Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 09:35 WIB | Selasa, 17 September 2019

Pameran Perupa Muda "Un-Idea"

Pameran Perupa Muda "Un-Idea"
Karya tiga matra berjudul “The Last Generation” pada pameran "Un-Idea" di Nalarroepa Ruang Seni. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
Pameran Perupa Muda "Un-Idea"
Suasana pembukaan pameran "Un-Idea", Sabtu (14/7) malam.
Pameran Perupa Muda "Un-Idea"
Dari kiri ke kanan: “Tenang Semua Ada Penyelesaiannya”, “Boss Mau Liburan” (Teguh Sariyanto), “Sky Composition”, dan “Balance” (Rangga Aputra).

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Tiga belas seniman muda mempresentasikan karya dua-tiga matranya di Nalarroepa Ruang Seni. Pameran yang mengangkat tajuk “Un-Idea” dibuka oleh seniman-perupa Lugas Syllabus, pada Sabtu (14/9) malam.

Ketiga belas seniman-perupa muda tersebut adalah Andi Acho, Alif Edi Irmawan, Bernandi Desanda, Dewa Gede Suyudana Sudewa, Galih Wicaksono, Ignatius Pedo Raja, I Kadek Didin Junaedi, Khoirul Fahmi, Mutiara Riswari, Rangga Aputra, Santos, dan Teguh Sariyanto.

Selalu ada yang baru dalam hal visual karya seni. Inilah yang sering tertangkap dalam presentasi karya seniman-perupa muda hari ini. Setidaknya hal tersebut bisa dibaca dari pameran-pameran yang melibatkan perupa muda di Yogyakarta. Galeri-galeri seni banyak memberikan ruang bagi kaum muda mempresentasikan hasil proses karyanya.

Sebutlah Art Jog dimana ruang pamernya diisi oleh lebih dari separuhnya adalah seniman aplikasi dengan batas usia maksimal 35 tahun. Dalam empat tahun terakhir Sangkring Art Space setiap tahunnya memberikan satu space untuk Pameran Perupa Muda (Paperu). Hal yang sama dilakukan Festival Kesenian Yogyakarta yang tahun ini berganti menjadi Festival Kebudayaan Yogyakarta. Biennale Jogja XV-2019 secara khusus menjaring lima seniman/kelompok seni dari generasi muda melalui seleksi untuk melengkapi pameran seni rupa bulan Oktober nanti.

Di banyak ruang kolektif yang tersebar di berbagai wilayah Yogyakarta, selalu ada ruang bagi seniman-perupa muda untuk mempresentasikan karyanya. Tumbuhnya ruang-ruang baik yang tercipta secara mekanis maupun organis telah memberikan warna lain bagi perkembangan seni rupa Yogyakarta hari ini. Tantangannya justru bagaimana seniman-perupa muda merespons dan menangkap peluang ketika pintu masuk untuk berproses dibukakan.

“Un-Idea” yang diambil dari kata unity dan idea merupakan ikhtiar ketiga belas seniman-perupa muda mempertemukan keberagaman (karya, ide, proses) dalam sebuah pameran bersama. Dalam bingkai tersebut ada challenge di antara mereka bagaimana beradu ide-pemikiran yang dituangkan ke dalam karya tanpa harus mengalahkan satu sama lain. Realitas tersebut yang ingin coba diangkat oleh ketiga belas seniman-perupa muda tersebut. Artinya, dalam bingkai tersebut mereka mencoba membebaskan diri dari kebiasaan-kebiasaan yang kerap mereka lakukan sekaligus berbagi ruang presentasi-apresiasi.

Sebutlah Teguh Sariyanto yang baru masuk di departemen Patung jurusan Seni Rupa ISI Yogyakarta tahun ini. Teguh yang menggeluti Seni Lukis saat belajar di SMKN 3 Kasihan (SMSR Yogyakarta) dan sempat bekerja selama tiga tahun setelah lulus dari SMKN 3 Kasihan, justru memilih masuk jurusan Patung ISI Yogyakarta. Dalam pameran “Un-Idea”, Teguh mempresentasikan dua karya lukisan dalam gaya abstrak dan dekoratif-naif. Ulang-alik disiplin seni rupa menjadi wilayah eksperimen Teguh dalam karya berjudul “Tenang Semua Ada Penyelesaiannya” dan “Boss Mau Liburan”.

