali", dalam idiom bahasa Jawa tersebut Subandi seolah mengajak pengunjung  untuk selalu introspeksi dan mawas diri sebagaimana tema pameran yang ditawarkan.

Menarik juga melihat karya Sulasno berjudul "Diponegoro" yang merekonstruksi seluruh figur yang ada dalam karyanya dalam karakter wayang. Sementara Agus Nuryanto lebih banyak menawarkan wayang sebagai metafora kehidupan manusia: bayang-bayang.

Seniman pelukis wayang uwuh Iskandar lebih banyak memanfaatkan material bekas termasuk kaca dalam karya lukisan kacanya. Iskandar dikenal sebagai pelukis wayang dalam berbagai medium yang memanfaatkan barang-barang bekas sebagai kanvas karyanya.

"Untuk lukisan kaca, saya mencari kaca-kaca bekas untuk karya saya. Membeli kaca baru jika sudah terpaksa sekali," jelas Iskandar saat ditemui satuharapan.com di Bentara Budaya Yogyakarta ketika berpameran "Buka Tutup", Sabtu (21/7).

Sebagai catatan, untuk bisa terurai di alam kaca memerlukan waktu hingga ratusan ribu tahun. Terbuat dari campuran pasir, produk dari kaca beling sangat sulit terurai dalam tanah. Solusinya adalah dengan mendaur ulang produk dari kaca beling tersebut. Selain didaur ulang, pilihan Iskandar memanfaatkan kaca bekas sebagai medium karya lukis ataupun peruntukan lainnya adalah salah satu tawaran solusi penangan sampah kaca.

"Dari botol plastik kemasan minuman saya sering membuat wayang transparan" jelas Iskandar. Karena seringnya membuat karya wayang dari barang bekas itulah Iskandar dikenal sebagai seniman wayang uwuh. Saat ini dua karya wayang Iskandar berbentuk layang-layang sedang dipersiapkan untuk dipamerkan di Prancis pada bulan September nanti.

Perupa perempuan Rina Kurniyati menawarkan karya lukis kaca yang berbeda dengan menggunakan hal-hal berkaitan dengan otomotif sebagai obyek karyanya. Delapan karya lukis kaca yang dipamerkan Rina keseluruhannya berhubungan dengan mobil. Dengan gaya lukisan hyper-realis Rina seolah memindahkan obyek lukisan di atas kaca dengan menggunakan cat enamel seolah mencetak dengan menggunakan printer dalam warna, kontur, dan tekstur yang detail. Melihat karya Rina pengunjung ditawari dengan karya yang mirip warna aslinya: metal, karet, kaca, sebagaimana aslinya. Rina menggunakan warna dengan kesulitan yang tinggi dimana lukisan tersebut tidak memiliki warna dasar sama sekali.

Dua seniman-perupa muda Rendra dan Prasetia Pradana benar-benar merespon medium kaca dalam sentuhan lukisan hari ini. Pada selembar kaca berukuran 30 cm x 30 cm, Prasetia membuat lukisan komik strip berjudul "Permintaan Terakhir" sementara pada empat genteng kaca, Renda meresponnya menjadi media iklan bungkus produk sigaret. Selain visualnya yang menarik, lukisan kaca genteng Rendra memberikan tawaran lain sekiranya genteng kaca tersebut benar-benar dipasang menjadi atap sebuah rumah.

Pameran lukis kaca "Berkaca pada Kaca" akan berlangsung hingga 10 Agustus 2018 di Tahunmas artroom, Jalan Raya Kasongan No.223, Kajen, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul.

 

Back to Home