Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 00:40 WIB | Rabu, 06 Juni 2018

Pameran Seni "Air Mata Api" di Bentara Budaya Yogyakarta

Pameran Seni "Air Mata Api" di Bentara Budaya Yogyakarta
Panel keramik berjudul "Rakus" karya Dyah Retno Fitriani pada pameran seni "Air Mata Api" di Bentara Budaya Yogyakarta, Jalan Suroto No. 2 Yogyakarta, 5-13 Juni 2018 (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi).
Pameran Seni "Air Mata Api" di Bentara Budaya Yogyakarta
Sketsa keramik "Catatan di Bulan Juni" - matra bervariasi - Apri Susanto - 2018.
Pameran Seni "Air Mata Api" di Bentara Budaya Yogyakarta
Keseimbangan - matra bervariasi - Sidik Purnomo - 2018.
Pameran Seni "Air Mata Api" di Bentara Budaya Yogyakarta
Burung dalam Sangkar - porselain, matra bervariasi - Feroz Alvansyah - 2018.
Pameran Seni "Air Mata Api" di Bentara Budaya Yogyakarta
Penuh dengan Bunga - tanah liat Malang, Sukabumi, Kasongan, Lombok Timur - matra bervariasi - Nisa'ul Khaeroty - 2018.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Delapan seniman-perupa muda menggelar presentasi karya di Bentara Budaya Yogyakarta. Dua puluh tiga karya tiga matra berupa keramik dipamerkan di ruang pamer BBY.

Pameran dibuka oleh seniman-perupa Koni Herawati. Dalam sambutannya Koni menjelaskan bagaimana potensi pengembangan karya keramik dengan beragam jenis tanah di Indonesia sebagai medium/material masih perlu digali maksimal. Selain itu berbagai teknik tradisional serta eksperimentasi teknik lainnya jarang diajarkan di bangku sekolah/kuliah bisa dipelajari di berbagai sentra kerajinan gerabah. Proses pengerjaan dan teknik menjadi ruang terbuka bagi pengembangan keramik selain konsep kreativitas karya yang masih belum dieksplor oleh seniman keramik.

"Jangan berpikir untuk mempunyai ruang pembakar (oven) dan studio, baru berproses karya. Manfaatkan apa yang ada di sekitar kita." pesan Koni pada kedelapan seniman muda saat pembukaan pameran. Selasa (5/6) sore.

Tema pameran "Air Mata Api" diambil dari material kedua pembuat keramik setelah tanah yaitu air sebagai katalis untuk membentuk tanah dalam kekerasan, ukuran, bentuk tertentu dan api sebagai elemen yang mangantarkan tanah lunak berkatalis menjadi sebuah benda/karya yang keras. Sementara mata menjadi gambaran kecermatan, kepekaan, dan kejelian seniman memadukan material, medium, teknik, proses, serta konsep menjadi sebuah karya yang bisa berbicara.

Anggapan harus memiliki studio sebelum berkarya menjadi kendala bagi seniman muda keramik dalam berproses karya. Harga yang mahal dari perlengkapan-peralatan seperti alat/kompor pembakar (burner), ruang bakar, serta peralatan pembentuk masih menjadi
"momok" bagi seniman keramik. Meski begitu kondisi tersebut memacu beberapa seniman muda untuk bereksperimen memanfaat keterbatasan tersebut, Apri Susanto salah satunya. 

Dalam beberapa tahun terakhir Apri banyak membuat riset-eksperimen yang secara teratur dicatat dan diarsipkan. Pada karya berjudul "Catatan di Bulan Juni" Apri membuat eksperimen di atas tujuh panel lempengan tanah liat dengan perlakuan yang berbeda mulai penggunaan glasier, warna, tambahan material lain, temperatur pembakaran, hingga desain.

"Ini menjadi semacam sketsa bagi karya lukisan atau karya seni lainnya. Eksperimen tersebut menjadi catatan yang bisa saya gunakan pada proses-proses di masa datang," jelas Apri pada satuharapan.com.

Eksperimen lain dilakukan Apri dengan pembakaran keramik menggunakan kayu bakar. Hasilnya pada karya berjudul "Memecah Kesunyian", permukaan karya keramik menjadi tidak clean akibat dari pengaruh pembakaran karbon dari kayu yang turut terserap dalam material-medium keramiknya. Efek yang ditimbulkan dari penggunaan kayu bakar tersebut secara artistik berbeda dengan pembakaran yang menggunakan gas: kesan antik pada karya keramik.

Eksperimen lain dilakukan oleh Nisa'ul Khaeroty yang membuat keramik menggunakan material tanah dari berbagai daerah Malang, Sukabumi, Kasongan, serta daerah asalnya Lombok Timur pada karya "Penuh dengan Bunga", "Mengalir", dan "Hydragea". Material tanah dari Lombok adalah eksperimen yang pertama kali dilakukan seniman keramik. Sejauh ini di daerah asalnya material tanah hanya digunakan dalam pembuatan gerabah untuk perabotan sehari-hari.

Dalam hal konsep, Sidik Purnomo pada tiga karyanya telah menyentuh hal tersebut meskipun belum tergambar secara menyeluruh. Dibanding sebatas karya keramik, karya berjudul "Silau Atap" justru telah menjadi sebuah karya instalasi yang menarik. Hal yang sama dibuat Sidik pada karya "Berpusat" dan "Keseimbangan".

Enam karya Feroz Alvansyah dalam ukuran sangat kecil secara detail pengerjaannya dapat dilihat dengan bantuan kaca pembesar. Bisa dibayangkan bagaimana miniatur "Mahatma Gandi", "Burung dalam Sangkar", "Tyranosaurus Rex", "Tengkorak di atas Tangan", "Sidharta Gautama", "Baby 1,2,3" dalam dimensi kurang dari 2 cm tetap menampilkan detailnya adalah buah kejelian kerja  mata. Melengkapi karyanya, Feroz membuat karya multimedia tentang dokumentasi proses karyanya.

"Dalam beberapa tahun terakhir ada geliat menarik dari seniman-perupa muda yang mengeksplorasi keramik sebaga karya (seni). Dari karya yang tersaji (pada pameran), material, medium, dan proses menjadi ruang eksperimen seniman muda. Mereka tinggal menambahkan konsep karya dalam sebuah narasi didalam penyajiannya. Ini penting agar karya-karya (keramik) mereka bisa lebih berbicara," jelas kurator pameran Hendra Himawan dalam perbincangannya dengan satuharapan.com.

Dari sisi teknik dan kebentukan, kedelapan seniman telah mampu menguasai. Hanya saja karya belum banyak mengajak pengunjung untuk berdialog. Narasi pameran seolah hanya terhenti pada eksekusi material serta display pemindahan karya. Karya-karya yang tersaji lebih banyak berbicara tentang teknik/material/medium dan belum menyentuh pada konsep. Sebenarnya hal tersebut bisa disiasati dengan memberikan ilustrasi karya dalam sebentuk tulisan ringkas tentang proses, konsep, melengkapi caption yang ada.

Pameran seni rupa "Air Mata Api" yang merupakan kerjasama Incopro dengan BBY akan berlangsung hingga 13 Juni 2018 di Bentara Budaya Yogyakarta, Jalan Suroto No. 2 Yogyakarta.

 

Back to Home