Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 08:21 WIB | Rabu, 09 Januari 2019

Pameran Perupa Muda "Imagined Generation"

Pameran Perupa Muda "Imagined Generation"
Instalasi berjudul “My Baby/Hope” karya Feros Alvansyah Ramsy Siregar dalam pameran "Imagined Generation" di Galeri Langgeng Jl. Suryodiningratan No.37, Suryodiningratan Yogyakarta hingga 12 Januari 2019. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
Pameran Perupa Muda "Imagined Generation"
The Chaos Era Has Begun (Neo Aeon series) – cat minyak dan akrilik di atas kanvas - 275 cm x 140 cm - Rangga Jalu Pamungkas - 2017.
Pameran Perupa Muda "Imagined Generation"
If Sin is Forever, then Forgiveness will be Eternal – arang/charcoal di atas kanvas - 300 x 180 cm – Devaldo Manullang – 2017-2018.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Setelah mengawali tahun 2018 dengan menggelar pameran visual "Upcoming", pada penghujung tahun Langgeng Art Foundation (LAF) menggelar pameran bersama kelompok Omnivart bertajuk “Imagined Generation”. Pameran dibuka pada Sabtu (8/12). Sembilan perupa muda mempresentasikan karya dua-tiga matra.

Perkembangan teknologi-informasi yang begitu masif dalam dunia yang terhubung adalah realitas yang tidak terhindarkan banyak memengaruhi dan memberi warna pada cara baca dan cara pandang perupa muda hari ini. Bisa ditebak, medium-material sebuah karya menjadi semacam alat bantu alih media dalam menuangkan ide-gagasan dalam sebuah karya. Perupa muda hari ini menawarkan kebebasan eksplorasi tanpa harus terbebani oleh matra-matra dalam seni rupa. Batas-batas cabang-disiplin seni rupa semakin tipis bahkan hilang sama sekali.

Tengoklah upaya Feros Alvansyah Ramsy Siregar yang mereduksi dimensi karya tiga matra dalam medium porselen. Dalam dimensi tidak lebih besar dari 10 mili meter (mm) x 10 mm x 10 mm, mini karya Feros tetap menawarkan detail karya yang tetap bisa dinikmati dengan menggunakan kaca pembesar. Bisa dibayangkan bagaimana kesulitan Feros membentuk karya dengan figur delapan binatang gajah berukuran 5x5x5 mm. Karya land diorama Feros berjudul “Elephant”, “My Baby” dengan figur obyek bayi di atas telapak tangan, serta sea diorama berjudul “Whale” yang tidak lebih besar sebutir kacang tanah tetap bisa berbicara dalam kontek estetis-artistik.

Tawaran menarik lainnya adalah delapan lampu gantung (chandelier) karya Diah Retno Fitriani dalam medium earthenware (gerabah) berjudul “Lamda”. Diah Retno melengkapi lampu gantungnya dengan bohlam ultra violet sehingga desain embracing lamp-nya tidak dilewati cahaya dari bohlam yang meninggalkan bayangan pendaran cahaya di dinding ruang pamer, namun ditangkap oleh dinding-dinding lampu gantungnya dalam warna sesuai warna dinding lampu. Diah Retno tidak sekedar menawarkan sebuah konsep lampu gantung, namun sekaligus sebuah tawaran desain interior-eksterior manakala lampu tersebut diaplikasikan pada sebuah space. Begitupun Hermawan Khurosan dengan medium keramik yang diaplikasikan menjadi karya tiga matra dalam karya berjudul “Hipermarket”, “Sentimental”, dan “Egosistem”. Medium keramik telah beralih media menjadi karya isntalasi-tiga matra.

Karya dua matra dari enam seniman Omnivart ditata di studio 2 LAF. Mengeksplorasi jajan sarad sebagai unsur obyek karyanya, I Wayan Noviantara mempresentasikan dua karya berjudul “Saudaraku Menipu”, dan “Mencari Kesenangan” dalam medium cat akrilik di atas kanvas. Jajan sarad adalah nama sesaji yang terdiri dari susunan kue-kue yang besar melambangkan isi dunia atas, menengah, dan bawah. Dari aspek arti kata, sarad mengandung pengertian “sarat” (penuh). Sarad memberi gambaran tentang isi sepenuhnya dari arti dunia. Penggalian pada tradisi dilakukan Noviantara dalam tugas akhirnya saat menyelesaikan kuliah di ISI Yogyakarta dengan judul Jajan Saran sebagai Representasi Masalah Sosial dalam Penciptaan Karya Seni Lukis pada tahun 2017.

Penggalian pada tradisi-budaya dilakukan juga oleh Rangga Jalu Pamungkas dalam tiga karya lukisan seri Neo Aeon. Menggabungkan berbagai unsur tradisi-budaya, Rangga membuat karya lukisan berjudul “The Chaos has Begun”, Sembah Bekti Sang Hyang Widhi”, dan “Nyi Pohaci Pinarak Dhateng Swargi Enggal”.

Permasalahan sosial-lingkungan dipresentasikan I Wayan Sudarsana dalam karya lukisan “Eksploitasi Organik”, dan “Landscape kepala# 2 ''Memotong Nafas'' dalam medium cat akrilik di atas kanvas, sementara ketertarikan Putu Adi Suanjaya dengan obyek-obyek boneka dalam memperbincangkan peristiwa sosial-politik dan kehidupan sehari-hari dituangkan dalam karya “Connection to the another Mickey #1”, “Connection to the another Mickey #2”, dan “Hero in Future #2”.

Tiga lukisan panel berjudul “If Sin is Forever, then Forgiveness will be Eternal” dalam medium arang (charcoal) di atas kanvas menjadi dramatisasi atas kegelisahan Devaldo Manullang. Sebuah karya lukisan dipresentasikan M Irfan Ipan dalam medium cat akrilik di atas kain linen.

Dalam pameran “Imagined Generation”, sembilan seniman-perupa muda seolah menjadi gambaran bagaimana seni rupa hari ini di tangan generasi muda tidak lagi berjarak dalam banyak hal, terhubung dengan nilai-nilai lama-baru tanpa harus membebaninya bagi eksplorasi artistik-estetik.

Pameran "Imagined Generation" berlangsung di Galeri Langgeng Jl. Suryodiningratan No.37, Suryodiningratan Yogyakarta hingga 12 Januari 2019.

 

 

TOA
Bank Central Asia
Zuri Hotel
Back to Home