Eksperimen medium menjadi pilihan Mutiara Riswari dalam karya panel berjudul “Flowers for Healing” dan “Beauty Cry” menggunakan medium kanvas digabungkan dengan akrilik. Beberapa waktu Mutiara membuat eksperimen karya tiga dimensi cat akrilik di atas kaca berjudul “Reflection” yang digabungkan dengan pencahayaan dari arah dalam obyek lukisan (backlight).

Pada karya seri “Chopin”, Ignasius Pedo Raja membuat tiga lukisan dengan objek binatang kucing, banteng, dan zebra. Pada ketiga binatang tersebut Pedo Raja melukis binatang dengan mata hitam mengingatkan pada karya-karya pelukis Jeihan.

Dua karya tiga dimensi yang dipresentasikan oleh Andi Acho Mallaena cukup memiliki ‘daya ganggu’ bagi pengunjung. Dimensi yang tidak terlalu besar (di bawah 40 cm), komposisi warna yang cukup dramatis, serta objek yang disematkan ke dalam karya memaksa pengunjung untuk mendekat melihat detail karyanya.

Pada karya berjudul “The Last Generation”, Acho mengeksplorasi bentuk bunga bangkai (Amorphophallus titanum, Becc) yang sudah layu setelah mekar. Di atasnya Acho menambahkan objek dari resin bening berbentuk air ketuban yang belum pecah lengkap dengan janin bayi di dalamnya menyatu dengan mahkota bunga bangkai yang tidak jadi mekar. Apakah Acho sedang memotret fenomena aborsi yang begitu mudah dijumpai di masyarakat?

Jika Anda dengan begitu mudahnya menemui iklan dalam bentuk stiker putih yang ditempel di tiang-tiang listrik di pinggir jalan, di tiang lampu lalu lintas, ataupun di dinding-dinding pinggir jalan dengan tulisan “Telat Haid” disertai nomor telepon genggam yang bisa dihubungi hampir bisa dipastikan iklan layanan tersebut menyediakan jasa pengguguran kehamilan (abortus). Dalam sistem hukum yang berlaku di Indonesia mengenai tindakan aborsi, praktik penyediaan jasa tersebut adalah hal yang ilegal.

Menjadi ironi ketika hal tersebut masih banyak dijumpai di banyak ruas di wilayah Yogyakarta dan juga banyak kota di Indonesia. Ada benang merah antara maraknya perilaku seks bebas dan praktik aborsi ketika para pelaku seks bebas tersebut tidak siap menghadapi kenyataan bahwa hal tersebut berujung pada kehamilan yang tidak diinginkan.

Dilansir dari laman Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN-RI), angka aborsi di Indonesia pada tahun 2016 mencapai 2,4 juta per tahun. BKKBN mencatat, terjadi peningkatan sekitar 15 persen setiap tahunnya. Dari jumlah tersebut, 800.000 di antaranya dilakukan oleh remaja putri yang masih berstatus pelajar.

Fenomena larisnya aborsi ilegal dan tidak aman ini menunjukkan kurangnya edukasi mengenai bahaya aborsi. Dampak-dampak buruk aborsi ini tidak banyak diekspos kepada publik sehingga ketika mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, banyak perempuan mencari upaya yang dianggap mudah dengan melakukan aborsi, baik melalui obat-obatan yang dijual secara daring maupun cara-cara tradisional seperti pergi ke dukun beranak. Dan disadari ataupun tidak, tindakan aborsi telah membunuh satu kehidupan.

Sementara pada karya berjudul “A Warning Code”, dengan objek sayuran terong hijau (Sollanum melongena) yang meleleh terbakar. Di tangkal terong Acho menambahkan lukisan wajah manusia.

Pameran perupa muda bertajuk "Un-Idea" berlangsung hingga 26 September 2019 di Nalarroepa Ruang Seni, Dusun Karangjati RT/RW 05/XI Tamantirto Kasihan-Bantul.

Editor : Sotyati

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home