Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 12:41 WIB | Minggu, 10 Maret 2019

Pameran Perupa Muda “Tanete”

Pameran Perupa Muda “Tanete”
Pameran tunggal Abdul Kirno Tanda bertajuk “Tanete” di Parak Seni, Dusun Bodeh RT 03 RW 24, Desa Ambarketawang, Kecamatan Gamping – Sleman, 8 Maret - 15 April 2019. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
Pameran Perupa Muda “Tanete”
Abdul Kirno (kaus hitam) mendampingi L Ridwan Muljosudarmo menyaksikan karya berjudul “Cerita To Tanete” (kiri) dan “To Tanete” (kiri) dalam pembukaan pameran, Jumat (8/3) malam.
Pameran Perupa Muda “Tanete”
Kaki Ibu Terluka – cat akrilik di atas kanvas – 100 cm x 80 cm – Abdul Kirno Tanda – 2018.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Seniman-perupa muda Abdul Kirno Tanda mempresentasikan karya dua matranya di Parak Seni, Ambarketawang-Gamping, Sleman. Pameran bertajuk “Tanete” dibuka oleh pemilik Syang Art Space - Magelang, L Ridwan Muljosudarmo, Jumat (8/3) malam.

Empat puluh satu lukisan terbaru dalam berbagai medium dan ukuran dipamerkan Kirno sebagai bagian merekam proses berkarya sejak lulus dari ISI Yogyakarta tahun lalu, dengan mencoba menggali ingatan dan realitas atas kampung ibunya, sebuah desa bernama Tanete di Bulukumba, Sulawesi Selatan.

“Ini merupakan satu langkah baik. Langkah yang tepat untuk seniman muda mengawali kariernya. Harus berani melangkah berpameran. Pesan saya, ini adalah satu awalan dimana satu pameran (terlebih pameran tunggal) adalah hal yang penting. Anda akan dinilai. Apapun hasil dari pameran ini tidak penting. Keberanian untuk berpameran itu lebih penting, itu sudah satu poin tersendiri."

"Perjalanan masih panjang, jangan cepat puas diri karena dunia seni rupa bergulir sangat cepat. Seniman-perupa berlomba-lomba untuk menghasilkan karya yang lebih baik. Artinya ke depannya, karya-karya setelah ini harus juga lebih baik. Pencapaian-pencapaian dan prosesnya akan terus dinilai sejauh mana mampu berkembang. Ini berlaku untuk semua seniman, terutama seniman-perupa muda,” pesan Ridwan saat membuka pameran, Jumat (8/3) malam.

Jika diamati seniman-perupa muda di Yogyakarta dalam lima tahun terakhir mengalami geliat berproses yang cukup pesat-cepat jika dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya. Perubahan dan perbaikan kurikulum di bangku pendidikan sedikit banyak berpengaruh pada penguasaan teknik, pengenalan dan eksplorasi medium, hingga pembacaan wacana melalui dunia yang telah terhubung yang banyak membantu seniman.

Beruntungnya di wilayah Yogyakarta banyak ruang seni yang memberikan ruang bagi seniman-perupa muda untuk mempresentasikan karya seperti Parak Seni, Sangkring Art Sace, Sarang, serta tumbuhnya ruang-ruang seni baru turut mengambil peran bagi ruang presentasi karya seniman-perupa muda.

A Anzieb dalam tulisan kuratorial pameran menjelaskan bagaimana emosi Kirno yang selama ini sering meledak-ledak, kadang keras, kadang lembut, kadang menjadi peragu yang paling ulung mulai teredam di antara kata, sikap dan perbuatannya lewat garis-garisnya, ruang, warna, komposisi, tekstur dan lain-lain– membuat karya lukisannya seperti memasuki ruang puitis menjadi catatan perjalanan proses karya yang menarik.

Kontemplasi, perhentian, peluruhan rasa untuk tiba-tiba berlari cepat menembus realitas seolah menjadi eksperimen Kirno sekaligus naik-turunnya semangat bersenirupa yang dijalaninya hari ini. Hal tersebut terekam dalam goresan-goresan garis abstrak Kirno dalam citraan pastel, sebuah zona aman dalam wilayah bermain-main warna.

Setidaknya hal tersebut terekam dalam sebuah ruangan yang memajang karya berjudul Terkikisnya Alam, Bukit-bukit, Di Atas Bukit, Bergantinya Musim yang harus berbagi ruang dengan sebuah karya yang cukup kuat berjudul Kaki Ibu Terluka.

Secara keseluruhan Kirno mencoba merawat kenangan atas Tanete, kampung ibunya dalam citraan goresan garis abstrak. Sebuah pilihan yang cukup berani untuk seniman-perupa muda hari ini merekam alam sebuah kampung di kaki Gunung Lompobatang yang secara visual mungkin akan memancing seniman-perupa muda bermain-main dalam visual realis-surealis. Kirno lebih memilih dalam goresan yang abstrak. Tentu Kirno punya alasan tersendiri. Hanya satu karya dimana Kirno bermain-main dengan goresan figuratif-naif dalam karya berjudul To Tanete, orang-orang Tanete.

Dalam hal menyikapi dinamika sosial yang berkembang, sebuah karya berjudul Burung Berkabar bisa jadi menjadi pembacaan Kirno atas hiruk-pikuk suara di masyarakat hari ini. Kabar burung yang merujuk pada berita/kabar yang belum jelas kebenarannya tentu memiliki warna yang beragam, arah yang beragam, serta pembacaan/pemahaman makna yang beragam pula. Dalam Burung Berkabar, justru secara sederhana Kirno merekamnya dalam citraan monochrome hitam-putih.

Pameran seni rupa "Tanete" berlangsung hingga 15 April 2019 di Parak Seni, Dusun Bodeh RT 03 RW 24, Desa Ambarketawang, Kecamatan Gamping – Sleman.

Editor : Sotyati

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home