Google+
Loading...
SAINS
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 13:29 WIB | Selasa, 10 September 2019

Pameran Seni Botani "Ragam Flora Indonesia" di Bale Banjar Sangkring

Pameran Seni Botani "Ragam Flora Indonesia" di Bale Banjar Sangkring
Pameran seni ilustrasi botani bertajuk "Ragam Flora Indonesia 2" di Bale Banjar Sangkring, 6-13 September 2019. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
Pameran Seni Botani "Ragam Flora Indonesia" di Bale Banjar Sangkring
Umbi-umbian untuk Ketahanan Pangan Alternatif Multifungsi – cat air di atas kertas – 88 cm x 65 cm – Karyono Apic.
Pameran Seni Botani "Ragam Flora Indonesia" di Bale Banjar Sangkring
Mantangan, sang Pionir Lokal yang Ganas - (paling kiri) – pensil dan arang di atas kertas - 42 cm x 59 cm – Ichsan Suwandhi – 2019.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Sebanyak 71 drawing-painting dalam berbagai medium di atas kertas dengan objek flora asli Indonesia dipamerkan di Bale Banjar Sangkring. Pameran yang mengambil tajuk “Ragam Flora Indonesia 2” dibuka oleh pengajar jurusan Seni Rupa ISI Yogyakarta, Suwarno Wisetrotomo, Jumat (6/9) sore.

Detail objek, inilah yang dipresentasikan oleh 36 peserta pameran yang berasal dari berbagai kota bahkan luar negeri. Bagi mereka yang berkecimpung di dunia botani ataupun berlatar pendidikan pertanian, drawing dengan objek tumbuhan bukanlah hal yang asing saat mereka harus membuat tugas herbarium dan mengalihmediakan ke dalam kertas.

Herbarium (jamak: herbaria) adalah kumpulan spesimen tanaman yang diawetkan dilengkapi dengan data terkait tanaman tersebut yang digunakan untuk studi ilmiah. Dalam bingkai tersebut sebuah herbarium mensyaratkan adanya detail objek dalam proposi dan komposisi yang benar, disertai data pendukung taksonominya, meliputi klasifikasi dan sistematika tumbuhan. Dalam pendekatan tersebut, pengalihmediaan herbarium menjadi sebuah karya seni rupa memiliki nilai sains.

Kepada satuharapan.com Senin (9/9), salah satu peserta pameran Ichsan Suwandi yang juga pengajar pada program studi Rekayasa Kehutanan Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati – Institut Teknologi Bandung (SITH-ITB) menjelaskan bahwa herbarium sebagai ilustrasi botani memiliki nilai saintis. Ilustrasi botani merupakan metode mengenal tumbuhan yang digambarkan secara langsung dalam tiap unit sesuai karakteristiknya dan dibuat sedetail mungkin.

“Untuk keperluan tersebut, objek harus asli dalam kondisi segar dan dibuatkan sketsa awal di tempat tumbuhnya. Ini untuk mengumpulkan data terkait spesimen tersebut sebanyak-banyaknya agar tidak hilang. Eksplorasi berikutnya dengan bantuan foto yang lebih detail, ilustrasi botani bisa dibuat sesuai kebutuhan. Bisa dalam citraan hitam-putih ataupun berwarna. Dibuat pembesaran dalam komposisi-proporsi yang benar,” jelas Ichsan Suwandhi.

Dengan detail yang benar, ilustrasi botani yang dilengkapi dengan data taksonominya menjadi media edukasi yang efektif yang pada gilirannya bisa digunakan sebagai pangkalan data (database) flora untuk berbagai keperluan.

“Dengan data yang ada meliputi nama jenis lokal dan ilmiah berikut identifikasi tumbuhannya, habitat, karakter, kegunaan, dan data pendukung lainnya, ilustrasi botani bisa digunakan untuk pemetaan persebaran sekaligus pelestarian keanekaragaman hayati yang kita miliki,” Ichsan menambahkan

Tiga karya ilustrasi Ichsan dalam medium pensil dan arang di atas kertas secara visual bisa jadi terlihat sederhana. Namun, dalam pemilihan judul caption karya, Ichsan memberikan pesan dan ajakan yang kuat bagi kegiatan edukasi maupun pelestarian biodiversitas Indonesia.

Ilustrasi yang dibuat Ichsan berjudul “Mantangan, sang Pionir Lokal yang Ganastentu akan menyisakan tanya bagi pengunjung. Akibat penebangan pepohonan besar di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) menyebabkan terjadinya perambahan biologis oleh mantangan (Merremia sp). Mantangan yang merupakan tumbuhan asli setempat menjadi invasif karena penebangan pepohonan besar membuka kanopi yang sebelumnya menghalangi sinar matahari.

Sifat mantangan yang tumbuh cepat dan minim predator membuat tanaman ini mendominasi, menggusur satwa liar, mengancam biodiversitas, hingga meningkatkan konflik manusia dan satwa. Setidaknya mantangan menjadi pesaing utama bagi pertumbuhan tanaman khas TNBBS bunga rafllesia (Rafflesia arnoldii) dan bunga bangkai (Amorphopallus sp) serta tanaman yang menjadi sumber pakan badak sumatera.

Bekantan (Nasalis larvatus) atau biasa disebut dengan monyet belanda dengan ciri khas hidup panjang dan besar sebagai satwa endemik Kalimantan terancam kehidupannya ketika zonasi mangrove di sana makin hari makin menyempit akibat maraknya penebangan vegetasi di zona mangrove. Dalam ilustrasi botani sederhana bunga, buah, dan daun pedada (Sonneratia caseolaris (L) Eng), Ichsan memberikan judul “Pedada, Sang Tumpuan Hidup Bekantan.

Mengutip hasil penelitian pakar primata Fakultas Kehutanan IPB Hadi S Alikodra, secara tak sadar, hidup manusia bergantung pada bekantan. Sebab, keutuhan habitatnya turut menunjang kehidupan manusia yang ada di sekitarnya maupun di seluruh dunia. Hutan mangrove yang menjadi habitat bekantan adalah penyerap karbon yang cukup tinggi.

Dalam karya ilustrasi botani “Kendal, bukan sekedar nama kota di Jawa Tengah, dengan visual pohon, buah, dan daun kendal (Cordia dichotoma G. Fosrt), Ichsan mencoba membawa imajinasi pada sebuah pepohonan yang mungkin hari ini masyarakat Kabupaten Kendal-Jawa Tengah pun sudah tidak mengenalnya.

Upaya mengenalkan kembali ragam botani Indonesia kepada pengunjung juga dilakukan oleh seniman Karyono Apic dalam karya ilustrasi botani berjudul “Umbi-umbian untuk ketahanan Pangan Alternatif Multifungsi melengkapi ilustrasi botani pada tanaman gadung (Disocorea bulbifera, Disocorea hispida, dan Disocorea alata).

Pameran seni ilustrasi botani bertajuk "Ragam Flora Indonesia 2" di Bale Banjar Sangkring, Kampung Nitiprayan, Ngestiharjo-Bantul berlangsung hingga 13 September 2019.

Editor : Sotyati

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home