Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 08:27 WIB | Kamis, 03 Januari 2019

Pameran Perupa Muda #3 “Ring Road”

Pameran Perupa Muda #3 “Ring Road”
Karya berjudul "Hening Diantara" (Danni Febriana) dalam pameran "PerupaMuda #3" berlangsung hingga 10 Januari 2019 di Bale Banjar Sangkring. (Foto-foto- Moh. Jauhar al-Hakimi)
Pameran Perupa Muda #3 “Ring Road”
Dari kiri ke kanan: Morning Dew (Dini Nur Aghnia), Fable Dreaming (Diana Puspita Putri), Menuju Dari #4 (Rika Ayu).
Pameran Perupa Muda #3 “Ring Road”
Silent Metamorphosis – cat minyak di atas kanvas – 120x90 cm – Adha Widayansyah – 2018.
Pameran Perupa Muda #3 “Ring Road”
Dari kiri ke kanan : After Cheers (Ridho Rizki), Berbaring untuk Menjulang (Liflatul Muhtarom), Something for Your Mind (Yusa Dirgantara).
Pameran Perupa Muda #3 “Ring Road”
Arus – akrilik di atas kanvas – 150x140 cm – Triana Nurmaria – 2018.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Untuk ketiga kalinya pameran Perupa Muda digelar kembali, menyusul dua tahun penyelenggaraan sebelumnya. Sebagaimana penyelenggaraan tahun 2017, sebanyak 52 perupa muda terlibat dalam memamerkan karyanya setelah lolos proses open call pameran Perupa Muda #3 - 2018.

Mengusung tajuk “Ring Road”, pameran Perupa Muda #3 dibuka pada Selasa (11/12) malam di Bale Banjar Sangkring memamerkan karya dua-tiga matra serta videografi. Jika pada penyelenggaraan tahun lalu medium kertas menjadi eksplorasi karya perupa muda, pada penyelenggaraan kali ini perupa muda diberikan kebebasan mengeksplorasi apapun berkaitan dengan karya merespon tema “Ring Road” dalam terjemahan bebas sebagai jalan lingkar.

Ring Road pertama kali dicetuskan oleh Sir Patrick Abercrombie, seorang planner (perencanaa) asal Inggris. Ring road menjadi salah satu solusi dari permasalahan kemacetan, depresi perumahan, tidak adanya zonasi, dan kurangnya ruang terbuka hijau di London.

Sebelum adanya ring road para pelintas antar kota harus melewati pusat kota sehingga menyebabkan bertambah padatnya arus lalu lintas. Dengan adanya ring road para pelintas antar kota tidak perlu melewati pusat kota, tapi hanya melewati pinggiran kota, sehingga kemacetan di pusat kota bisa berkurang.

Respon beragam disajikan perupa muda dalam tawaran yang menarik secara visual dan beberapa kuat secara estetika melalui eksperimen material-medium yang digunakannya. “Something in your eyes” karya Wikhani Ismaya dalam sulaman di atas kain dengan obyek mata, tanpa penjelasan berlebihan dengan mudah ditangkap pesan apa yang sedang disampaikan. Mata adalah bahasa tubuh sekaligus ekspresi yang sulit disembunyikan pemiliknya: adanya kegembiraan, kesedihan, suka, duka, amarah, kebencian, dan juga cinta adalah bahasa non-verbal yang natural.

Clay tepung maizena di atas kanvas menjadi medium bermain-main Dini Nur Aghnia dalam karya “Morning Dew” merekam pergantian malam menuju pagi mengawali aktivitas setelah sejenak rehat dalam keheningan malam. Pada selembar kertas koran bekas Een Subandoko menuangkan ekspresi kegelisahan narapidana kasus narkoba dalam goresan tinta cina dalam karya berjudul “Kerinduan di Dalam dan Perjalanan Terpidana”.

Karya “Hening Diantara” yang dibuat Danni Febriana dalam medium arang/charcoal di atas kanvas menjadi kritik atas realitas persepsi masyarakat yang seolah ‘terbelah’ atas nilai-nilai yang kerap men-stigma dan menjadi penghakiman atas baik-buruk, kotor-suci, beradab-terhina, hanya karena tampilan fisik semata. Dalam kehidupan sosial-politik hari-hari ini di Indonesia, stigma-stigma kerap dimanipulasi menjadi alat politik identitas untuk mengeruk keuntungan dan kekuasaan.

Sementara Riyan Kresnandi dalam karya “Haram Halal (Kontra Perspektif)” seolah mengingatkan bahwa sudut pandang yang berbeda bisa menghasilkan persepsi yang berbeda. Ketidak hati-hatian dalam menyikapinya bisa berdampak pada konflik horisontal (di masyarakat) manakala dalam obyek yang sama bisa memunculkan beragam persepsi yang berlawanan akibat sudut pandang yang berbeda.

Mengamati lima puluh dua karya dalam tema “Ring Road” seolah dibawa pada jalan lingkar yang merangkai, menyambungkan, sekaligus membaca-menguraikan dinamika kota berikut problematika di dalamnya. Menarik menunggu kiprah perupa muda ketika cara pandang dan cara baca banyak berubah akibat perkembangan teknologi-informasi yang begitu masif dalam dunia yang terhubung adalah realitas yang tidak terhindarkan hari ini.

Apakah dalam perjalanannya perupa muda akan memusat pada wilayah-wilayah keramaian kota menuju persaingan yang semakin anonim bersamaan perkembangan kota atau justru menyebar untuk memberikan warna perjalanan ide kreatifnya di masa datang agar lebih dinamis, tidak berjarak, membebaskan diri dari patronase hubungan kota-desa, sekaligus membebaskan diri dari legitimasi generasi?

Pameran "PerupaMuda #3" akan berlangsung hingga 10 Januari 2019 di Bale Banjar Sangkring Jalan Nitiprayan No 88, Ngestiharjo, Kasihan - Bantul.

 

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home