Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 00:48 WIB | Sabtu, 08 September 2018

Pameran "Reracik" di Bale Banjar Sangkring

Pameran "Reracik" di Bale Banjar Sangkring
Karya kolaborasi berjudul "The Color of Archipelago" (Prima Puspita Sari - Wahyu Sigit Rahadi) dalam pameran "Reracik" di Bale Banjar Sangkring, 5-21 Mei 2018. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
Pameran "Reracik" di Bale Banjar Sangkring
Karya kolaborasi "Petualangan Hana dan Naya bersama Rangu" (Donna Prawita Arissuta - Aliem Bakhtiar) dalam display instalasi tiga dimensi
Pameran "Reracik" di Bale Banjar Sangkring
Karya kolaborasi "Petualangan Hana dan Naya bersama Rangu" (Donna Prawita Arissuta - Aliem Bakhtiar) dalam display instalasi dua dimensi.
Pameran "Reracik" di Bale Banjar Sangkring
"Laba la Bala" - instalasi/videografi - Trien Iien Afriza & Fj. Kunting - 2018.
Pameran "Reracik" di Bale Banjar Sangkring
"Demi Masa" - terrarium - Nadiyah Tunnikmah & Endra A Winata - 2018.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Setelah pada bulan April lalu menggelar pameran "Pengilon" di Bentara Budaya Yogyakarta, seniman-perupa perempuan yang tergabung dalam kelompok Bumbon project kembali menggelar presentasi karya dalam pola kerja kolaborasi. Sebelas karya seni kolaboratif dipamerkan di Bale Banjar Sangkring. Pameran yang mengangkat tajuk "Reracik" dibuka Rabu (5/9) malam.

Kolaborasi Nadiyah Tunnikmah bersama Endra A Winata menghasilkan sebuah karya instalasi terrarium berjudul "Demi Masa" memanfaatkan material kaca, batu, pasir, lumut-paku/pakuan serta tetumbuhan dengan selembar kain putih di atasnya bertuliskan surat al-Ashr ayat: 1-3. Sebuah pesan yang universal: saling menasehati di dalam kebenaran dan saling menasehati di dalam kesabaran.

Dalam karya berjudul "Textile Architect", seniman tekstil Caroline Rika Winata bersama Irine Agravina membuat project karya dalam proses pewarnaan kain sebagai medium untuk pertumbuhan kristal. Sementara dalam karya "Dongeng dari Meja Makan" Tina Wahyuningsih dan Ikun SK saling merespon dan membuat narasi karya dari boneka karya Tina kedalam puisi Ikun dan sebaliknya, menjadi sebuah teks-konteks yang bercerita.

Apa kabar lagu anak-anak hari ini Balonku, Dua Mata Saya, Naik Delman, Kasih Ibu? Berangkat dari keprihatinan minimnya anak-anak menyanyikan lagu anak-anak saat ini mendorong Theresia Agustina Sitompul berkolaborasi dengan Tobi Buntaran membuat karya instalasi-fotografi-videografi berjudul "Ke Pantai".

Karya kolaborasi lainnya  "Laba la Bala"  (Trien Iien Afriza - Fj. Kunting), "Art Therapy" (Wahyu Wiedyardini - Syarif Hidayatullah),  "Rindu Waktu" (Utin Rini - Iffati Farihah), "Beast in Me" (Ayu Arista Murti - Tac Tic), "Elegi Senyap (Roeayyah Diana P - Stephanus Ari Laksono) yang ditata dalam satu-dua dinding sebagai sebuah cerita dan kesatuan karya.

Permasalahan lingkungan hidup menjadi project kolaborasi antara seniman-perupa G. Prima Puspita Sari bersama peneliti serangga capung Wahyu Sigit Rahadi. Dalam karya panel drawing di atas papan kayu berjudul "The Color of Archipelago" Prima Puspita membuat narasi-ilustrasi beberapa jenis capung yang hidup di Indonesia.

Kinjeng (capung/dragonfly) adalah jenis serangga yang menjadi indikator lingkungan yang sehat: tanah, udara dan air. Capung tidak bisa hidup di lingkungan yang kotor, terlebih pada wilayah yang memiliki tingkat polusi suara-udara dan air yang tinggi. Habitat dari kelompok serangga yang termasuk dalam keluarga Odonata ini terus berkurang seiring dengan menurunnya tingkat udara yang sehat dan sumber air yang bersih.

Menarik ketika Prima Puspita memberikan narasi  keanekaragaman capung di Indonesia berikut penyebarannya secara umum melengkapi drawing dari berbagai jenis capung. Di dunia terdapat 37 famili, 657 genus, dan 7.003 spesies capung. Di Indonesia sendiri tersebar sekitar 18 famili, 111 genus, dan sekitar 1.000-an spesies capung, serta di Pulau Jawa terdapat 16 famili, 88 genus, dan 177 spesies capung dimana 28 merupakan spesies endemik. Selain data-angka, Prima Puspita dan Sigit memberikan narasi tentang perilaku capung di alam.

Dunia anak-anak menjadi ketertarikan seniman keramik Dona Prawita Arrisuta yang berkolaborasi dengan pegrafis Aliem Bakhtiar  membuat karya kolaborasi berjudul "Petualangan Hana dan Naya bersama Rangu". Dalam figur dua anak kembar dan karakter binatang pada karya keramiknya, Dona menyusun sebuah dongeng dari naskah yang dibuat Aliem.  

Dalam hal penyajian karya, Dona menawarkan narasi karya secara menarik ketika membuat display karya instalasi keramik digabungkan dengan display karya keramik di dalam bingkai pigura dengan latar belakang ilustrasi drawing yang dibuatnya. Penempatan keramik di dalam pigura bisa menjadi karya yang berdiri sendiri maupun sebagai sebuah kesatuan karya kolaborasi.

Sebagai seniman grafis, Aliem Bakhtiar dikenal pula sebagai seniman yang peduli pada tumbuh-kembang dunia anak. Pada berbagai kegiatan seni-budaya Aliem kerap mengajak anak-anak untuk berpartisipasi. Tahun lalu pada Festival Gravitasi di Selondo, Ngrayudan-Ngawi, melalui dongeng Aliem mengajak anak-anak untuk terlibat dalam festival tersebut menjadi pasukan semut yang selalu mengingatkan para pengunjung untuk membuang sampah ada tempatnya. Melalui medium mendongeng, hal yang sama dilakukan Aliem pada Upacara Kebo Ketan tahun lalu di Sekaralas, Widodaren-Ngawi.

"Saya sebenarnya lebih tertarik berkolaborasi untuk membuat buku cerita anak. Saya sebagai penulis naskah dan ilustrasinya adalah seniman seperti Dona. Namun pada akhirnya saya membebaskan seniman untuk membuat tafsir atas teks naskah yang saya kirimkan," jelas Aliem dalam perbincangannya dengan satuharapan.com, Jumat (7/9). 

Selain lagu anak-anak, dongeng-cerita anak-anak pun saat ini sudah mulai berkurang. Budaya literasi yang bisa disampaikan dan dikembangkan secara oral melalui mendongeng hampir-hampir sudah jarang dijumpai. Naskah Aliem sendiri terdiri dari 26 narasi-ilustrasi teks dengan saling melengkapi karya keramik-drawing Dona.

Pameran kolaborasi "Reracik" di Bale Banjar Sangkring, Kampung Nitiprayan, Ngestiharjo-Bantul akan berlangsung hingga 21 September 2018.

 
Back to Home