Google+
Loading...
FOTO
Penulis: Reporter Satuharapan 23:54 WIB | Rabu, 15 Mei 2019

Pameran Lukisan “Kawitan” Hadirkan 44 Seniman Lintas Generasi

Pameran Lukisan “Kawitan” Hadirkan 44 Seniman Lintas Generasi
Karya Ida Bagus Made Nadera: Ngelawar 1998, 74x114 cm Acrylic on canvas. (Foto-foto: Damping Gallery)
Pameran Lukisan “Kawitan” Hadirkan 44 Seniman Lintas Generasi
Karya Dewa Putu Mokoh: Good Sleep 2005 60x90 cm Acrylic on Canvas.
Pameran Lukisan “Kawitan” Hadirkan 44 Seniman Lintas Generasi
Karya I Gde Ngurah Panji: Mahabaratha 2013 148x289 cm Chinese Ink Acrylic on canvas.
Pameran Lukisan “Kawitan” Hadirkan 44 Seniman Lintas Generasi
Karya I Gusti Agung Wiranata: Balinese River 2009 100x70 cm Acrylic on canvas.
Pameran Lukisan “Kawitan” Hadirkan 44 Seniman Lintas Generasi
Karya I Gusti Ayu Natih Arimini: Upacara di Bali 51x70 cm Acrylic on paper.
Pameran Lukisan “Kawitan” Hadirkan 44 Seniman Lintas Generasi
Karya I Wayan Bendi_Sebuah: Perubahan 130x165 cm Acrylic on Canvas.
Pameran Lukisan “Kawitan” Hadirkan 44 Seniman Lintas Generasi
Karya I Wayan Djudjul: Jauk 2007 60x45 cm Acrylic on Canvas.
Pameran Lukisan “Kawitan” Hadirkan 44 Seniman Lintas Generasi
Karya I Wayan Tohjiwa: Pasar Tradisional 1993 60x80 cm Acrylic on Canvas.

GIANYAR, SATUHARAPAN.COM - Pameran seni rupa di Bentara Budaya Bali (BBB) kali ini menghadirkan karya-karya terpilih dari 44 seniman lintas generasi. Dari yang paling sepuh I Wayan Tohjiwa (b. 1916) hingga yang terkini seperti I Gde Ngurah Panji (b. 1986), dan I Gede Pino (b.1985). Eksibisi akan dibuka pada Jumat (17/5), pukul 18.30 WITA oleh Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Dr. I Wayan Adnyana.

Pameran ini mengedepankan pelukis-pelukis ragam tradisional atau klasik Bali berikut babakan young artist yang rekah dan bertumbuh di kawasan kultural Ubud, hakikatnya mencerminkan pula dinamika seni rupa sebelum dan sesudah era Pita Maha. 

Merujuk tajuk “Kawitan”, pameran yang akan berlangsung hingga 28 Mei 2019 ini diniatkan pula sebagai sebuah upaya merunut Kawitan (asal muasal) atau melacak jejak (tematik, stilistik dan estetik) yang mewarnai proses cipta seniman lintas zaman ini.  Adapun karya-karya yang dipamerkan kali ini merupakan koleksi Damping Gallery, sebuah galeri di Ubud, Bali, yang konsisten menjaga eksistensi ragam seni lukis klasik/tradisional Bali.

Kepala Pengelola BBB, Warih Wisatsana mengungkapkan bahwa memang sedini awal masa kolonial, bahkan jauh sebelum itu, masyarakat Bali telah mengalami sentuhan globalisasi dengan beragam determinasinya. “Dengan kata lain, dunia seni rupa Bali hakikatnya  memiliki determinasi sejarahnya sendiri, yang terbukti telah “meng-ada” jauh sebelum dibaca sebagai bagian dari sejarah seni rupa Indonesia,” ungkapnya. 

Ia melanjutkan, melalui pilihan tematik atau ragam ikonik tertentu khas Bali terbaca upaya para kreator tersebut untuk mengolah ikon-ikon yang hidup dalam masyarakat Bali menjadi wujud rupa yang menggambarkan capaian estetik masing-masing yang otentik. Suatu kreasi modern yang mengandung kekuatan ekspresi terpilih, di mana ikonografi Bali direvisi atau dikreasi sedemikian rupa melampaui kebakuan bentuk lukisan Bali tradisional.

Seniman-seniman lain yang karyanya turut dipamerkan antara lain : Ida Bagus Made Nadera (b. 1918),  Dewa Putu Mokoh (b. 1936), I Wayan Asta (b. 1945), I Wayan Djujul (b. 1942), I Wayan Serati (b. 1939), I Nyoman Sinom (b. 1940), I Nyoman Tulus (b. 1941), I Nyoman Ridi (b. 1945), I Ketut Gelgel (b. 1944), I Ketut Ginarsa (b.1951), I Ketut Kicen (b. 1929), I Wayan Bendi (b. 1950), I Made Tubuh (b. 1941), I Gusti Agung Galuh (b. 1968), Pande Ketut Dolik (b. 1955), I Made Rasna (b. (b. 1964), I Wayan Rapet (b. 1941), I Wayan Jumu (b. 1959), I Nyoman Rupa (b. 1959), Dewa Sugi (b.1970), Ida Bagus Sena (b. 1966), Gusti Putu Joni (b. 1950), I Wayan Sukarta (b. 1956), I Made Madra (b. 1960), I Nyoman Manggih (b. 1941),  I Nyoman Suarsa (b. 1945), I Wayan Gandera, I Ketut Kebut, I Ketut Roji (b. 1943), I Ketut Madri (b. 1943), I Made Suryana (b.1976), I Ketut Sadia (b. 1966), I Wayan Diana (b. 1977), I Made Sunarta (b. 1980), I Made Warjana (b. 1985), I Wayan Wijaya (b. 1984), I Wayan Suardika (b. 1984), I Nyoman Winaya (b.1983),  Gusti Ayu Natih Arimini (b.1976), I Gusti Agung Kepakisan (b. 1974), dan I Gusti Agung Wiranata (b. 1970).

Karya-karya para seniman ini, baik para pendahulu maupun generasi yang lebih kini, mencirikan adanya pergulatan menyeluruh menyikapi secara kreatif tematik, stilistik sekaligus estetik. Ini adalah sebuah upaya transformasi yang mempribadi, boleh jadi merefleksikan pula transformasi masyarakat Bali dari ragam budaya agraris komunal yang guyub hangat menuju masyarakat modern dengan kecenderungan individual. (PR)

 

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home