Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 08:18 WIB | Minggu, 04 Agustus 2019

Pameran Perupa Muda "Desire: Work + Play Art Now!"

Pameran Perupa Muda "Desire: Work + Play Art Now!"
Instalasi karya I Putu ‘kencut’ Adi Suanjaya dalam pameran “Desire: Work + Play Art Now!” di Bentara Budaya Yogyakarta, Jalan Suroto No 2 Yogyakarta. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
Pameran Perupa Muda "Desire: Work + Play Art Now!"
Revaldo Manullang (kiri) menjelaskan karyanya berjudul “Death on the Floor” kepada perupa Syahrizal Pahlevi (tengah) dan pengajar seni rupa ISI Yogyakarta Edi Sunaryo saat pembukaan pameran, Jumat (2/8).

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Mengawali bulan Agustus 2019, Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) menggelar pameran seni rupa bertajuk Desire: Work + Play Art Now!. Tujuh seniman-perupa muda yang tergabung dalam kelompok Omnivorart mempresentasikan 14 karya dua matra/lukisan dan 2 karya tiga matra.

Pameran dibuka oleh kurator-penulis seni rupa Kuss Indarto, Jumat (2/8) malam. Dalam sambutan ia menyampaikan pentingnya bagi seniman-perupa muda dalam menentukan pilihan berkeseniannya sebagai profesi atau pilihan hidup dengan segala konsekuensi yang menyertainya.

Ketujuh seniman-perupa muda tersebut adalah Kiki Juliansah dengan objek-objek tubuh manusia dalam timbunan lemak, Ipang Lasuang dalam citraan visual manusia kertas, metafora-metafora M. Puger, masa datang dalam surealisme-nya Rangga Jalu Pamungkas, figur-figur ganjil I Wayan Sudarsana, citraan monochrome realis-surealis Revaldo Manullang, serta permainan kata-metafora dalam karya instalasi tiga matra I Putu ‘kencut’ Adi Suanjaya.

Pembacaan seniman-perupa muda hari ini lebih dinamis ketika perkembangan teknologi-informasi yang begitu masif dalam dunia yang terhubung. Perkembangan tersebut dengan serta-merta memengaruhi cara pandang dan cara baca seniman-perupa muda atas realitas hari ini dan masa-masa berikutnya. Cepatnya isu bergulir pada saat bersamaan dalam kehidupan nyata justru realitas tidak jarang berkebalikan dengan isu yang berkembang menjadi wilayah bermain-main yang tidak ada habisnya bagi seniman-perupa muda hari ini.

Ipang Lasuang misalnya, dalam karya lukisan berjudul Tumbuh di Tengah Lautan Kering Bebatuan dengan keseluruhan objek-figur dalam bentuk lipatan-lipatan kertas. Ketika hari ini dunia sudah semakin mengarah paperless dalam banyak hal, Ipang justru melakukan pembalikan realitas kehidupan sebagai dunia kertas.

Dua karya Revaldo Manullang dalam citraan monochrome medium arang (charcoal) cukup menarik pengunjung untuk mencermatinya detail karya yang ada dengan figur perawat sebagai objek utamanya. Pada karya berjudul  Death on the Floor, Valdo membuat penggambaran perawat dalam dua peran yang berbeda: merawat kehidupan sekaligus malaikat pencabut kematian. Ini seolah menjadi sekuel kelanjutan karya Valdo berjudul Manusia rasa Malaikat yang pernah dipamerkan di Galeri RJ Katamsi ISI Yogyakarta beberapa waktu lalu.

Meskipun pernah dipamerkan dua tahun lalu di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri-UGM, karya tiga matra I Putu ‘kencut’ Adi Suanjaya berjudul Kaki di Kepala Kepala di Kaki masih menemukan relevansinya hari ini. Dalam bahasa yang cukup jenaka Kencut seolah sedang menyampaikan pesan antarwaktu: dunia memang berputar tetapi kita tidak perlu berputar.

Eksplorasi-eksperimentasi masih menjadi pilihan menarik bagi seniman-perupa muda dalam menuangkan ide-gagasan ke dalam sebuah karya mengingat mereka berada pada masa transisi analog-digital, yang justru menawarkan banyak pilihan tanpa harus dibebani kerumitan-kerumitan dan segala aturan yang kerap memerangkap mereka.

Cara pandang dan cara baca seniman-perupa muda hari ini akan mewarnai perjalanan kesenian di masa datang. Menariknya ketika mereka melakukannya dengan ringan bahkan terkesan sedang bercanda dengan realitas yang ada.

Pameran seniman-perupa muda berjudul “Desire: Work + Play Art Now!” berlangsung sampai tanggal 10 Agustus 2019 di Bentara Budaya Yogyakarta, Jalan Suroto No 2 Yogyakarta.

Editor : Sotyati

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home